Selasa, 21 Mei 2024

INI PENTING BANGET GAEZ..! Agus Widjojo: Tulis Ulang Sejarah 1965, Semua Harus Terlibat dan Jujur

JAKARTA- Sebuah tragedi tindakan kekerasan yang menyangkut pelanggaran HAM berat pada akhirnya akan tuntas ketika semua pihak terlibat dalam penulisan narasi sejarah. Hal ini disampaikan, Agus Widjojo, Anak salah satu pahlawan revolusi korban Tragedi 1965, Mayjen TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo dalam sebuah wawancara disebuah media nasional dan dikutip Bergelora.com, Senin (30/1) menjawab soal rencana penulisan ulang sejarah tragedi pelanggaran HAM berat 1965.

“Untuk menuju ke situ, harus ada sebuah kesepakatan bersama tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Jangan sampai penulisan sejarah hanya merupakan penulisan dari pernyataan satu pihak,” tegas Letjen (Purn) Agus Widjojo.

Mantan Gubernur Lemhanas ini mengingatkan penulisan ulang sejarah harus dicari metodologinya bagaimana dan satu-satunya cara ialah melalui rekonsiliasi yang merupakan sebuah bentuk kesepakatan pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah proses pengungkapan kebenaran.

“Konkretnya, kalau kita bicara soal PKI, korban yang mengeklaim dirinya sebagai korban dari tindakan kekerasan negara. Mereka tidak pernah menarik kejadian ke belakang sebelum tahun itu karena Peristiwa 1965 itu ada kaitannya dengan tindakan PKI sebagai organisasi sebelum 1965,” ujarnya.

Dubes Filipina ini menjelaskan, sejak Indonesia merdeka, PKI melakukan tindakan kekerasan, bahkan pembunuhan.

“Itu yang tidak pernah mereka singgung, artinya tidak jujur,” katanya.

Negara juga menurutnya perlu mengklarifikasi tentang jumlah korban yang dirugikan atau kehilangan nyawa selama epilog pascaperistiwa, hingga
periode ketika mereka yang dirampas hak dasar dalam tahanan Pulau Buru. Ini yang vakum sampai sekarang,” ujarnya.

Hambatannya menurut Agus Widjojo, tiap pihak hanya berupaya menerjang pihak lawan yang dihadapi. Maksudnya, semua mengaku sebagai korban dan lawannya ialah yang bersalah. Padahal, pengungkapan kebenaran itu bukan untuk menunjuk siapa yang salah, melainkan intinya ialah introspeksi kepada diri apa yang telah dilakukan.

“Mari kita berdamai dengan masa lalu. Tiap-tiap pihak harus dengan jujur memberi keterangan dan melakukan introspeksi sehingga tercipta panggung yang terang benderang. Bukan hanya tentang siapa yang salah dan siapa korban, melainkan juga tentang apa yang salah, mengapa kita sebagai bangsa mampu saling membunuh untuk waktu yang berkesinambungan dan menyembunyikan peran itu. Itu yang selama ini terjadi,” ujarnya.

Agus Widjojo adalah putra dari salah satu Pahlawan Revolusi yakni, Mayjen TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo yang gugur pada peristiwa G30S. Selama pengangkatannya sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (SESKO TNI), sebuah wadah pemikir TNI, Agus Widjojo ikut mempelopori restrukturisasi doktrin politik dan keamanan TNI. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru