Sabtu, 29 Agustus 2026

JANGAN ADA YANG TERTINGGAL MEN..! Wamensos Jabo: Negara Jemput Anak Keluarga Miskin Untuk Putus Kemiskinan

JAKARTA – Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono mengatakan negara menjemput anak dari keluarga miskin untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.

Agus Jabo Priyono dalam keterangan diterima Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (29/8) mengatakan Sekolah Rakyat secara khusus menyasar anak dari keluarga miskin pada desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Kalau desil 1 belum memenuhi, baru ke desil 2. Jadi maksimal desil 2,” kata Agus Jabo saat menerima audiensi Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu dan Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan Anang Armunanto di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, kemiskinan tidak cukup ditangani melalui bantuan sosial, tetapi juga harus diputus dari sumbernya melalui investasi pada pendidikan berkualitas.

“Jadi, tujuannya untuk memutus transmisi kemiskinan antar-generasi lewat pendidikan. Pak Presiden Prabowo maunya begitu. Pak Presiden tidak mau kalau orang tuanya miskin, anaknya ikut miskin,” kata dia.

Ia menjelaskan anak-anak dari keluarga miskin tidak hanya menghadapi keterbatasan ekonomi, tapi juga berpotensi menghadapi persoalan gizi, sanitasi, kepercayaan diri, serta lingkungan sosial yang kurang mendukung.

“Negara menjemput orang-orang miskin ini sejak dini supaya anak-anak ini tidak hidup dalam lingkungan kemiskinan,” kata Agus Jabo.

Saat ini, menurut Agus Jabo, masih terdapat sekitar 4,1 juta anak yang belum mendapat akses pendidikan. Sementara kemampuan penyediaan pendidikan di Sekolah Rakyat pada tahun ini baru sekitar 43 ribu siswa.

“Targetnya di 2029 ada 1 juta siswa. Jadi untuk memenuhi target 4,1 juta itu masih panjang,” kata Agus Jabo.

Untuk mengejar target tersebut, pemerintah mendorong daerah mempercepat kesiapan lokasi Sekolah Rakyat. Salah satu daerah yang menyiapkan lokasi Sekolah Rakyat adalah Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara.

Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas 8,6 hektare di Simaeasi, Kecamatan Mandrehe.

Eliyunus mengatakan Sekolah Rakyat sangat dibutuhkan masyarakat Nias Barat, karena angka kemiskinan di daerah itu masih tinggi. Dari sekitar 97.856 jiwa penduduk, 22,47 persen masih berada dalam kategori miskin.

Selain Nias Barat, Pemda Kabupaten Grobogan, menyiapkan lahan seluas 6,75 hektare di Kelurahan Kalongan, Kecamatan Purwodadi dan berada di kawasan permukiman perkotaan dan memiliki dukungan infrastruktur yang memadai.

Lokasi juga dekat dengan rumah sakit dan pusat pemerintahan kabupaten, kata Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan Anang Armunanto.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Tenaga Ahli Menteri (TAM), Agustinus Budi, Alif Kamar, Virgo Sulianto, Hendri Kurniawan, Dardo Pratisyo, Sekber Sekolah Rakyat, Herman Koswara, Plt Direktur PSKB Masryani Mansyur, Kepala Dinsos Grobogan Indri Agus Velawati, dan Baperinda Grobogan Wahyu.

Kampus Harus Jadi Kekuatan Sosial untuk Putus Rantai Kemiskinan

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono dan Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria. (Ist)

Sebelumnya, Agus Jabo Priyono, SH mendorong Universitas PGRI Ronggolawe Tuban untuk mengambil peran strategis dalam memutus kemiskinan di Indonseia.

Pesan tersebut ia sampaikan ketika menjadi Keynote Speakers dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat ke 11 tahun 2026 Universitas PGRI Ronggolawe, Kamis 27 Agustus 2026.

Menurut Agus Jabo, Unirow tidak boleh hanya berkutat pada pencapaian akademik, peningkatan jumlah lulusan, maupun publikasi ilmiah. Namum harus mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan perubahan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

“jangan tanya berapa mahasiswa yang diwisuda, tetapi tanyalah berapa banyak ilmu pengetahuan yang berkontribusi bagi masyarakat” Ujar Agus Jabo yang disampaikan via daring.

Ia juga menilai, Unirow memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional. Karena kampus Ronggolawe saat ini telah memiliki sumberdaya intelektual, kemampuan riset, serta jejaring akademik yang diarahkan untuk menjawab persoalan sosial yang muncul.

Agus Jabo juga mengingatkan bahwa pesoalan kemiskinan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi saja. Namun juga berkorelasi dengan kemiskinan struktural. Ia juga menyoroti kecendrungan anak dengan orang tua berpendidikan rendah, berpotensi memilik tingkat pendidikan yang tidak jauh berbeda.

“Hampir 64% anak dari orang tua yang berada dalam garis kemiskinan berpotensi mewarisi kemiskinan struktural. Sementara anak dari orang tua berpendidikan rendah cenderung memiliki tingkat pendidikan yang sama,” ucap Wamen dengan nama Medsos Gus Jabo.

Lebih jauh lagi, ia juga menyoroti peran perguruan tinggi dalam menyongsong generasi emas tahun 2045.

Menurutnya, kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan pendidikan tinggi dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi perubahan zaman.

“Berbicara tentang PT, kita sedang berbicara tentang kemajuan bangsa. Kita butuh generasi tangguh dan berkarakter yang benar-benar siap menghadapi situasi yang selalu berubah,” imbuhnya.

Menanggapi pernyataan Wamensos, Rektor Unirow, Prof. Warli, M.Pd, mengatakan, Unirow siap mengambil peran strategis dalam mendukung arah pembanguan nasional melalui pengutan riset, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menghasilkan inovasi sekaligus membangun karakter mahasiswa agar memiliki daya saing dan ketangguan.

Rektor berharap melalui momen SNasPPM ke 11 akan menjadi ruang untuk menyampaikan dan menyerap aspirasi yang dapat dirumuskan menjadi rekomnedasi strategis bagi pembangunan nasional.

Warli juga menyoroti bonus demografi ketika Indonesia memasuki usia kemerdekaan yang ke-100 pada tahun 2024. Dimana Jumlah penduduk usia kerja mendominasi dibandingkan kelompok usia tanggungan.

Namun, bagi Warli bonus demografi juga bisa menjadi tantangan mana kala generasi muda tidak memiliki kompetensi, karakter serta kesiapan dalam menghadapi perubahan global.

“Ini akan menjadi berkah apabila generasi muda mendapatkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan memiliki daya saing tinggi. Namun, ia akan berubah menjadi beban jika generasi muda tidak memiliki potensi serta kesiapan dalam menyikapi dinamika perubahan dan perkembangan global yang semakin kompleks,” ucap Warli.

SNasPPM XI yang mengusung tema “Peran strategis pendidikan tinggi untuk membangun generasi tanguh menuju Indonesia emas 2045” selain diikuti oleh 192 pemekalan dari 17 Perguruan Tinggi yang tersebar di 9 Provinsi, juga dihadiri oleh Ketua dan Pengawas PPLP-PT PGRI Tuban.

Seminar yang mengangkat Topik Pendidikan, Sains, Ekonomi dan Bisnis, Sosial Humaniora Seni Budaya, Kemaritiman, Pertanian dan Pangan, Kesehatan dan Obat dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Juga diisi dengan orasi ilmiah dari Prof. Amin Setyoleksono, S.Si, M.Si, Ph.D, dengan Judul Perguruan Tinggi Sebagai Kekuatan Intelektual, Inovasi, dan Pemberdayaan yang Ikut Memutus Rantai Kemiskinan dan Membangun Manusia Indonesia yang Tangguh.

Orasi ilmiah lain juga disampaikan Dr. Dumiyati, M.Pd, mengenai Transformasi Manajemen Pembelajaran di Sekolah Dasar Melalui Integrasi Pendekatan Mindful, Meaningful, Joyful Learning (MMJ) dengan Multimedia Interaktif Berbasis ICT Untuk Membangun Keterampilan Kolaborasi dan Kreativitas Murid Menuju Generasi Tangguh Indonesia Emas 2045.

Sementara Hesti Kurniahu, M.Si, memaparkan gagasan mengenai Pendekatan Partisipatif dalam Konversi Sampah Terpadu Menuju Komunitas Tangguh Iklim.

Melalui SNasPPM XI, Unirow menegaskan komitmennya untuk menjadikan pendidikan tinggi tidak berhenti pada produksi pengetahuan, tetapi mendorong pengetahuan tersebut menjadi kekuatan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles