Kamis, 29 Februari 2024

Jangan Halangi Generasi Muda Belajar Sejarah Yang Benar

JAKARTA- Sudah saatnya sekolah-sekolah mengajarkan sejarah yang benar pada generasi muda, bukan sebaliknya malah memberangus buku-buku ilmu pengetahuan sejarah dan ilmu Marxisme seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Hal ini disampaikan oleh Bonnie Setiawan dari International People’s Tribunal (IPT) 1965.

“Untung masih ada Menkopolhukam, Pak Luhut Panjaitan dan Gubernur Lemhanas, Pak Agus Widjojo yang masih berpikiran jernih dan sehat. Buku adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Memberangus buku adalah juga memberangus ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Menurutnya pemberangusan buku-buku bertentangan dengan peradaban dan kebudayaan umat manusia yang selalu mencari kebenaran. Seharusnya Indonesia bisa maju, namun sikap anti ilmu pengetahuan seperti yang terjadi belakangan akan menghambat kemajuan di Indonesia.

“Memberangus buku hanya dilakukan di jaman kegelapan, dilakukan oleh orang-orang fanatik yang bodoh saat itu. Masak terjadi sekarang? Berlawanan dengan peradaban dan kebudayaan,” jelasnya.

Bonnie Setyawan menyayangkan jika masih ada pejabat negara atau tokoh masyarakat yang masih ketakutan untuk membaca buku-buku marxisme atau menghalangi pengungkapan kebenaran sejarah bangsa Indonesia dalam Tragedi 1965

“Justru sekaranglah saatnya memperbaiki, kurikulum sejarah kembali sesuai semangat perjuangan revolusioner 1945. Departemen pendidikan harus segera merevisi dan melakukan penulisan ulang terhadap buku sejarah nasional. Selama ini, sejarah menjadi tidak menarik, karena masih versi Orde Baru dan kolonial, tidak memberi rasa bangga dan percaya diri pada bangsa ini. Wajar kita jadi bangsa seperti ini,” ujarnya.

Saat inilah menurut Bonnie Setiawan, anak-anak muda mau kembali mempelajari sejarah bangsanya. Dengan kemajuan tehnologi, semua ilmu Marxisme dan sejarah Tragedi 1965 dapat dicari di Internet.

“Sehingga pemberangusan, pelarangan dan ketakutan justru akan meningkatkan niat belajar generasi muda pada sejarah tanpa ada yang bisa menghambat. Lama kelamaan generasi muda akan kehilangan kepercayaan dan hormat pada generasi tua. Karena dianggap memalsukan sejarah dan menutup kebenaran,” ujarnya.

Ahli Komunis

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Panjaitan menilai sikap pejabat Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang mendukung pelarangan buku-buku marxisme dan komunisme terlalu berlebihan. Pemberangusan buku-buku berisi pemikiran kiri tersebut tidak boleh terjadi di era demokrasi sekarang.

“Wah saya kira tidak perlu begitu. Itu perpustakaan dimana-mana, silahkan saja (ada koleksi buku-buku pemikiran kiri). Jangan sampai eksesif lah,” kata Luhut saat dikonfirmasi wartawan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat‎ (20/5).

Luhut menjelaskan, buku-buku tentang marxisme, leninisme, komunisme tidak boleh diberangus di dunia akademik. Sebab buku-buku tentang pemikiran kiri itu di ruang akademik merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang bebas dikaji secara ilmiah.‎

“Kontek akademis tidak masalah, masa di ranah akademis orang tidak boleh mengkaji? Nanti lama-lama kita jadi bodoh, kita tidak tahu komunis yang mana,” ujar dia.

Bahkan, kata dia, di ranah akademik juga perlu ada pakar pemikiran kiri. Oleh sebab itu ia menghimbau agar semua kalangan agar tidak phobia terhadap faham komunis.‎ Sebab, dalam sejarahnya hingga sekarang tidak ada satu negara pun yang berideologi komunis yang berhasil. Artinya tidak perlu dijadikan sebagai sebuah momok.

“Harus ada expert (ahli) komunis dong, jangan terlalu paranoid juga, nanti kayak Amerika kita paranoid ‎tentang teroris. Jangan begitu juga. Komunis itu mana sih yang sukses, bahwa itu bahaya laten iya, tapi kami harus bisa mencari sekarang aquilibriumnya,” kata dia. (Web Warouw)

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru