YOGYAKARTA- Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) punya dekan baru. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum., Dekan Fakultas Filsafat ke-22 diharapkan kembali menjadi pelopor dan motor penggerak perubahan. Demikian Hari Subagyo, alumni Fakultas Filsafat angkatan 1986 menegaskan dalam rilisnya yang diterima Bergelora.com di Yogyakarta, Kamis (7/10).
“Saat ini yang dibutuhkan bangsa ini adalah gerakan nyata Pancasila kembali ke ajaran-ajaran Soekarno yang memperjuangkan penghapusan l’exploitation de l’homme par l’homme secara nyata,” tegasnya.
Saat ini menurutnya di tengah arus globalisasi, ajaran Soekarno yang mendasari Pancasila menjadi strategis bagi masa depan Indonesia, menantang apakah bangsa ini sanggup menuntaskan cita-cita proklamasi segera maju menuju masyarakat adil dan makmur, ataukah akan hancur berkeping sebagai negara gagal.
“Dekan Titik sewaktu mahasiswa pernah berada ditengah kancah perlawanan mahasiswa melawan Orde Baru. Sekarang tugasnya adalah kembali menjadikan Fakultas ini sebagai fondasi kebangkitan Pancasila yang sejati, sesuai ajaran Bung Karno yang kembali berjuang bersama rakyat menuju Indonesia modern,” tegasnya.
Hari Subagyo mengingatkan bahwa Fakultas Filsafat UGM pernah menjadi laboratorium Pancasila yang melahirkan butir-butir Pancasila menjadi doktrin dimasa Orde Baru.
“Namun dari Fakultas Filsafat juga kritik terhadap Orde Baru menjadi cikal bakal gerakan perlawan mahasiswa dan rakyat melawan l’exploitation de l’homme par l’homme,” jelasnya.
Menurut Hari Subagyo yang pernah memimpin gerakan kaum tani melawan Orde Baru, mengatakan,– saat ini Fakultas Filsafat kembali dipanggil untuk perubahan besar dan mendasar menentukan arah bangsa ini.
“Fakultas ini harus kembali menjadi motor, menjadi penerang dan batu penjuru Pancasila secara nyata, bukan abal-abal, bukan lipservice atau sekedar penghias ruang hampa di tengah penderitaan rakyat,” tegasnya.
Pelantikan Doktor Titik
Sebelumnya, Jumat, 8 Oktober 2021, pagi di Ruang Balai Senat Lantai 2 Gedung Pusat Balairung UGM Yogyakarta, Rektor Prof. Ir. Panut Mulyono melantik 18 Dekan Fakultas dan 1 Kepala Sekolah Vokasi masa bakti 2021-2026.
Pelantikan dan penetapan ini memuncaki serangkaian perjalanan panjang dalam proses kontestasi dan tahap pemilihan oleh tim panitia Universitas terhadap para pejabat Dekan terseleksi.
Satu dari 18 dekan terseleksi ini Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum., Dekan Fakultas Filsafat ke-22 sejak lembaga berdiri mandiri tahun 1955.
Siti Murtiningsih atau disapa Titik menggantikan Dekan sebelumnya Dr. Arqom Kuswanjono.
Doktor Titik memulai studi pada 1990 yang semasa kuliah S1 aktif dalam pers mahasiswa Majalah PIJAR Fakultas Filsafat, marching band dan beragam kegiatan lain.
Fakultas Filsafat UGM adalah satu-satunya di antara universitas umum di Indonesia, di luar lembaga pendidikan tinggi keagamaan seperti Universitas Islam Negeri di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan perguruan swasta lain, di mana statuta pendirian menegaskan sebagai Fakultas. Di kampus-kampus lain kebanyakan peminatan masih dalam status program studi (prodi).
Menjawab Problem Rakyat
Sementara itu, Johnsony Marhasak Tobing alumni angkatan 1986 juga mengatakan, dengan bekal luasnya networking di dalam dan luar negeri, kepemimpinan baru Fakultas yang sudah merayakan Dies Natalis ke 54 ini ditantang mengambil peran kunci dalam mengembangkan diskursus keindonesiaan makin aplikatif terhadap kemajuan teknologi dan infokom.
“Tidak saja menyangkut narasi kebangsaan, faham dan ideologi, tetapi bahkan isu-isu krusial yang menjadi perhatian nasional dan internasional kiranya menjadi platform menu gagasan yang dikedepankan Fakultas Filsafat,” tegasnya saat dihubungi.
Menurutnya, Doktor Titik yang mengusung visi “Making Faculty of Philosophy Great Again by Innovating Academic Learning and Adapting to the New Normal” bisa mengisi ruang pengap dialog nasional dan lokal makin inklusif bersama para pemangku kepentingan beragam sektor.
“Mandat insan akademik memiliki peran popular mendorong relevansi filsafat menjawab problem-problem aktual kemasyarakatan dan bangsa,” tegas pencipta ‘Hymne Darah Juang’ ini.
Ia berharap doktor Titik bisa mengalihkan abstraksi menjadi praksis tidak ubahnya dilukiskan proses permenungan filsafat itu pahit, tapi buahnya manis.
“Teknologi digital untuk menginovasi pembelajaran ke arah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) perlu ditopang kompetensi, profesionalisme dan integritas para pembelajarnya. Center of Excellent bukanlah semboyan kosong, tapi merupakan pergulatan akademik yang membumi,” tegasnya.
Atas nama Komunitas Alumni Filsafat Peduli, John Tobing mengingatkan Profesor Notonagoro, penggali nilai kefilsafatan Pancasila ketika Republik seumuran jagung di awal 1950-an, sebagai legenda Fakultas memiliki pikiran-pikiran visioner yang tetap viral hari ini. “Making Great Again” menjadi pekerjaan kolektif yang diemban bukan hanya warga kampus, namun alumni dan pembelajar lain.
“Semua pihak dosen, mahasiswa dan alumni Fakultas Filsafat dari aliran manapun sangat dibutuhkan pikiran dan tenaganya untuk menggerakkan kembali fakultas pelopor ini. Panta Rhei!” tegas John Tobing. (Aminah)

