Oleh: Frank Bergman *
Berita mengerikan datang dari Jepang ketika para ahli terkemuka di negara itu mengungkap bukti kuat yang menghubungkan lonjakan kematian berlebih dengan “vaksin” mRNA Covid.
Koalisi akar rumput, United Citizens for Stopping mRNA Vaccines, telah memaksa penerbitan catatan vaksinasi resmi untuk 21 juta warga negara Jepang melalui serangkaian permintaan Undang-Undang Kebebasan Informasi,– Freedom of Information Act (FOIA).
Catatan tersebut meliputi tanggal vaksinasi, nomor batch, dan laporan kematian pasca-vaksin.
Hasilnya sungguh menghancurkan.
Profesor Murakami dari Universitas Sains Tokyo, seorang ilmuwan yang disegani, menganalisis data dan menemukan pola yang konsisten dan mengkhawatirkan:
• Lonjakan kematian terjadi 90–120 hari setelah injeksi.
• Mereka yang menerima beberapa dosis mengalami lonjakan kematian yang lebih awal dan lebih tajam, yang menunjukkan adanya toksisitas kumulatif.
• Murakami memperkirakan bahwa 600.000–610.000 warga Jepang telah terbunuh oleh “vaksin.”
Angka ini sangat konsisten dengan statistik kematian berlebih di Jepang.
Karena kematian ini biasanya terjadi beberapa bulan setelah vaksinasi, dokter jarang menghubungkannya dengan suntikan, sehingga pejabat kesehatan dapat menyembunyikan kerusakan yang terjadi tanpa diketahui.
Koalisi United Citizens mengungkap temuan mengejutkan itu selama konferensi pers, mengecam birokrat kesehatan pemerintah karena mengabaikan bukti yang semakin banyak.
Dengan mengulur waktu dan mengaburkan data penyebab kematian, lembaga medis telah mampu mengabaikan kematian terkait vaksin sementara kelebihan mortalitas melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Temuan Murakami mengonfirmasi apa yang telah lama diperingatkan oleh para peneliti independen: bahayanya bukan hanya efek samping yang langsung terasa, tetapi kerusakan kumulatif yang tertunda yang diam-diam mengikis kesehatan masyarakat beberapa bulan setelah suntikan.
Temuan ini muncul saat industri farmasi terus mengembangkan vaksin mRNA terbarunya yang dapat mereplikasi diri, atau “vaksin replikon” (replicon vaccine).
Sementara itu, masyarakat Jepang jelas sudah muak .
Meskipun telah diluncurkan 4,2 juta dosis pada Oktober lalu, yang diberikan hanya kurang dari 10.000.
Itu adalah tingkat penerimaan yang sangat kecil, yaitu 0,24%, yang menandakan runtuhnya total kepercayaan publik.
Faktanya, lebih dari 100.000 warga Jepang telah menandatangani petisi yang menuntut penghentian segera semua program “vaksin” mRNA.
Menurut laporan, suntikan replikon oleh Meiji Seika Pharma telah menunjukkan tingkat reaksi merugikan dan kematian yang lebih tinggi daripada produk asli Pfizer dan Moderna.
Reaksi keras tersebut semakin menjadi-jadi sehingga raksasa farmasi tersebut telah meluncurkan gugatan hukum terhadap Anggota Kongres Kazuhiro Haraguchi dan orang lain yang berani berbicara.
Haraguchi, seorang kritikus vokal terhadap program tersebut, mengungkapkan bahwa ia mengembangkan limfoma setelah vaksinasi, dengan protein lonjakan ditemukan di jaringan limfatiknya.
Sementara itu, otoritas kesehatan Jepang gagal mengatasi lonjakan kematian 90–120 hari yang kini terlihat dalam salah satu kumpulan data terlengkap yang pernah dirilis.
Keheningan itu memekakkan telinga, dan implikasinya bersifat global.
Perilisan 21 juta kopi ini bukanlah sekadar rumor di internet.
Ini adalah cetak biru forensik yang mengungkap apa yang mungkin merupakan eksperimen medis massal paling berbahaya dalam sejarah.
Kelompok yang dipimpin warga negara, yang memiliki 70.000 pendukung dan 3.000 relawan aktif, sekarang mendorong kolaborasi global untuk menghentikan gelombang eksperimen mRNA berikutnya, termasuk suntikan flu berbasis mRNA yang dijadwalkan untuk musim gugur 2025.
Basis data vaksin kelompok tersebut sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan akan segera dibuka untuk para peneliti di seluruh dunia.
Di saat pemerintah menolak untuk menyelidiki atau bahkan mengakui apa yang terjadi, giliran ilmuwan warga dan pelapor yang berani untuk mengungkap kebenaran.
Peringatan Jepang kepada dunia jelas: lonjakan kematian pasca-vaksin adalah nyata, peluncuran vaksin eksperimental generasi berikutnya harus dihentikan, dan mereka yang bertanggung jawab untuk menyembunyikan kebenaran harus dimintai pertanggungjawaban.
Rilis catatan ini merupakan salah satu kumpulan data dunia nyata terbesar yang pernah terungkap.
Sekarang jelas bahwa narasi resmi “aman dan efektif” tidak dapat bertahan dari pengawasan serius.
Krisis kesehatan masyarakat Jepang akhirnya mulai menjadi fokus.
Data tersebut menegaskan bahwa alih-alih menyelamatkan nyawa, program mRNA malah mungkin telah menyebabkan salah satu bencana kesehatan masyarakat terbesar dalam sejarah modern.
——-
*Penulis Frank Bergman adalah jurnalis politik/ekonomi yang tinggal di pesisir timur Amerika Serikat. Selain meliput berita, Bergman juga melakukan wawancara dengan para peneliti dan pakar, serta menyelidiki individu dan organisasi berpengaruh di dunia sosial-politik
Artikel ini dikutip Bergelora.com dari.artikel berjudul Japan Confirms Over 600,000 Citizens Killed by COVID ‘Vaccines’ di Global Research

