Selasa, 23 April 2024

John Tobing Gelar Mini Konser Tunggal: Politics Requires Love and Empathy

YOGYAKARTA– Pencipta lagu sekaligus seniman dan aktivis John Tobing menggelar mini konser tunggal bertema “Politics Requires Love and Empathy”.

Hari Subagyo aktivis Yogyakarta sekaligus teman sejawat John Tobing angkatan 86, Sabtu (11/2/2023) menjelaskan
John Tobing membawakan 40 karya lagu ciptaan yang jarang sekali didengar publik,

“Sebelumnya John Tobing cukup dikenal sebagai penulis dan pencipta lagu Hymne Darah Juang. Lagu ini seringkali dinyanyikan sejak saat perjuangan reformasi di berbagai aksi demonstrasi dan hingga saat ini oleh kalangan kelompok manapun kerap dikumandangkan dalam setiap aksi demonstrasi,” tambahnya.

Kali ini John Tobing melalui karya-karyanya yang diciptakan sejak dari masa remaja SMP hingga dewasa coba kembali dikumpulkan dan dipertunjukkan dalam sebuah mini konser tunggal.

Biasanya John Tobing diiringi oleh musisi, namun dalam konser ini John Tobing memperlihatkan pertunjukan solo dengan permainan musik gitar untuk menghadirkan karakteristik keaslian saat lagu-lagu ini diciptakan.

Pertunjukan ini bagian dari upaya pengarsipan secara kolektif dengan menghadirkan penonton terutama mereka yang pernah terkait dengan ciptaan lagu-lagu John Tobing tersebut.

Mini konser ini mengundang para pengapresiasi seperti mahasiswa, aktifis, penulis, jurnalis, akademisi, seniman, penggiat budaya, penggiat NGO/LSM, hingga pemangku kebijakan publik.

John Tobing. (Ist)

Pertunjukan ini akan menggali dan mengapresiasi karya-karya ciptaan John Tobing secara interaktif. Karena John Tobing mengakui seluruh karyanya tercipta dari keterhubungan sosial dan lingkungannya, sejak masa dia SMP hingga saat ini memiliki cerita sejarah yang juga dimiliki oleh publik.

Persoalan-persoalan, kegelisahan, kebahagiaan, daya kritis, apresiasi dan relfeksi atas keadaan dan situasi dalam karya-karyanya bisa menjadi spektrum penciptaan yang bisa dilakukan dan juga dekat dengan siapapun.

Sebagai aktivis yang melakukan politik tandingan sejak masa mahasiswa dalam era Orde Baru Pemerintahan Soeharto, John Tobing yang pernah kuliah di Filsafat UGM juga kerap diselimuti upaya-upaya yang mendorongnya menjadi reflektif selain juga kritis.

Karya-karya yang secara khusus tidak terkait langsung pada lagu perjuangan ini yang coba dihadirkan oleh John Tobing.

Meskipun kemudian penggalian arsip karya ini salah satu jalan pada pengarsipan yang akan berlanjut, karena selain 40 lagu ini akan coba ditampilkan secara jujur dan sederhana, John Tobing juga sedang mengumpulkan lagi lagu-lagu perjuangannya selama ini.

Lagu-lagu perjuangan ini juga akan kemudian dipertunjukan secara khusus kemudian.

Maka pertunjukan kali ini, akan menempatkan interaktifitas apresiasi sebagai bagian dari upaya menemukan kembali karya-karyanya bersama orang-orang dalam sejarahnya.

Lagu-lagu ini memang banyak lahir pada semangat zaman orde baru dan ada juga paska reformasi. Melalui karya John Tobing juga akan kita dapat temukan zeitgeist (semangat zaman) yang memperlihatkan bagaimana anak muda pada masa nya juga memiliki cinta dan empati untuk relasinya, sahabatnya, lingkungannya, kelompok sosial lain selain mahasiswa dan bahkan bangsa dan negaranya.

Daya pendorong ruang sosial pada masa itu juga patut diperhatikan keterpautan ataupun penguatannya pada masa-masa hari ini. Terlebih tahun ini memasuki era digital dan masa tahun-tahun politik indonesia paska reformasi dalam suasana gelembung demokrasi. Sebab terkadang ruang demokrasi yang seharusnya dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat luas, seringkali disalahgunakan oleh politik praktis terjerembab banal. Maka John Tobing mencoba merefleksikan dimana politik masa ini menjadi kering karena kepentingan sesaat dan kelompok elit saja, sudah seharusnya politik membutuhkan cinta dan empati kepada sosial.

Pendekatan ini sebagai cara memperkuat kembali ingatan John Tobing, sebab kondisinya yang sudah berkali-kali mengalami stroke ringan dan berat. Kondisi yang juga dialami banyak seniman hingga akhirnya arsip karya yang tidak terekam, tercatat dan tersimpan baik menjadi terkadang sirna atau hilang. Ingatan atas karya yang kepingannya ada pada banyak orang-orang dan situasi menjadi operasi yang dijalankan dalam pertunjukan ini. Harapannya agar pula Indonesia tidak lagi mudah lupa akan sejarah nya dan seharusnya bisa mendorong perubahan berdasar sejarahnya.

Acara ini di selenggarakan pada tanggal 11 Februari 2023 sejak pukul 13:30 sampai 15:30 di Sanggar Maos Tradisi dan saat bertepatan dengan ulang tahun Sanggar Maos Tradisi ke-6 Tahun.

Sanggar yang didirikan untuk ruang pengembangan budaya kritis dan berkesenian seperti menulis, diskusi, pameran dan pertunjukan. (Bram)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru