Kamis, 13 Juni 2024

Jokowi, Gibran & Yesus Berteologi OJO KESUSU

Oleh: Victor Rembeth *

GONJANG GANJING politik Indonesia menciptakan kekagetan tindakan yang berpotensi merusak demokrasi yang diteriakkan pada 98, atau reformasi, sudah dikonfirmasi oleh Presiden Jokowi siang ini ketika ia merestui pencawapresan Gibran. Tetiba pemimpin yang dianggap mewakili rakyat dengan rating penerimaan rakyat yang sangat tinggi menjadi antitesis 9 tahun kisah kebaikannya. Bagai menghitung kancing, ya atau tidak, sang putra yang bukan mahkota “dipaksakan” maju dalam kontestasi politik nasional.

Seakan menabur angin, perlahan tapi pasti angin itu berproses menjadi badai. Seorang politisi senior menganalogikan suprise buruk itu dengan mengutip perkataan Nabi Hosea “siapa menabur angin menuai badai”. Ya, ada badai yang sedang diciptakan oleh seorang yang diharap selama 2 periode akan menjadikan negeri ini “gemah ripah, loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo”. Tidak sedikit memang yang mendukung upaya pelestarian kekuasan dengan mengangkat ananda sebagai penerus “dinasti” tapi sudah tentu etika Jawa yang harusnya ia hidupi mengatakan bahwa move ini sebuah tindakan yang “ora ilok”

Badai sedang diciptakan ketika sebenarnya ia mempunyai kuasa menyiapkan angin sepoi yang dapat meneduhkan semua rakyatnya. Badai itu membesar sejak Mahkamah Konstitusi yang dipelesetkan jadi “Mahkamah Keluarga” meloloskan permakluman hukum yang aneh. Dalam pergulatan dissenting opinion yang terjadi tetap sebuah skenario dirancang agar ananda punya celah untuk melanjutkan kiprah sang bapak kendati “ora ilok”.

Tahapan badai yang terus berputar makin membesar itulah yang kemudian hanya bisa didoakan diharapkan agar ada tangan supranatural yang bisa memberhentikan dan mendiamkan potensi kerusakan yang diakibatkannya. Sembari prihatin melihat ongkos politik berdarah darah sejak 1998 sampai keributan Pilpres 2014 dan 2019, kita hanya bisa berteriak “Tuhan kapan Engkau turun tangan menghentikan badai ini?” Ada hati nurani yang tercabik dan miris melihat kisah negeri yang siap ditelan badai dan meraih kekuasaan “at all cost”, kalaupun itu harus membinasakan hati, jiwa dan bahkan berpotensi berdampak lebih buruk dengan perpecahan yang merugikan negeri tercinta ini

Dalam episode inilah terngiang teriakan murid murid Yesus dalam kisah Badai yang mereka hadapi. Injil Markus 4:38 mencatat bahwa Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan kapal yang menghadapi badai, dan murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Waduh, ada badai Yesus tidur! Bagi orang Kristen yang saat ini sedang galau dan siapapun maka intervensi Ilahiah yang supranatural sangat diharapkan.

Badai sedang diciptakan dan yang menaburnya dengan tenang menantikan “kebinasaan” rakyat yang selama ini mengharapkan hidup dan masa depan anak cucu mereka pada dirinya. Apakah Yesus akan tetap tertidur? Susah untuk menerima Yesus cuek menghadapi gonjang ganjing politik yang bisa membinasakan. Ketakutan dan kekuatiran membuncah ketika tanda tanda ancaman bahaya sudah membesar dengan “badai” politik ini. Harapan tetap ada, membangunkan Yesus dan menghentikan badai dan menenangkan ibu Pertiwi.

Walau sudah masuk radar, harapan membangunkan Yesus yang tertidur masih terus ada. Atau dalam tidur dan diamnya Yesus, ada rencana Ilahi yang sedang dirancang Tuhan bagi negeri ini. Dalam diamNya, mungkin juga membuat kita tidak “grusa grusu”” sehingga kita dipaksa berteologi “ojo kesusu”._ Yesus perlu tidur dan beristirahat, sama seperti Allah menciptakan dunia dan beristirahat di hari ke 7. Dalam badai di kisah murid maupun badai Pilpres, Ia perlu tidur agar kita bisa menghidupi rencana Tuhan yang terbaik dan dipaksa memahami berteologi kontekstual Indonesia, Teologi Ojo Kesusu.

Yesus yang tidur di kapal akhirnya bangun dan meredakan badai sambil bersabda , “Diam, Tenanglah”, sembari menghardik para muridNya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Kisah badai ditenangkan Yesus itu harapan kita semua dan berharap sang pembuat badai bisa didiamkan. Namun kalau tidak, mungkin Tuhan masih memberi ampunan kalaupun kita masih terus berteriak dan terus membangunkan Yesus. Badai ini sudah dimulai dan kapal negeri ini, besar ataupun kecil, sedang menuju karam. Yesus yang diam sedang melaksanakan rencanaNya untuk negeri ini.

Saat ini sambil beriman pada diamnya dan tidurnya Yesus, kita sadar berserah total. Kalaupun dipenuhi kekuatiran akan masa depan bangsa, namun jangan sekali kali pencipta badai merendahkan kekuasaan tangan ilahi, apalagi kalau motivasinya menciptakan badai hanya soal kekuasaan dan kesombongan sok berkuasa. Pak Presiden, Yesus sedang tidur dan melakukan sikap “ojo kesusu” untuk kebaikan, yang mungkin berbeda dengan niat Machiavelian yang dirancang selama ini dengan kosa kata yang sama “ojo kesusu”.

Saya pernah begitu mencintaimu karena ojo kesusu, namun di titik ini sudah tidak pak Presiden. Saya sedang tafakur pada tokoh lain yang berpraktik “ojo kesusu” yang lain, Yesus yang tidur yang merancangkan yang baik menghalau badai, bukan merancang menciptakan badai yang dapat merusak kapal negeri ini.

Salam 3 periode, eh maaf 7 turunan perpanjangan waktu mabuk kuasa.

* Penulis, Victor Rembeth, pernah fans berat Jokowi

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Jadi sekarang bukan fans berat lagi ya pak Pdt? Fan biasa mungkin juga tidak. Saya masih nunggu the end nya saja dari drama sinetron ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru