Kamis, 18 Juli 2024

KAPOK SALAH PILIH…! Dianggap Terlalu Tua dan Kinerjanya Buruk, Mayoritas Warga AS Minta Biden Mundur Jangan Maju Lagi 2024

JAKARTA- Tingkat kepopuleran Presiden AS Joe Biden di dalam negeri terus mengalami penurunan. Survei terbaru yang dirilis menunjukkan mayoritas warga negara tidak menginginkan pria berusia 79 tahun itu mencalonkan diri kembali untuk kedua kalinya.

Menurut survei Harvard CAPS–Harris Poll yang dilakukan pada 28-29 Juni di antara 1.308 pemilih Amerika yang terdaftar dan dilaporkan secara eksklusif oleh The Hill, hanya hanya 29 persen warga AS yang menginginkan Biden mencalonkan diri lagi pada tahun 2024, sementara 71 persen lainnya menolak.

Jajak pendapat yang sama menunjukkan peringkat persetujuan keseluruhan untuk presiden Demokrat itu turun menjadi hanya 38 persen.

Dari mereka yang mengatakan Biden tidak boleh mencalonkan diri kembali, 45 persen mengatakan itu karena dia presiden yang buruk. Sekitar sepertiga mengatakan dia terlalu tua, sementara seperempat sisanya mengatakan sudah waktunya untuk perubahan.

“Presiden Biden mungkin ingin mencalonkan diri lagi tetapi para pemilih mengatakan ‘tidak’ terhadap gagasan masa jabatan kedua, menyokong pekerjaan yang dia lakukan sebagai presiden,” kata Mark Penn, co-direktur survei Harvard CAPS–Harris Poll.

“Hanya 30 persen Demokrat yang akan memilih dia dalam pemilihan pendahuluan presiden dari Partai Demokrat,” tambahnya.

Kepada Bergolora.com di Jakarta dilaporkan, jajak pendapat menunjukkan angka persetujuan Biden ada di 38 persen secara keseluruhan, semakin buruk dalam hal penanganannya terhadap ekonomi AS (32 persen) dan inflasi (28 persen). Dia mendapat persetujuan 43 persen terkait penciptaan lapangan kerja dan 50 persen untuk penanganan pandemi Covid-19.

Dihadapkan dengan pilihan antara Biden dan Trump, 60 persen responden Harvard CAPS–Harris Poll mengatakan mereka akan mempertimbangkan “kandidat independen moderat” sebagai gantinya. Sentimen itu ditemukan di antara 64 persen Demokrat dan 53 persen dari pemilih Partai Republik yang disurvei.

Pusat Kajian Politik Amerika di Universitas Harvard dan Harris Poll belum mempublikasikan hasil lengkap jajak pendapat tersebut. (Enrico N. Abdielli)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru