Kamis, 9 Juli 2026

KATROK BANGET NIH..! AI Data Center Serap Ribuan Pekerja, Tapi RI Kekurangan SDM

JAKARTA – Pesatnya pembangunan AI data center di Indonesia diperkirakan akan menyerap ribuan tenaga kerja baru. Namun, industri menghadapi tantangan besar karena ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dinilai masih jauh dari kebutuhan, bahkan belum didukung program pendidikan khusus di bidang pusat data.

Head of Talent Development & Industry Certification Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) Erick Hadi mengatakan bahwa satu proyek pembangunan pusat data berskala besar dapat menyerap sekitar 900 hingga 2.000 tenaga kerja selama masa konstruksi, tergantung kapasitas fasilitas yang dibangun.

Sebagai contoh, proyek pusat data berkapasitas sekitar 500 megawatt (MW) yang saat ini banyak dibangun di kawasan Bekasi dan Cikarang membutuhkan sekitar 1.600 hingga 2.000 pekerja pada tahap konstruksi.

“Itu baru tahap pembangunan. Setelah selesai dibangun masih dibutuhkan tenaga kerja untuk operasional, maintenance, sampai ekosistem pendukung lainnya,” ujar Erick dikutip Bergelora.com di Jakarta,  Kamis (9/7/2026).

Menurut Erick, kebutuhan tenaga kerja tidak hanya berasal dari operator pusat data, tetapi juga vendor, kontraktor, perusahaan penyedia pihak ketiga atau outsourcing hingga berbagai jasa pendukung yang memiliki kompetensi khusus untuk bekerja di fasilitas pusat data.

Di tingkat global, industri pusat data diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 300 ribu tenaga kerja hingga 2030. Sementara di Indonesia, kebutuhan SDM diperkirakan akan terus meningkat seiring pesatnya investasi data center yang didorong perkembangan artificial intelligence (AI).

Mengacu pada target pemerintah mencetak 9 juta talenta digital sepanjang 2020-2035, Erick memperkirakan sedikitnya sekitar 6.000 tenaga kerja baru setiap tahun dibutuhkan apabila hanya 1% dari target tersebut dialokasikan untuk industri pusat data. Namun, menurutnya, kapasitas Indonesia untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih sangat terbatas.

“Sampai hari ini belum ada jurusan khusus data center. Selama ini industri mengambil lulusan teknik elektro, teknik mesin, maupun teknik informatika, tetapi jumlahnya masih sangat kecil,” katanya.

Ia menilai tantangan terbesar industri saat ini bukan kurangnya lapangan pekerjaan, melainkan terbatasnya pasokan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai.

Di sisi lain, minat generasi muda terhadap bidang engineering juga dinilai terus menurun. Banyak lulusan lebih memilih berkarier sebagai kreator konten, programmer AI, cloud engineer, maupun cybersecurity specialist.

Padahal, menurut Erick, seluruh layanan digital tersebut pada akhirnya tetap bergantung pada infrastruktur data center.

“Orang banyak bicara AI sebagai tools, cloud computing, atau cybersecurity. Padahal semuanya berjalan di atas data center. Cloud itu sebenarnya berada di data center,” ujarnya.

Erick mengatakan kebutuhan SDM diperkirakan akan terus meningkat seiring pesatnya pembangunan AI Data Center di Indonesia. Menurutnya, peningkatan kapasitas pendidikan dan pengembangan talenta menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri tersebut.

Singapura-Malaysia Stop Bangun Pusat Data, RI Bisa Raih Peluang

Ikustrasi data center. (Ist)

Erick Hadi menilai bahwa negara ini memiliki peluang besar menjadi tujuan investasi data center atau pusat data di kawasan Asia Tenggara di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Peluang tersebut muncul setelah Singapura menghentikan pembangunan pusat data baru, sementara Malaysia mulai menghadapi keterbatasan daya dukung berupa pasokan listrik dan sumber air.

Erick mengatakan bahwa pertumbuhan industri pusat data Indonesia saat ini melampaui rata-rata global yang berada di kisaran 20%-25% per tahun. Salah satu faktor pendorongnya adalah perpindahan investasi dari negara-negara tetangga.

“Kalau kita bicara di Indonesia, pertumbuhannya justru lebih cepat karena mendapat akselerasi dari negara tetangga, terutama Singapura,” ujar Erick.

Menurut Erick, sejak 2019 Singapura menghentikan pembangunan pusat data baru sehingga terjadi kelebihan permintaan kapasitas (capacity overflow) di kawasan. Arus investasi tersebut kemudian mengalir ke Malaysia, terutama Johor, sebelum dalam beberapa tahun terakhir mulai bergeser ke Indonesia.

Ia mengatakan Johor sempat berkembang pesat karena membuka peluang investasi pusat data secara besar-besaran. Namun, kawasan tersebut kini mulai menghadapi keterbatasan kapasitas listrik dan pasokan udara, dua komponen utama dalam operasional pusat data.

Sementara itu, Singapura memang sedang mengembangkan kawasan baru di Pulau Jurong dengan tambahan kapasitas sekitar 700 megawatt (MW). Namun, lebih dari separuh kapasitas tersebut disebut telah lebih dulu diserap oleh perusahaan teknologi global.

Artinya kebutuhan data center masih jauh lebih besar dibandingkan kapasitas yang tersedia, kata Erick.

Peningkatan kebutuhan tersebut semakin dipercepat oleh perkembangan AI yang mendorong perusahaan hyperscaler, terang dia, dimana penyedia layanan cloud global membangun lebih banyak pusat data untuk melayani pasar regional.

EVP ASEAN Region Rittal International Ajay Batra menilai Indonesia memiliki modal yang kuat untuk memanfaatkan peluang tersebut. Selain didukung pasar domestik yang besar, Indonesia juga memiliki dua sumber daya penting yang membutuhkan data pusat industri, yakni pasokan listrik dan sumber air.

Ajay menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan semakin banyak perusahaan global mulai melirik Indonesia sebagai lokasi investasi pusat data. Meski begitu, Ajay mengatakan perkembangan industri AI Data Center tetap bergantung pada besarnya investasi, regulasi kepastian, serta kebijakan pemerintah terkait kedaulatan data dan pengembangan infrastruktur digital.

Kebutuhan komputasi AI juga akan mendorong pembangunan pusat data dengan spesifikasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan pusat data konvensional, sehingga peluang investasi di sektor ini masih akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. (Calvin G. Eben-Haezer)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles