JAKARTA – CEO perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, Alexey Likhachev, membahas kerja sama dalam penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Jakarta. Pernyataan itu diungkap Rosatom dikutip Bergelora.com di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
“Pada 12 Mei 2026, sebagai bagian dari kunjungan kerja ke Indonesia, Alexey Likhachev … mengadakan pertemuan kerja dengan Prabowo Subianto … Para pihak membahas bidang-bidang kerja sama Rusia-Indonesia yang menjanjikan di bidang penggunaan energi atom untuk tujuan damai, termasuk pengembangan proyek pembangkit nuklir, infrastruktur nuklir, pelatihan personel, dan aplikasi non-energi dari teknologi nuklir,” kata perusahaan tersebut.
Rosatom siap menawarkan kepada Indonesia pendekatan komprehensif untuk pengembangan program nuklir nasional, termasuk solusi di bidang energi nuklir berdaya tinggi dan proyek untuk reaktor modular kecil dan unit pembangkit listrik terapung, demikian bunyi pernyataan tersebut.
Sementara itu, Rosatom, berencana melanjutkan pembangunan unit baru di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr di Iran secepat mungkin setelah perdamaian dipulihkan, menurut CEO perusahaan, Alexey Likhachev pada bulan lalu.
“Tugas terpenting kami, setelah perdamaian dipulihkan di kawasan ini, adalah memulai kembali pembangunan secepat mungkin dan melanjutkan pembangunan fasilitas tersebut,” kata Likhachev kepada wartawan.
Rosatom telah mengevakuasi lebih dari 600 karyawan Rusia dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr ke Rusia setelah dimulainya serangan terhadap Iran, kata Likhachev.
“Tentu saja, kita semua menginginkan perdamaian, kita semua menginginkan konsensus, tetapi untuk saat ini, sinyal yang datang dari pihak Amerika dan Israel terlalu kontradiktif untuk mengharapkan rekonsiliasi di Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang. Oleh karena itu, kami dengan tepat menyelesaikan evakuasi; lebih dari 600 orang telah dievakuasi ke Rusia sejak aksi militer dimulai,” kata Likhachev kepada wartawan.
Menurutnya, hanya 20 relawan yang tersisa di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, dan 4 lainnya tinggal di Teheran.
“Tugas mereka adalah memelihara infrastruktur, dan mereka bertanggung jawab untuk tetap berhubungan dengan klien lokal, yang, kebetulan, juga telah menangguhkan semua kegiatan konstruksi,” tambah Likhachev.
Prabowo Subianto Temui Rosatom
Sebelumnya dilaporkan, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan Direktur Jenderal Perusahaan Energi Atom Negara Rusia (Rosatom), Alexey Likhachev, di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (12/5/2026). Pertemuan ini bertujuan membahas potensi kemitraan strategis dalam pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai di Indonesia.
Kunjungan kerja ini menjadi momentum bagi kedua pihak untuk mengeksplorasi pengembangan infrastruktur nuklir, pelatihan personel, hingga aplikasi teknologi nuklir di luar sektor energi. Informasi mengenai pertemuan tingkat tinggi ini dilansir dari Nasional berdasarkan keterangan resmi pihak Rosatom.
“Pada tanggal 12 Mei 2026, Direktur Jenderal Perusahaan Negara Rosatom Alexey Likhachev, sebagai bagian dari kunjungan kerjanya ke Republik Indonesia, mengadakan pertemuan kerja dengan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto,” tulis Rosatom, dalam keterangannya, Selasa.
Pihak Rusia menekankan pentingnya membangun dialog berbasis kepercayaan untuk mendukung ambisi Indonesia dalam memperkuat kedaulatan teknologi melalui industri energi baru. Fokus pembicaraan mencakup solusi tenaga nuklir skala besar maupun reaktor modular kecil.
“Saat ini, Indonesia telah menetapkan tujuan yang ambisius untuk pengembangan energi nuklir, dan oleh karena itu kami tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga pembentukan kemitraan jangka panjang yang berfokus pada pengembangan industri baru bagi negara, pelatihan personel nasional, munculnya kompetensi baru, dan penguatan kedaulatan teknologi negara,” tutur Alexey Likhachev, Direktur Jenderal Perusahaan Negara Rosatom.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula mengenai unit pembangkit listrik terapung yang dinilai cocok dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Integrasi sistem tenaga listrik menjadi poin krusial dalam perencanaan program nuklir nasional tersebut.
Agenda ini turut dihadiri oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT PLN, serta Ketua DPD RI. Kerja sama ini bertepatan dengan peringatan 20 tahun Perjanjian Antar Pemerintah tentang Kerja Sama dalam Penggunaan Energi Atom Secara Damai yang telah ditandatangani sejak 1 Desember 2006.

