Rabu, 5 Agustus 2026

KELUARGA MINTA KOMPENSASI..! Keracunan MBG di Kukar: 85 Orang Terdampak, Sampel Makanan Diuji BPOM

JAKARTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, mencatat total 85 orang terdampak dalam kasus dugaan keracunan makanan usai menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu pada Senin (3/8/2026).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 82 orang menjalani rawat jalan dan tiga orang sempat menjalani rawat inap.

Hingga Selasa (4/8/2026), seluruh pasien dilaporkan membaik dan hanya tersisa empat orang yang masih menjalani observasi sebelum dipulangkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kukar Ismi Mufiddah mengatakan, sejak menerima laporan dugaan keracunan, pihaknya langsung menjalankan prosedur penanganan sesuai standar, mulai dari merawat pasien, mengamankan sampel makanan, hingga melakukan penyelidikan epidemiologi.

“Yang jelas, kami sudah melakukan penanganan kepada pasien-pasien yang terdampak. Sampai laporan terakhir terdapat 85 pasien. Hari ini masih ada empat orang yang masih dalam observasi, tetapi insyaallah segera dipulangkan,” kata Ismi dikutip Bergelora.com di Jakarta, Rabu (.5/8)

Menurut dia, seluruh sampel makanan yang diduga menjadi penyebab kejadian telah diamankan untuk diperiksa di laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Selain itu, tim Dinas Kesehatan juga telah mendatangi lokasi pengolahan makanan untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap proses produksi makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat MBG.

“Sesuai protokol, jika terjadi kejadian seperti ini, kami langsung mengamankan sampel makanan untuk dikirim ke Balai POM. Selain itu, kami juga melakukan pengecekan ke tempat pengolahan makanan. Hasilnya tentu belum bisa diketahui sekarang,” ujarnya.

Ismi menjelaskan, penyelidikan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga menelusuri siapa saja yang terdampak, jumlah korban, gejala yang dialami, hingga kemungkinan asal mula kejadian melalui investigasi epidemiologi.

Pasien Alami Gejala Pusing, Mual, Muntah, Dan Lemas

Pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan instansi terkait dalam proses penanganan kasus tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan, sebagian besar pasien hanya mengalami gejala ringan berupa pusing, mual, muntah, dan lemas.

Hingga kini, Dinkes Kukar belum menemukan pasien yang mengalami diare maupun kondisi berat akibat dugaan keracunan tersebut.

“Alhamdulillah kondisi pasien sebenarnya tidak terlalu berat. Keluhannya berupa pusing, mual, beberapa muntah, dan lemas. Sampai saat ini sepertinya tidak ada yang mengalami diare,” kata Ismi.

Ia memastikan seluruh pasien dapat ditangani oleh tenaga medis di Puskesmas Sebulu I tanpa harus dirujuk ke rumah sakit. Dinkes Kukar juga memastikan ketersediaan ruang pelayanan, obat-obatan, serta cairan infus mencukupi selama penanganan berlangsung.

“Terkait ketersediaan ruangan di Puskesmas Sebulu I, alhamdulillah semuanya terakomodasi. Obat-obatan dan cairan infus juga sudah kami siapkan sesuai kebutuhan pasien,” ujarnya.

Menurut Ismi, tenaga kesehatan di Puskesmas Sebulu I bahkan tetap bersiaga hingga Senin malam untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya pasien baru. Namun, hingga Selasa pagi tidak ditemukan adanya tambahan korban.

Distribusi MBG Langsung Dihentikan

Ismi mengungkapkan, makanan MBG pada hari kejadian didistribusikan ke 10 sekolah dan enam titik posyandu di Kecamatan Sebulu.

Penerima manfaat berasal dari jenjang taman kanak-kanak, madrasah ibtidaiyah (MI), sekolah dasar (SD), hingga madrasah tsanawiyah (MTs).

Laporan pertama diterima puskesmas sekitar pukul 09.14 Wita dari TK Mutmainah. Setelah menerima laporan tersebut, distribusi makanan ke lokasi lainnya langsung dihentikan dan seluruh makanan yang belum dikonsumsi ditarik kembali.

“Begitu ada satu kasus yang masuk ke puskesmas sekitar pukul 09.14 Wita dari TK Mutmainah, distribusi makanan ke lokasi lain langsung dihentikan dan makanan ditarik. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi potensi penerima lain mengonsumsi makanan tersebut,” katanya.

Menurut Ismi, langkah cepat tersebut membuat jumlah korban tidak bertambah lebih banyak mengingat cakupan distribusi MBG saat itu cukup luas.

Dari tiga pasien yang sempat menjalani rawat inap, Ismi mengatakan seluruhnya merupakan kader dari posyandu. Pasien tersebut diketahui memiliki penyakit penyerta sehingga kondisinya sempat memerlukan observasi lebih lanjut.

“Pasien yang sempat dirawat inap kebetulan berasal dari posyandu. Memang ada penyakit penyerta sehingga kondisinya sempat memburuk, tetapi tadi saya mendapat konfirmasi dari pihak puskesmas bahwa pasien sudah akan dipulangkan,” ujarnya.

Ia menambahkan menu MBG yang disajikan pada hari kejadian terdiri atas nasi, bakso pentol, oseng sayuran, dan tahu. Namun, Dinkes Kukar belum dapat menyimpulkan apakah salah satu menu tersebut menjadi penyebab munculnya keluhan pada para pasien.

“Saya sebaiknya tidak berkomentar mengenai makanan mana yang diduga menjadi penyebab. Kita menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Balai POM,” katanya.

Menurut Ismi, hasil uji laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu sekitar tujuh hingga 10 hari.

Terkait Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG, Ismi mengatakan fasilitas tersebut telah mengantongi sertifikat laik sehat dari Dinas Kesehatan.

Meski demikian, pengawasan terhadap higienitas dan sanitasi tetap dilakukan secara berkala oleh petugas kesehatan lingkungan.

“SPPG memperoleh sertifikat laik sehat dari Dinas Kesehatan dan terus dimonitor. Teman-teman dari puskesmas maupun Dinas Kesehatan memang secara rutin melakukan monitoring terhadap SPPG, baik ada kejadian maupun tidak,” ujarnya.

Ia menegaskan Dinas Kesehatan tidak akan menyampaikan dugaan penyebab sebelum hasil investigasi laboratorium dan penyelidikan epidemiologi selesai.

Fokus utama saat ini, kata Ismi, adalah memastikan seluruh pasien tertangani dengan baik, logistik kesehatan tersedia, serta proses investigasi berjalan sesuai prosedur.

Sebelumnya diberitakan, dugaan keracunan makanan terjadi setelah para penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Sebulu mengeluhkan pusing, mual, sakit perut, dan lemas usai menyantap makanan yang didistribusikan oleh dapur MBG pada Senin (3/8/2026).

Distribusi makanan kemudian dihentikan, sementara sampel makanan dibawa ke Balai POM untuk diperiksa guna memastikan penyebab kejadian tersebut.

Keluarga Minta Konpensasi

Di tengah biaya pengobatan yang terus bertambah, keluarga korban dugaan keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai berharap ada kompensasi dari penyelenggara.

Harapan itu muncul setelah mereka harus mengeluarkan biaya transportasi, memenuhi kebutuhan selama mendampingi anak menjalani perawatan, hingga kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja.

Di sisi lain, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu menyatakan belum dapat memberikan kepastian terkait kemungkinan pemberian kompensasi.

Salah satu orang tua korban, Nur Helva, mengatakan perhatian keluarganya saat ini sepenuhnya tertuju pada proses pemulihan sang anak.

Namun, di balik itu terdapat beban ekonomi yang harus mereka tanggung sejak anak menjalani pemeriksaan dan perawatan.

Sebagai pekerja harian lepas, ia dan keluarganya harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak sehingga tidak memperoleh penghasilan, sementara pengeluaran terus bertambah setiap hari.

Selain biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan, keluarga juga harus memenuhi berbagai kebutuhan lain selama proses pendampingan.

Kondisi itulah yang membuatnya berharap ada perhatian dari penyelenggara program untuk membantu meringankan beban yang ditanggung keluarga korban.

“Kalau ada kemurahan hati dari pihak penyelenggara untuk membantu biaya yang kami keluarkan tentu kami sangat bersyukur. Yang kami pikirkan sekarang bagaimana anak bisa cepat pulih. Sementara kebutuhan selama mendampingi dia juga terus berjalan,” ujarnya saat ditemui di Puskesmas Sebulu I tempat anaknya di rawat pada Selasa (4/8/2026).

Nur Helva mengungkapkan, anaknya yang berusia 9 tahun 10 bulan dan kini duduk di bangku kelas IV SDN 003 Sebulu sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat penyakit serius.

Selama ini, sang anak hanya sesekali mengalami flu atau demam sehingga kejadian yang mengharuskannya menjalani perawatan inap menjadi pengalaman pertama bagi keluarganya.

“Anak saya belum pernah menderita penyakit berat. Paling hanya flu atau demam biasa. Kalau sampai harus dirawat inap seperti ini, baru pertama kali,” tuturnya.

Harapan keluarga korban tersebut belum dapat dijawab secara pasti oleh pihak penyelenggara.

Kepala SPPG Sebulu Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra, mengatakan dirinya tidak memiliki kewenangan untuk menyampaikan ada atau tidaknya kompensasi bagi keluarga korban karena hal itu menjadi kewenangan juru bicara yang telah ditunjuk.

Putra menjelaskan, saat ini seluruh perhatian SPPG masih difokuskan pada penanganan para penerima manfaat yang mengalami keluhan kesehatan.

“Untuk persoalan kompensasi saya belum bisa memberikan keterangan. Saat ini kami lebih fokus memastikan penanganan berjalan dengan baik dan terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, puskesmas, Polsek, Koramil, serta pihak terkait lainnya,” jelasnya.

Ketika kembali ditanya mengenai kemungkinan adanya kompensasi, Putra menegaskan belum dapat memberikan kepastian karena keputusan tersebut berada di luar kewenangannya sebagai Kepala SPPG.

“Saya belum bisa memastikan karena kewenangan saya terbatas sebagai Kepala SPPG. Nanti hal itu akan disampaikan oleh pihak yang memang berwenang memberikan penjelasan,” tegasnya.

Meski belum dapat memastikan mengenai kompensasi, Putra mengatakan komunikasi dengan keluarga penerima manfaat tetap berjalan selama proses penanganan berlangsung.

Hingga kini, menurutnya, belum ada orang tua korban yang datang langsung ke SPPG untuk menyampaikan protes.

“Alhamdulillah tidak ada. Kami terus berkomunikasi dengan orang tua penerima manfaat. Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tentu itu bukan harapan siapa pun yang terpenting sekarang anak-anak bisa segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan dengan baik,” pungkasnya. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles