JAKARTA – Di tengah belum tuntasnya penyelesaian berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di Indonesia, buku Nyanyian Bawah Tanah: Kisah Penangkapan dan Penyiksaan Aktivis SMID/PRD 1996 resmi diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launching dan Bedah Buku di Kalia Restoran, Tebet, Jakarta Selatan.
“Kami menginginkan ada penyelidikan HAM kasus 27 Juli untuk secepatnya menuju sebuah rekonsiliasi nasional,” ujar Trio Marpaung, Selasa (30/6).
Trio mengingatkan, sudah lewat beberapa presiden dari Habibie sampai Prabowo, tidak ada yang berhasil menuntaskan kasus 27 Juli yang mendorong perubahan sejarah.
“Di bawah Presiden Prabowo, saat yang tepat untuk. Menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, khususnya kasus 27 Juli,” ujarnya.
Buku ini menghadirkan kesaksian langsung para penyintas yang mengalami penangkapan sewenang-wenang, penahanan, dan penyiksaan pada 1996. Melalui narasi 8 penyintas, buku ini berupaya mendokumentasikan pengalaman para korban sebagai bagian dari sejarah perjuangan demokrasi Indonesia.
Acara menghadirkan Ester Jusuf, sebagai keynote speaker. Bedah buku juga diikuti oleh para penulis sekaligus penyintas, Trio Marpaung dan Syani, dengan penanggap Uli Parulian Sihombing, S.H, M.H, Komisioner Komnas HAM RI, serta Dita Indah Sari, tokoh gerakan buruh dan demokrasi. Diskusi dipandu oleh Assoc. Prof. Dr. Tuti Widyaningrum, S.H., M.H.

Peluncuran buku ini bukan sekadar memperkenalkan sebuah karya tulis, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa. Kesaksian para penyintas menunjukkan bahwa demokrasi yang dinikmati saat ini lahir melalui pengorbanan banyak orang yang menghadapi penangkapan, intimidasi, hingga penyiksaan selama berhari-hari karena memperjuangkan kebebasan dan demokrasi.
Buku ini mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip negara, tetapi juga hidup dalam ingatan para penyintas. Mendengar suara mereka secara langsung menjadi bagian penting dalam merawat kesadaran publik agar praktik-praktik pelanggaran HAM tidak terulang.
Melalui kegiatan ini, para penyelenggara berharap diskusi mengenai sejarah pelanggaran HAM tidak berhenti pada ruang akademik, tetapi berkembang menjadi kesadaran bersama bahwa penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan fondasi utama negara demokrasi.
Tentang Buku

Nyanyian Bawah Tanah: Kisah Penangkapan dan Penyiksaan Aktivis SMID/PRD 1996 merupakan kumpulan kesaksian para penyintas mengenai penangkapan, penahanan, dan penyiksaan yang terjadi menjelang akhir pemerintahan Orde Baru. Buku ini dihadirkan sebagai upaya mendokumentasikan sejarah dari perspektif para korban sekaligus memperkaya literatur mengenai perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia.
Pembelian buku bissa hubungi: Trio Marpaung (0812-18882377)
(Web Warouw)

