Kamis, 11 Agustus 2022

KTT G20 Bali dan Lahirnya Industri Nuklir Di Indonesia

Oleh: Dr. Kurtubi *

PARIS Agreement on Climate Change merupakan kesepakatan dunia untuk memitigasi perubahan iklim yang disebabkan oleh kenaikan suhu bumi. Dimana Emisi karbon yang berasal dari penggunaan energi fosil, diyakini sebagai penyebab utama terjadinya kenaikan suhu bumi.

Kapasitas Sumber Energi, 2021. (Ist)

Transsisi Energi

Dunia sepakat untuk mengurangi pemakaian energi fosil secara bertahap melalui proses Transisi Energi hingga tahun 2050, sebagian negara mentargetkan hingga tahun 2060.

Energi fosil diganti dengan energi bersih bebas emisi karbon yang berasal dari energi baru dan energi terbarukan.

Semua jenis energi bersih, eligible (memenuhi syarat) untuk menggantikan energi fossil.

Pembangkit Tenaga Nuklir Akkuyu di Mersin, Turki. (Ist)

Tetapi kesemuanya mempunyai sifat-sifat, tingkat teknologi yang diaplikasikan berbeda-beda, tingkat keekonomian serta biaya produksi listrik,– levelized cost of electricity (LCOE) dari setiap jenis energi juga berbeda-beda. Sehingga diperlukan perencanaan yang tepat dan rational dalam menentukan jenis energi pengganti yang akan menggantikan energi fosil. Termasuk besarnya kapasitas pembangkit listrik yang diperlukan dan lokasi dibangunnya pembangkit listrik bebas emisi karbon.

Tujuannya agar proses masa Transisi Energi bisa berjalan dengan lebih cepat, lebih efisien dan dapat meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi. Sebab kalau tidak, masa Transisi Energi akan menimbulkan kegagalan berupa emisi karbon yang akan tetap tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang rendah karena harga/tarif listrik yang justru bisa menjadi tambah mahal. Pasti akan menambah mahal proses/kegiatan industri dalam penciptaan nilai tambah atau GDP.

PLTN di Jerman. (Ist)

Kriteria Jenis Energi Pengganti

Secara umum semua jenis energi bersih bebas emisi karbon bisa dibagi dua.

Pertama, Energi Terbarukan secara alamiah bersifat Intermitten, hidup-mati-hidup-mati, tidak bisa menyala non stop dalam 24 jam. Tetapi sumber energi terbarukan gratis dari alam. Sehingga Capacity Factornya relatif sangat rendah dibawah 40% jauh dibawah Capacity Factor dari PLTN yg mendekati 100%.

Energi terbarukan membutuhkan storage,– baterai penyimpanan listrik ketika berproduksi. Kalau listriknya hendak disambung ke grid transmisi distribusi ke pelanggan listrik di rumah tangga atau untuk bisnis dan industri, membutuhkan bantuan dari pembangkit listrik yang lain agar stabilitas listrik yang diterima konsumen terjamin stabil, tidak ikut hidup-mati-hidup-mati. Selain energi terbarukan kapasitas besar membutuhkan lahan yang luas. Energi terbarukan masih membutuhkan inovasi teknologi untuk menjadi lebih efisien baik menyangkut teknologi pembangkit maupun teknologi storage.

PLTN di Prancis. (Ist)

Kedua, jenis Energi Baru yang bersih bersifat non-intermitten bisa menghasilkan listrik non stop 24 jam, tidak tergantung pada alam. Tidak membutuhkan storage atau baterai. Listrik yang dihasilkan bisa langsung tersambung ke grid transmisi ke pelanggan. Energi nuklir yang termasuk kriteria ini membutuhkan inovasi teknologi untuk menghapus ketakutan publik akan bahaya radiasi yang mengancam apabila terjadi kecelakaan. Seperti yg dialami oleh PLTN Chernobyl di Ukraina yang termasuk PLTN Generasi pertama. Kemudian terakhir kecelakaan di PLTN Fukushima di Jepang yang termasuk PLTN Generasi ke 2. Meskipun sebenarnya. jika dilihat dari jumlah korban akibat keberadaan dan beroperasinya pembangkit listrik dari berbagai macam energi, justru PLTN yang paling aman, paling sedikit korban meninggal per TWH listrik yang dihasilkan dibanding dengan listrik yang dihasilkan dari jenis energi yang lain.

PLTN di China. (Ist)

Dampak dari kecelakaan di Chernobil dan Fukushima direspon berlebihan oleh beberapa negara yang sudah membangun dan mengoperasikan PLTN. Di Jerman PM Angela Merkel pada tahin 2011 berjanji akan nenutup semua 17 unit PLTN nya pada tahun 2022.

Kebijakan Energi Jerman yang anti PLTN ini diikuti oleh Italia, Spanyol, Austria, dll.

Akibat menutup PLTNnya, dan yang tersisa 3 unit maka Jerman kini menjadi negara dengan emisi karbon terbesar dengan tarif listrik termahal di Uni Eropah.

PLTN di Jepang. (Ist)

Belakangan ini kita ketahui, akibat perang di Ukraina, Jerman kekurangan gas dan kekurangan listrik. Sehingga mayoritas penduduk Jerman menginginkan agar sisa 3 PLTN yang belum sempat ditutup, diminta supaya dihidupkan kembali !

Di Jepang, PLTN yang ditutup akibat kecelakaan Fukushima, kini akan dioperasikan kembali setelah faktor keamanannya ditingkatkan.

Padahal teknologi PLTN sebagaimana teknogi yang lain, terus berkembang. Para Ahli Nuklir dunia terus berinovasi mencari terobosan teknologi yang lebih aman. Lahirlah PLTN Generasi ke 4 yang sudah jauh lebih aman. Generasi ke 4 ini menjamin tidak akan lagi terjadi kecelakaan seperti pada Generasi pertama dan kedua. Selain waktu pembangunannya lebih singkat dan biaya produksi listriknya (LCOE) menjadi lebih murah.

Salah satu dari 5 PLTN di India. (Ist)

Berbagai model disain PLTN Generasi ke 4 berbasis Uranium dan Thorium sudah tercatat di IAEA (International Atomic Energy Agency) di Wina.

Perkembangan Energi Bersih

Sejauh ini penggunaan energi terbarukan yang bersifat Intermitten sudah sangat meluas diseluruh dunia karena sumber energinya bisa diperoleh secara gratis dari alam berupa sinar matahari, tiupan angin, aliran sungai, dan sebagainya.

Pembangkit tenaga surya yang paling populer bisa di instal dalam kapasitas kecil di atap rumah, bangunan dan lainnya. Sedangkan pembangunan PLTN masih sangat terbatas. Karena membutuhkan investasi relatif besar, pembangunannya relatif lebih lama dibanding dengan energi terbarukan.

PLTN di Amerika Serikat. (Ist))

Pembangunan PLTN membutuhkan pengujian prototype dari teknologi dan disain yang dipakai, sebelum memperoleh ijin operasi komersial dari lembaga yg berwenang (BAPETEN).

Hingga saat ini baru sekitar 470 unit PLTN yang beroperasi di 33 negara. Pada tahun 2020, Energy Mix dunia yang berasal dari energi nuklir masih relatif rendah, dibawah 10%.
Hampir seluruh PLTN yang sudah beropersi, dibangun sebelum Paris Agreement on Climate Change.

PLTN di Mesir yang dibangun Rusia. (Ist)

Efisiensi Transisi Energi.

Dengan memperhatikan sifat dari PLTN Generasi ke 4, yang dapat menghasilkan listrik bersih dengan biaya lebih murah dan lebih aman. Maka untuk mempercepat tercapainya target bebas emisi karbon di dunia secara efisien, maka sangat perlu ada Deklarasi “GO NUCLEAR FOR PEACE ” di forum KTT G20 di Bali pada bulan Oktober 2022 ini. Dimana sebagian besar anggota G20 sudah membangun dan menggunakan PLTN.

Dengan deklarasi “GO NUCLEAR FOR PEACE” di Bali, manfaat dan pentingnya membangun PLTN generasi terbaru yang aman dan biaya produksi listriknya yang lebih murah dari listrik PLTU Batubara, akan menggema keseluruh dunia.

Diharapkan bisa mendorong investor Energi Nuklir dari anggota negara-negara G20 khususnya untuk berinvestasi membangun PLTN generasi terbaru. Terutama di negara-negara sedang berkembang di seluruh dunia.

Hal ini juga akan sangat menguntungkan
Indonesia sebagai host country. Prospek demand terhadap PLTN Generasi Terbaru akan sangat besar dimasa yang akan datang.

Menguntungkan Indonesia

PLTN sangat menguntungkan Indonesia, karena saat ini Indonesia sedang berupaya membangun PLTN generasi terbaru, yaitu generasi ke 4.

Pemerintah kita harapkan bisa mengambil langkah yang tepat dengan mengarahkan agar pembangunan PLTN pertama yang akan dibangun di Indonesia bisa menjadi moment sebagai Cikal Bakal lahirnya Industri Nuklir Terintegrasi Hulu-Hilir di tanah air. Baik PLTN yang berbasis THORIUM ataupun PLTN berbasis URANIUM.

Dari sisi hulu, Indonesia punya potensi cadangan SDA Thorium dan Uranium sangat besar yang belum di eksplorasi secara serius dan terencana dengan dana investasi yang memadai dan belum dimanfaatkan sama sekali!

Karunia Ilahi berupa SDA Uranium dan Thorium seharusnya diusahakan agar menjadi fondasi bagi berkembangnya Usaha Nuklir di Sisi HULU dari rangkaian mata rantai Industri nuklir yang terintegrasi di Tanah Air.

Potensi cadangan dari SDA nuklir ini bisa mensupply kebutuhan PLTN untuk jangka waktu yang sangat panjang, bahkan diperkirakan hingga ratusan tahun.

Kelahiran Industri Nuklir Terintegrasi Hulu-Hilir ini ditopang oleh tersedianya ahli nuklir yang jumlahnya banyak karena sudah dipersiapkan sejak tahun 1960an di Kampus ITB, UGM dan lainnya.

Masih ada kerikil kecil yang perlu diperhatikan karena bisa menghambat, memperlama dan mrngulur terbangunnya PLTN berikut Industri nuklirnya.

Hambatannya secara legal formal berupa PP No.79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang menempatkan PLTN sebagai Opsi Terakhir. PP No.79/2014 yang bersifat diskriminatif ini harus segera dicabut secara legal formal,– juga sebelum KTT G20.

Houston, 1 Agustus 2022

* Penulis, Dr. Kurtubi – Ketua Kaukus Nuklir Parlemen 2014 – 2019. Alumnus Colorado School of Mines, Amerika Serikat, Institut Francaise du Petrole, Prancis dan Universitas Indonesia.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,439PengikutMengikuti
994PelangganBerlangganan

Terbaru