Kamis, 29 Februari 2024

LEBIH EFISIEN NIH..! Dr. Kurtubi Dorong Optimalkan Bapeten Dibawah Presiden: Hilirisasi Industri Perlu Ditopang Energi Nuklir

JAKARTA- Agar semua industrialisasi dan hilirisasi bisa berjalan secara efiisien dan optimal, maka harus ditopang oleh energi bersih yang non intermitten dengan biaya produksi listriknya (levelized cost of electricity) yang lebih murah. Hal ini ditegaskan oleh pakar energi, Dr. Kurtubi kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (7/1).

“Negara kita butuh listrik bersih yang massif dan non intermitten. Untuk tujuan tersebut, optimalkan peran Lembaga Nuklir Negara yang sudah ada, yaitu BAPETEN. Tidak perlu menciptakan lembaga baru,” katanya.

Untuk itu menurutnya, caranya, SDM dan Organisasi Bapeten perlu disempurnakan.

“SDM nya baik kualitas maupun kuantitasnya ditingkatkan. Posisi dan struktur organisasinya disempurnakan,” tegasnya.

Dr. Kurtubi mendorong agar posisi Bapeten sebaiknya langsung dibawah Presiden. Organisasinya juga disempurnakan.

“Langkah ini dilakukan untuk memaksimalkan proses industrialisasi dan hilirisasi baik berbasis SDA non renewable yang ada di perut bumi seperti mineral yang sangat besar dan beragam. Ada nikel, tembaga, bauksit, timah, mangan, bijih besi, emas, perak dan lainnya,” ujarnya.

Dr Kurtubi, yang pernah menjabat sebagai Ketua Kaukus Nuklir Parlemen 2014 – 2019 Ini menjelaskan, industrialisasi berbasis SDA Renewable yang ada dipermukaan bumi, seperti Industri Kehutanan dan Industri Perikanan.

“Dengan Strategi ini, maka Economic Growth pasti akan tinggi tidak lagi terjebak hanya bisa tumbuh sekitar 5%, hingga akan bisa tumbuh double digit setidaknya untuk masa dua dekade. Insya Allah RI akan sangat bisa menjadi negara industri maju di tahun 2045,” ujarnya.

Hilirisasi Tidak Akan Berhenti

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menegaskan kembali bahwa pemerintah tidak akan menghentikan program hilirisasi industri terhadap bahan-bahan mineral. Setelah pemerintah memutuskan untuk menghentikan ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah, pemerintah akan melanjutkan hal serupa untuk bahan mineral lainnya seperti tembaga dan bauksit.

“Hilirisasi tidak akan berhenti. Hilirisasi setelah nikel stop kemudian masuk ke tembaga, ke copper, nanti masuk lagi ke bauksit, dan seterusnya,” ujar Presiden Jokowi dalam keterangannya di hadapan awak media di Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta, pada Kamis, 10 Agustus 2023.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi juga menegaskan bahwa tidak ada negara maupun organisasi internasional mana pun yang bisa menghentikan keinginan Indonesia untuk melakukan hilirisasi. Presiden meyakini bahwa hilirisasi tersebut akan mendongkrak nilai tambah di dalam negeri.

“Memang siapa pun, negara mana pun, organisasi internasional apa pun, saya kira enggak hisa menghentikan keinginan kita untuk industrialisasi, untuk hilirisasi dari ekspor barang mentah ke barang setengah jadi atau barang jadi karena kita ingin nilai tambah ada di dalam negeri,” tegasnya.

Kepala Negara mencontohkan, saat nikel diekspor dalam bentuk bijih atau bahan mentah, nilai yang diperoleh negara hanya sekitar Rp17 triliun. Namun, setelah dilakukan hilirisasi dan industrialisasi terhadap produk nikel tersebut, nilainya melonjak menjadi Rp510 triliun sehingga secara otomatis juga meningkatkan pendapatan negara melalui pajak.

“Bayangkan saja kita negara itu hanya mengambil pajak, mengambil pajak dari Rp17 triliun, sama mengambil pajak dari Rp510 triliun gede mana? Karena dari situ—dari hilirasi—kita bisa mendapatkan PPn, PPh badan, PPh karyawan, PPh perusahaan, royalti, bea ekspor, penerimaan negara bukan pajak, semuanya ada di situ. Coba dihitung saja dari Rp17 triliun sama yang Rp510 triliun gede mana,” jelasnya. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru