Rabu, 28 Februari 2024

Maestro Amrus Natalsya,  In Memoriam Seorang Kawan

Oleh: Misbach Tamrin *

TENTANG tokoh seniman perupa “3 zaman” (Orla, Orba, Reformasi) dan “3 genre-media” senirupa (patung, lukisan kayu dan lukisan di atas kanvas), serta pendiri Sanggar Bumi Tarung (SBT) ini. Telah cukup banyak ulasan biografi yang saya tuliskan di FB ini juga. Disetiap Ulang Tahun Kelahirannya, selaku kawan karib terdekat almarhum.

Iya, tentu saja di samping telah banyak ditulis oleh para penulis dari pengamat senirupa lainnya. Karena popularitas kesenimanannya yang senior. Terkenal sangat kreatif dan produktif dalam berkarya di tiga zaman dan genre tersebut.

Maka bagi saya pribadi, secara monumental esensi biografi almarhum, terutama dapat cukup terwujud dan terwakili lewat buku terbitan Amnat Studio edisi tahun 2008 “Amrus Natalsya dan Bumi Tarung” yang pernah saya tulis di masa lalu.

Apalagi baru sekitar lebih sebulan yang lalu, kami berduet bersama dalam pameran “Dua Petarung” di Bentara Budaya Yogyakarta. Suatu pameran seniman perupa sepuh angkatan 1950 -1960-an yang langka, jarang terjadi. Bahkan merupakan kesempatan yang sangat berarti bagi kami berdua. Mewakili Sanggar Bumi Tarung berpameran di kota kelahirannya buat pertama kali sejak berdirinya pada tahun 1961 di Gampingan Yogya.

Sebelum saya ke Yogyakarta dalam rangka pameran tersebut. Selama beberapa hari saya tinggal bersama di rumahnya di Lido (Bogor). Suatu momen kebersamaan terakhir kami, sejak dalam kurun waktu selama sekitar setengah abad. Telah terbangun persahabatan dan pergaulan akrab dengan lika-liku suka dan dukanya di antara kawan senasib, sependeritaan dan seperjuangan.

Ketika itu saya saksikan keadaannya telah memberikan pertanda. Sangat dimungkinkan saat-saat kebersamaan kami terasa tak akan berlangsung lebih lama lagi. Layaknya seakan sudah menjadi rutin dan prosais. Kami para anggota Sanggar Bumi Tarung saling bergantian pergi berpulang selama dua dekade ini.

Meski terkadang pernyataan menjelang akhir khayat telah beberapa kali batal sebelumnya. Maklum kematian, seperti halnya kelahiran, jodoh dan rezeki, kita tak bisa memperkirakan dan menebak dengan pasti kapan terjadi, kecuali Tuhan yang di atas yang tahu.

Ia tergeletak di atas pembaringan dalam keadaan tak berdaya. Sekali-kali kami angkat untuk didudukan di kursi roda. Sambil diajak bicara, meski mulutnya sulit buat berkomat-kamit. Ia lebih banyak berdiam diri dengan pandangan mata nanar menyimpan suara kata-katanya di hati.

Kerapuhan badan manusia memang selalu mengiringi usia senja yang berlanjut. Di antara gelambir kulit tubuhnya yang mengeriput. Masih tampak tersembul sisa-sisa otot yang dulunya ditempa oleh kerja keras seorang pematung kayu yang sangat spartan dan energitek.

Di situlah letaknya masih tersisa pertanda, kenapa orang tua tak berdaya ini. Dulunya pernah dikatakan pengamat sejarah senirupa Amerika Claire Holt, sebagai perupa muda yang sulit dicari tandingannya.

Di kala sebuah tubuh manusia tak berdaya digerogoti oleh usia renta yang kian merangkak. Kita tak bisa membayangkan lagi jika di sebaliknya terdapat suatu tenaga yang luar biasa. Telah menghela ribuan karya patung, lukisan kayu dan lukisan kanvas yang dihasilkannya.

Begitulah, maestro senirupa Amrus Natalsya kelahiran 21 Oktober 1933 di kota Medan, Sumut, ini. Telah mengakhiri kiprah juangnya lewat alur perjalanan menuju azal yang fana dan manusiawi. Setelah usia 90 tahun telah berhasil dilampauinya dengan daya tahan fisik dan psikis yang luar biasa.

Realitas kefanaan raga yang menurut takdir mutlak sangat terbatas. Di akhir keberadaannya secara verbal, bagaikan nyala lilin di ujung sumbunya yang tersisa, meleleh menuju padam. Episode perjalanan akhir pengalaman manusia pada umumnya, selalu dalam kerawanan yang memilukan.

Namun secara imajiner akan meninggalkan jiwa alias roh kehidupan yang langgeng bersama keberkaryaan yang telah dihasilkannya selama hidup di alam dunia fana.

Ibarat bunyi pribasa klasik yang universal menyebutkan “Ars Longa Vita Brevis”. Hidup singkat, sedangkan karya seni tetap hidup langgeng. Sehingga lewat karya-karya yang ditinggalkannya manusia seperti terniscaya tak pernah mati-mati.

Karya-karya senirupa Amrus bukan sembarang tumbuh lewat nilai estetika dan artistik yang biasa. Tidak sekadar layak dan enak dilihat sebagai pajangan hiasan dinding semata. Namun, punya muatan mutu bobot visi & misi pernyataan filosofis seorang seniman perupa tentang kehidupan manusia, sosial masyarakat dan alam semesta yang sublim.

Sebagai pendiri dan ketua pimpinan Sanggar Bumi Tarung (SBT), ia mengarahkan dan mengajarkan kepada kawan-kawannya anggota sanggar,—bagaimana menuangkan dan mengekspresikan lewat media senirupa muatan ide kemanusiaan sebagai tanggungjawab moral seorang seniman terhadap tantangan zamannya dalam sejarah.

Sehingga makna penderitaan dari pelanggaran HAM berat yang kami alami melalui peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965, misalkan. Tak lepas dari rekam jejak tema-tema senirupa yang mewarnai keberkaryaan SBT yang telah kami hasilkan selama ini. Barangkali di situlah terletak kekhususan dan “keseksian” ciri khas karya-karya senirupa SBT yang pernah ditampilkan dalam khazanah senirupa Indonesia.

Di sini, kami tak bisa melupakan kata-kata bercambuk dari Amrus yang melecut semangat hidup dan juang para kawan-kawannya anggota SBT. Bahwa, “jika nasib kalian dalam penderitaan selama ditahan di bawah kekejaman rezim Orde Baru, tanpa dilukiskan lewat karya-karya kalian, lebih baik jadi kerbau saja!”.

Demikianlah esensi yang kuat dari kenangan obituari terhadap pengalaman rekam jejak kebersamaan egaliter yang guyub dalam kehidupan kolektif SBT bersama Amrus Natalsya yang tercatat dalam sejarah.

Semoga di alam baqa, almarhum dapat menyimak dan mengecap kenikmatan dalam istirahat sorganya yang tenang. Atas serangkuman keagungan buah karya-karya seninya yang dapat membawa berkah dan manfaat bagi kehidupan umat manusia di alam fana yang ditinggalkannya…..

Banjarmasin, 2 Februari 2024.

*Penulis, Misbach Tamrin seorang maestro Bumi Tarung Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) kawan dekat maestro Amrus Natalsya

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru