Selasa, 23 Juli 2024

MASIH IMPOR GAK..? Produksi Migas Pertamina Hulu Tembus 1,05 Juta Barel per Mei 2024

JAKARTA – PT Pertamina Hulu Energi sebagai Subholding Upstream PT Pertamina (Persero) mencatatkan produksi migas sebesar 1,05 juta BOEPD (barel setara minyak per hari) per Mei 2024.
Rinciannya, produksi minyak sebesar 556 ribu barel per hari (bph) dan produksi gas 2.853 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Direktur Utama PHE Chalid Said Salim mengungkapkan bahwa hingga bulan Mei 2024, PHE juga mampu menyelesaikan kerja pengeboran 5 sumur eksplorasi, 278 sumur pengembangan, 381 work over dan 14.386 well services.

“Memasuki usia ke-17, PHE mampu menunjukkan kinerja yang optimal dalam berkontribusi menjaga ketahanan energi nasional. PHE akan terus semangat menggali potensi dan kekuatan guna terus mendukung target produksi nasional dan memenuhi pasokan energi dalam negeri,” ujar Chalid dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (5/7/2024).

Dia juga mengungkapkan PHE akan terus berupaya menggali potensi dari berbagai aspek untuk pencapaian target yang telah ditentukan. Chalid mengatakan hingga Mei 2024, PHE juga mampu mencapai tambahan sumberdaya 2C sebesar 253 juta barel setara minyak (MMBOE).

“Capaian eksplorasi saat ini juga sangat menggembirakan dimana PHE berhasil menemukan beberapa potential big fish antara lain Ambar, SSD, Tedong, West Beluga dan Yaki Emas,” tambahnya.

Selain itu, Chalid mengatakan PHE juga mendapatkan 3 blok eksplorasi baru yaitu Blok East Natuna, Blok Peri Mahakam dan Blok Bunga sepanjang 2023.

Adapun dari aspek merger dan akuisisi, PHE mencatatkan penambahan Participating Interest (PI) 10% di Irak, perpanjangan blok Algeria dan akuisisi 20% PI di Masela.

Sedangkan di awal tahun 2024, Subholding Upstream melalui PT Pertamina Malaysia Eksplorasi Produksi (PMEP) bersama mitra berhasil memenangkan lelang blok eksplorasi SK510 melalui Malaysia Bid Round (MBR) 2023.

Hingga Mei 2024, PHE mencatat pengurangan emisi karbon hingga 497.319 Ton CO2 equivalent dengan 132 program yang tersebar di seluruh Indonesia.

“PHE juga telah menandatangani Kerja Sama Carbon Capture dengan ExxonMobil yang akan mematangkan dan menyiapkan rancangan model komersial untuk pengembangan hub CCS/CCUS regional di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatera (PHE OSES) dengan potensi untuk menyimpan CO2 domestik dan internasional melalui Asri Basin Project CCS Hub yang berada di Wilayah Kerja PHE OSES,” tandasnya.

Impor Migas

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi impor minyak dan gas bumi (migas) RI selama Januari-Maret 2024 mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 145,8 triliun (asumsi kurs Rp 16.200 per US$), naik 8,13% dibandingkan periode yang sama pada 2023 yang sebesar US$ 8,33 miliar.

Impor migas pada kuartal I 2024 tersebut terdiri dari:

  • Impor minyak mentah sebesar US$ 2,4 miliar.
  • Impor hasil minyak sebesar US$ 6,6 miliar.

Khusus untuk Maret 2024, impor migas RI tercatat sebesar US$ 3,33 miliar, naik 11,64% dibandingkan Februari 2024 yang sebesar US$ 2,98 miliar. Adapun nilai impor minyak mentah RI selama periode Januari-Februari 2024 mencapai US$ 1,5 miliar atau Rp 25,5 triliun, dengan volume 2,6 juta ton.

Berdasarkan data BPS, impor minyak mentah RI mayoritas berasal dari Arab Saudi, Angola, Nigeria, Amerika Serikat, Australia, dan negara lainnya. Berikut data impor minyak mentah RI hingga Februari 2024:

  1. Arab Saudi secara volume sebesar 735 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 439 juta.
  2. Angola secara volume sebesar 618,3 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 350 juta.
  3. Nigeria secara volume sebesar 503 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 296 juta.
  4. Amerika Serikat secara volume 214 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 139 juta.
  5. Australia secara volume 153 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 102 juta.
  6. Lainnya secara volume 413 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 243 juta.

Sementara untuk impor Solar atau HSD pada periode Januari-Februari 2024 secara volume mencapai 1,2 juta ton dengan nilai mencapai US$ 939,1 juta. Adapun mayoritas HSD diimpor dari Singapura, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan lainnya.

Berikutnya, untuk minyak bakar, selama periode Januari-Februari tercatat secara volume impor mencapai 139 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 87,7 juta. Mayoritas minyak bakar diimpor dari Malaysia dan Singapura.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif membeberkan impor BBM RI mayoritas berasal dari Singapura, Malaysia, dan India. Sementara untuk minyak mentah berasal dari Arab Saudi, dan negara-negara Afrika seperti Nigeria.

“Kita juga impor BBM dari tiga negara seperti Singapura, Malaysia, dan India. Ini kan harus diantisipasi sumber-sumber supply kilangnya yang ada di Kilang Singapura, Malaysia dan Kilang India. Kalau dulu kan Rusia di banned tetap aja mengambil. Jadi ini memang geopolitik ini serius,” kata Arifin di Kantor Ditjen Migas, dikutip Selasa (23/4/2024).

Sementara itu, untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat (AS).

Arifin mengungkapkan produksi minyak dalam negeri selama ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik sebesar 1,44 juta barel per hari (bph). Saat ini produksi minyak nasional rata-rata hanya berkisar di level 600 ribu bph.

Adapun untuk memenuhi kekurangan tersebut, Indonesia selama ini mengimpor minyak dari berbagai negara dengan total 840 ribu bph. Terdiri dari BBM sebesar 600 ribu bph dan minyak mentah sebesar 240 ribu bph. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru