Sabtu, 30 Agustus 2025

MAU JUALAN APA LAGI NIH..? Menkes Budi Gunadi Sebut 1 dari 50 Anak Usia Sekolah Alami Depresi

JAKARTA- Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin  menyoroti kondisi kesehatan mental anak-anak usia sekolah.

Budi mengatakan, banyak anak usia sekolah mengalami gangguan kecemasan hingga depresi. Sekitar 2 persen atau 1 dari 50 anak usia 15-24 tahun mengalami depresi.

Hal ini ditemukan berdasarkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah dilakukan di 72 Sekolah Rakyat di bawah naungan Kementerian Sosial. Sekitar 7 ribu anak telah menjalani pemeriksaan.

“Karena banyak selama ini tidak bisa mengidentifikasi kalau ada masalah kejiwaan, masalah kesehatan jiwa di anak-anak kita,” ujar Budi dalam konferensi pers Kick-off CKG, dikutip.Bergelora.com, Sabtu (2/8).

Budi mengatakan, salah satu alasannya adalah penggunaan gawai (gawai) berlebihan yang dinilai dapat meningkatkan risiko kecemasan.

“Ternyata cukup banyak yang mengalami kecemasan, depresi, mungkin karena melihat gadget, media sosial, dan segala macamnya. Nah , itu kita mulai ukur,” ujarnya.

Tak hanya itu, temuan CKG juga menemukan 1 dari 10 peserta didik usia 13-17 tahun dilaporkan pernah melakukan percobaan bunuh diri lebih dari satu kali dalam 12 bulan terakhir sebelum survei dilakukan.

Oleh karena itu, Budi berharap pemeriksaan kesehatan bisa menjadi langkah preventif untuk mencegah masalah yang lebih serius.

Depresi sendiri merupakan gangguan suasana hati yang memicu perasaan sedih berkepanjangan dan hilangnya minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai.

Biasanya, depresi ditandai dengan perubahan nafsu makan, gangguan tidur, rasa lelah yang tak dapat dijelaskan, kesulitan berkonsentrasi, perasaan tidak berharga, hingga pikiran tentang kematian.

Depresi bisa berlangsung lama dan mempengaruhi cara berpikir serta berperilaku seseorang.

Ilistrasi siswa yang rentanengalami depresi. (Ist)

34 Persen Remaja Jakarta Punya Gejala Masalah Mental

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan sabelumnya, studi teranyar mengungkap fakta mengejutkan tentang kondisi kesehatan mental remaja di Jakarta.

Data menunjukkan, 34 persen siswa SMA di Jakarta memiliki gejala gangguan mental. Sebanyak 30 persen di antaranya ditemukan memiliki gejala sering marah dan cenderung agresif.

Studi tersebut dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) dan Fokus Kesehatan Indonesia (FKI). Studi ini melibatkan 741 pelajar dan 97 guru di Jakarta.

Ketua tim penelitian dari HCC Ray Wagiu Basrowi mengatakan, hasil penelitian ini menjadi sinyal kuat adanya masalah kesehatan jiwa yang signifikan pada kelompok usia remaja.

“Penelitian yang kami lakukan adalah memotret ya, memotret kondisi, indikasi, risiko, potensi dampak kondisi mental remaja yang akan menjadi pemimpin di Indonesia emas 2045,” kata Ray dalam pemaparan hasil studi di Jakarta, Selasa (17/12/2024).

Masalah-masalah ini umumnya disebabkan oleh konflik dengan teman sebaya (26 persen), telah memiliki gangguan emosional seperti kekhawatiran berlebihan (23 persen), dan hiperaktif yang mengganggu konsentrasi (29 persen).

Angka prevalensi ini, lanjut Ray, jauh melampaui ekspektasi berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya. Diperlukan analisis yang lebih mendalam untuk menemukan faktor-faktor yang berkontribusi.

Pemilihan kota Jakarta sendiri dianggap sebagai daerah yang pas. Pasalnya, Jakarta dianggap memiliki karakteristik beragam sehingga mampu mewakili remaja di seluruh Indonesia.

“Review ini dilakukan dengan standar kaidah ilmiah. Kita pakai sampling 3 sekolah. Ada Jakarta Selatan, Utara, dan Timur. Tiga ini mewakili kondisi remaja yang ada di Jakarta,” lanjut Ray.

Sayangnya, meski masalah mental jadi ‘hantu’ yang harus dihadapi remaja, masih sedikit dari mereka yang mendatangi ruang bimbingan konseling untuk curhat. Sekitar 67 persen responden remaja mengaku enggan mengunjungi ruang BK untuk berkonsultasi.

Alih-alih mengunjungi ruang BK, teman sebaya masih menjadi pilihan utama dalam mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Sebanyak 55 persen remaja mengaku sering curhat ke teman sebaya dan hanya 8 persen yang mau terbuka ke guru di sekolah.

Masih Ada Temuan Positif

Namun demikian, penelitian ini masih menyisipkan fakta yang melegakan. Sebanyak 86 persen remaja memiliki kemampuan interaksi yang positif.

“Mereka masih bisa bersosialisasi dengan baik ya, seperti menghormati yang lebih tua. Jadi masih ada sedikit harapan,” ujar Ray.

Hal tersebut, menurut Ray, harus diasah karena kemampuan bersosialisasi ini mudah hilang dan tergerus.

“Jadi diasah, jangan sampai tergerus. Masih ada 20 tahun lagi ya [menuju Indonesia emas 2045]. Anak sudah punya basic emosional harus dibor terus,” pungkas Ray.

Kontak keluhan yang.bisa dijangkau. (Ist)

Mengenal Busuk Otak

Sebelumnya dikabarkan, media sosial  (medsos) menjadi sesuatu yang lekat dengan kehidupan masyarakat di era digital. Konsumsi konten yang diterima secara berlebihan di media sosial ternyata bisa berdampak buruk, salah satunya pembusukan otak .

Brain rot sendiri merupakan penurunan kondisi mental akibat konsumsi materi secara berlebihan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan disebut dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.

Di era internet, istilah ini Merujuk pada konsumsi konten yang diterima di media sosial secara berlebihan.

Psikolog Afifah Fatin menyebut brain rot bukan merupakan istilah medis, melainkan istilah yang diciptakan oleh masyarakat modern untuk menggambarkan kondisi mental pasca konsumsi konten medsos yang berlebihan.

Menurut Afifah, istilah brain rot pertama kali muncul pada sekitar tahun 1800-an. Kini, istilah tersebut dipopulerkan oleh Gen Z dan Gen Alpha.

“Untuk media sosial itu sendiri sangat berdampak [menyebabkan Brain Rot], karena aktivitas pada media sosial seperti TikTok, Instagram, atau YouTube Shorts itu kan aktivitas yang singkat, maksimal 30 detik sampai 60 detik dan itu bersifat menghibur. Orang itu akan mendapatkan kepuasan secara instan. Dari kepuasan instan itu dan juga kalau kontennya dirasa tidak menyenangkan atau membosankan, bisa scroll lagi,” kata Afifah dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia TV.

“Itu jadinya jarak atensinya berkurang,” tambahnya.

Penyakit busuk otak ini berpotensi dialami oleh pengguna di semua rentang usia, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Beberapa tanda terjadinya penyakit busuk otak adalah sulitnya berkonsentrasi saat beraktivitas hingga kesulitan untuk melepaskan diri dari gadget.

Selain itu, ada beberapa ciri lain seperti jarak atensi atau rentang perhatian yang berkurang hingga lebih mudah mengalami stres.

Cirinya yang paling sering terlihat adalah rentang atensinya berkurang. Itu tidak hanya menyerang kognitif, tapi juga kesehatan mental. Jadi lebih sering stress, cemas, jadi FOMO (fear of missing out). Dan juga bisa mengisolasi diri dari lingkungan sosial, tutur Afifah.

Menurut Afifah, masalah isolasi diri dari lingkungan sosial tersebut terjadi karena yang terlihat di media sosial itu hanya yang bagus-bagus saja, dan jarang ada sesuatu yang menyedihkan.

“Jadi orang enggak ada hubungannya dengan kesedihan orang lain. Lebih iri melihat dia udah sukses, dia bahagia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Afifah mengatakan durasi ideal untuk bermain medsos adalah 2 jam sehari, terutama untuk anak-anak dan remaja yang perkembangan otaknya sedang pesat. (Web Warouw)

 

 

 

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru