JAKARTA – Jelang batas waktu 1 Agustus, kebijakan tarif impor ke Amerika Serikat (AS) hampir berlaku. Meski tenggat keputusan tarif jatuh pada Jumat (1/8/2025), penerapan tarif akan berlaku efektif pada 7 Agustus 2025.
Hal tersebut untuk memberi Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS waktu yang cukup untuk membuat perubahan yang diperlukan guna memungut bea baru.
Pengumuman tarif impor mulainya diumumkan 2 April oleh Presiden AS Donald Trump. Pengumuman tersebut membuat dunia gempar.
Tim Trump lantas menerima negosiasi dengan hampir semua negara di dunia untuk menurunkan tarif impornya. Setelah melalui berbagai negosiasi, ada banyak negara yang berhasil menurunkan tarifnya.
Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, berikut daftar lengkap perubahan tarif Trump untuk 50 negara di dunia, sebagaimana dilansir CNN dikutip Bergelora.com di Jakarta.
- Angola: 32 persen jadi 15 persen
- Bangladesh: 37 persen jadi 20 persen
- Bosnia dan Herzegovina: 35 persen jadi 30 persen
- Botswana: 37 persen jadi 15 persen
- Brunei: 24 persen jadi 25 persen
- Kamboja: 49 persen jadi 19 persen
- Kamerun: 11 persen jadi 15 persen
- Chad: 13 persen jadi 15 persen
- Pantai Gading: 21 persen jadi 15 persen
- Republik Demokratik Kongo: 11 persen jadi 15 persen
- Guinea Khatulistiwa: 13 persen jadi 15 persen
- Uni Eropa: 20 persen jadi 15 persen (untuk sebagian besar barang)
- Kepulauan Falkland: 41 persen jadi 10 persen
- Fiji: 32 persen jadi 15 persen
- Guyana: 38 persen jadi 15 persen
- India: 26 persen jadi 25 persen
- Indonesia: 32 persen jadi 19 persen
- Irak: 39 persen jadi 35 persen Israel: 17 persen jadi 15 persen
- Jepang: 24 persen jadi 15 persen
- Yordania: 20 persen jadi 15 persen
- Kazakhstan: 27 persen jadi 25 persen
- Laos: 48 persen jadi 40 persen
- Lesotho: 50 persen jadi 15 persen
- Libya: 31 persen jadi 30 persen
- Liechtenstein: 37 persen jadi 15 persen
- Madagaskar: 47 persen jadi 15 persen
- Malawi: 17 persen jadi 15 persen
- Malaysia: 24 persen jadi 19 persen
- Mauritius: 40 persen jadi 15 persen
- Moldova: 31 persen jadi 25 persen
- Mozambik: 16 persen jadi 15 persen
- Myanmar: 44 persen jadi 40 persen
- Namibia: 21 persen jadi 15 persen
- Nauru: 30 persen jadi 15 persen
- Nigeria: 14 persen jadi 15 persen
- Makedonia Utara: 33 persen jadi 15 persen
- Pakistan: 29 persen jadi 19 persen
- Filipina: 17 persen jadi 19 persen
- Serbia: 37 persen jadi 35 persen
- Korea Selatan: 30 persen jadi 15 persen
- Sri Lanka: 44 persen jadi 20 persen
- Swiss: 31 persen jadi 39 persen
- Taiwan: 32 persen jadi 20 persen
- Thailand: 36 persen jadi 19 persen
- Tunisia: 28 persen jadi 25 persen
- Vanuatu: 22 persen jadi 15 persen
- Vietnam: 46 persen jadi 20 persen
- Zambia: 17 persen jadi 15 persen
- Zimbabwe: 18 persen jadi 15 persen
Tarif universal
Gedung Putih mengumumkan pada Kamis (31/7/2025) bahwa tarif universal untuk barang yang masuk ke Amerika Serikat akan tetap sebesar 10 persen, tingkat yang sama dengan yang diterapkan pada 2 April.
Namun, tarif 10 persen tersebut hanya akan berlaku untuk negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS.
Tarif 15 persen akan menjadi batas bawah tarif baru bagi negara-negara yang memiliki defisit perdagangan dengan AS.
Ada puluhan negara yang dikenakan tarif yang lebih tinggi dari 15 persen, baik karena mereka menyetujui kerangka kerja perdagangan dengan AS atau karena Trump mengirimkan surat kepada para pemimpin mereka.
Seorang pejabat senior AS mengatakan, negara-negara yang dikenakan tarif tinggi memiliki defisit perdagangan tertinggi dengan AS.
1 Juta Ton CPO RI Bebas Tarif Masuk Uni Eropa
Kepada Bergelora.com.di Jakarta dilaporkan, kesepakatan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) rampung dan akan disahkan pada September 2025 nanti. Rencananya kesepakatan ini akan berlaku mulia 2026 mendatang.
Menteri Koordinator perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Eropa akan mengizinkan Indonesia memasok minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dengan tarif 0% alias tanpa tarif.
Meski begitu, ia mengatakan jumlah minyak sawit yang bebas tarif masuk ke Eropa ini akan dibatasi dengan kuota volume kurang lebih 1 juta ton. Kebijakan bebas tarif ini juga berlaku untuk ekspor produk Minyak Inti Sawit atau Kernel Palm Oil (KPO).
“Dalam perjanjian tersebut, kami menyepakati dua komoditas, yaitu CPO dan Palm Kernel Oil, dan kami juga menyepakati sistem kuota. Di mana untuk CPO sekitar 1 juta dan PKO. Namun saya rasa itu tergantung pada ekspor CPO tahun lalu ke Uni Eropa,” tutur Airlangga dalam konferensi pers, Kamis (31/7/2025).
Sebagai informasi, sebelumnya Airlangga mengatakan melalui perjanjian IEU-CEPA, Indonesia akan mendapat keuntungan saat melakukan perdagangan dengan negara-negara di Benua Biru tersebut. Salah satunya adalah penghapusan tarif impor untuk berbagai produk Indonesia.
Tak tanggung-tanggung, menurut Airlangga, sekitar 80% produk asal Indonesia bisa masuk ke negara-negara Uni Eropa bebas tarif.
“Setelah perundingan berlaku, ini dalam 1-2 tahun ke depan hampir 80% barang yang diekspor dari Indonesia itu tarif biaya masuknya 0%,” jelas Airlangga dalam konferensi pers ‘Perkembangan Negosiasi Indonesia-EU CEPA’ yang diadakan secara online dari Belgia, Sabtu (7/6/2025).
Dengan begitu nilai ekspor Indonesia ke Uni Eropa diramal akan meningkatkan cukup drastis dalam beberapa tahun ke depan. Terutama untuk ekspor sejumlah produk dari sektor prioritas Indonesia yang sudah disepakati bersama seperti alas kaki, tekstil dan produk tekstil (TPT), dan produk-produk perikanan dan kelapa sawit.
“Proyeksi peningkatan ekspor Indonesia sesudah pelaksanaan CEPA ini di mana tarif hampir 80%-nya nol dan juga non-tarif barrier juga diangkat, maka Indonesia berpotensi untuk menaikkan nilai ekspor kita lebih dari 50% dalam 3-4 tahun ke depan,” terang Airlangga.
“Selama ini produk kita bersaing walaupun tidak level playing field. Artinya produk kita dikenakan 10-20% sedangkan negara lain seperti Vietnam dengan 0%, jadi dengan 10-20% cost yang lebih tinggi saja Indonesia bisa masuk ke pasar Eropa, tentunya kalau pasarnya dinolkan kita berharap lebih besar lagi volume barang yang bisa masuk baik ke Eropa maupun produk-produk Eropa yang bisa diperlukan di Indonesia,” jelasnya lagi. (Web Warouw)

