Minggu, 1 Oktober 2023

Menegakkan Sistem Kesehatan Nasional

Oleh: Hegel Terome

HARI-HARI ini kita masih akan berhadapan dengan pandemik Covid19. Jarum jam berputar, sementara jumlah manusia yang terpapar dan meninggal dunia, terus bertambah. Rasanya sulit untuk memastikan kapan wabah virus corona ini bakal mereda, apalagi berhenti. Berbagai model prediksi matematis dilakukan para pakar, namun tak seorang pun dapat menjamin kapan hal itu terjadi. Yang mungkin masuk akal dapat kita lakukan adalah menerima kenyataan, bahwa dunia hidup kita ke depan sudah berubah. Kita harus rela menerima perubahan-perubahan yang selama ini, mungkin sudah berabad-abad berlangsung sebagai tradisi, kini semua berbeda. Kita harus bersedia hidup berdamai dengan virus corona, karena andai pun kita menemukan vaksin dan memproduksi obat anti virusnya, virus ini akan terus hidup bersama kita sebagai inangnya. Virus ini, bahkan mungkin varian barunya, bakal melekat dalam bingkai budaya kesehatan kita di masa depan ini.

Dalam hal itu, sebenarnya kita dapat banyak belajar pada kasus Wuhan, tempat bermula Covid19 muncul dan menyebar menjadi wabah global. Namun dari Wuhan pula kita melihat bahwa mitigasi bencana virus demikian efektif dilakukan oleh pemerintahan China. Tentu pengalaman menghadapi wabah SARS sebelumnya merupakan pembelajaran yang sangat berharga dalam menanggulanginya. Protokol kesehatan yang dijalankan pada pademik Covid19 di China, merupakan protokol yang pernah mereka lakukan saat menghadapi SARS, sehingga tata kelolanya demikian baik. Tiap elemen dalam bagian penanggulangan bencana virus ini tampak berjalan fungsional. Negara dengan kemantapannya hadir memimpin mengatasi persoalan pelik ini.

Sebetulnya, keberhasilan China dalam menyelesaikan kasus Wuhan, adalah cerminan sistem kesehatan nasional (publik) yang baik. China telah jauh-jauh hari merancang sistem kesehatan nasionalnya sedemikian rupa, lengkap dengan sains dan teknologinya. Oktober 2016, presiden China, Xi Jinping mengumumkan suatu cetakbiru Kesehatan Nasional China, yaitu suatu pernyataan negara mengenai prekondisi kesehatan publik bagi pembangunan sosial ekonomi ke depan. Cetakbiru ini memuat kerangka dan aksi-aksi yang harus dikerjakan pemerintahan China dalam isu kesehatan nasional hingga tahun 2030. Di dalamnya mencakup layanan-layanan kesehatan publik, penataan lingkungan hidup, industri medika, kedaulatan pangan dan keamanan obat-obatan. Cetakbiru ini adalah strategi nasional China yang memuat tujuan-tujuan pembangunan kesehatan nasional yang memastikan bahwa setiap orang harus terlibat di dalamnya, mempedulikan kesehatan orang lain, dan bertanggungjawab terhadap kesehatan semua orang.

Ada lima tujuan spesifik yang tercantum dalam cetakbiru Kesehatan Nasional China, yaitu meningkatkan derajat kesehatan warga, mengendalikan faktor-faktor kesehatan nasional yang beresiko, meningkatkan kapasitas layanan-layanan kesehatan, memperluas skala industri kesehatan, dan menyempurnakan sistem layanan kesehatan nasional. Cetakbiru juga didasarkan atas empat prinsip pokok, yakni prioritas kesehatan, pembaruan dan inovasi, pengembangan ilmu pengetahuan, keadilan dan kesetaraan.

Dalam sistem kesehatan nasional China, kesehatan merupakan prakondisi yang harus tersedia bagi keseluruhan kehidupan warga yang menjadi fondasi dari pengembangan sosial dan ekonomi. Program pengembangan kesehatan China 2030 tersebut telah dikaji dan disetujui oleh Komite Pusat Partai Komunis China untuk ditetapkan sebagai rencana aksi untuk membangun China yang sehat, hingga 2030 mendatang. Dengan memahami strategi ini, diharapkan berbagai aspek kehidupan warga akan memperkuat mesin baru bagi pembangunan sosial dan ekonomi, meningkatkan pembaruan struktural dari sisi penyediaan kebutuhan medis, memperkokoh kehidupan nasional dan stabilitas sosial, tatakelola kesehatan yang seiring dengan kepentingan global, memenuhi komitmen China sebagai anggota komunitas internasional.

Xiaodong, PhD., dan kawan-kawan dalam “Healthy China 2030: A Vision for Health Care” menjelaskan bahwa China tak hanya mengalami kemajuan dalam hal layanan kesehatan dan medis, namun juga berhadapan dengan tantangan membangun China yang sehat. Setelah bertahun-tahun berupaya keras, terbentuklah sistem jaminan kesehatan nasional serta pembaruan sistem perawatan kesehatan yang baik. Sebagai hasilnya, perawatan kesehatan nasional berkembang pesat. Dengan demikian, kesehatan lingkungan juga bertambah maju sehingga kualitas udara, air, dan lainnya ikut membaik. Segi lainnya yang perlu diperhatikan adalah isu urbanisasi dan industrialisasi, penduduk yang berusia lanjut, perubahan kontinu spektrum penyakit, kondisi ekologis yang menurun, gaya hidup warga; menjadi area resiko kesehatan nasional di China.

Visi kesehatan China 2030 dibangun di atas empat prinsip utama. Pertama adalah “prioritas sehat”. Berdasarkan kondisi skala nasional, perawatan kesehatan harus menjadi prioritas dan di tempatkan di posisi strategis dalam keseluruhan proses pelaksanaan kebijakan publik. Prinsip kedua ialah “inovasi”. Industri kesehatan harus mengikuti “kepemimpinan” pemerintah, memberikan peran lebih besar kepada mekanisme pasar, dan berbarengan dengan itu melaksanakan reformasi di beberapa area kunci. Prinsip ketiga, yakni “pengembangan ilmu pengetahuan”. Cetakbiru yang ada terkait Kesehatan Nasional menitikberatkan pentingnya baik pengobatan maupun pencegahan, berfokus pada pencegahan dan pengendalian, medika Barat dan China, dan perubahan dalam moda layanan guna mengurangi kesenjangan layanan kesehatan dasar bagi warga. Prinsip keempat ialah “keadilan dan kelayakan”. Wilayah pedesaan China mendapat perhatian yang khusus oleh pemerintahan dalam mempromosikan dan mendapatkan akses yang sama terhadap layanan kesehatan dasar warga dan menjaga kesejahteraan publik.

Semua kebijakan publik di China harus selaras dengan kebijakan kesehatan nasional yang ada. Misalnya, kebijakan lingkungan hidup, pencegahan penyakit dan gaya hidup warga. Secara bersamaan, sistem layanan kesehatan publik dan industri kesehatan harus dikembangkan dalam rangka fasilitasi deteksi dini, diagnosis awal, dan pengobatan awal penyakit, sebagai langkah bermakna untuk mencegah meningkatnya angka kematian penduduk.

Lima sasaran utama yang ada dalam Visi 2030 tersebut, mensyaratkan adanya peningkatkan kualitas kondisi fisik warga dan rata-rata angka harapan hidup yakni 79 tahun, meningkatnya kesadaran warga akan kesehatan, membangun gaya hidup warga yang sehat dalam kaitan penggunaan sumber-sumber energi, efisiensi energi, dan industri yang ramah lingkungan, memastikan kecukupan pangan dan keamanan obat-obatan, menghapuskan risiko penyakit-penyakit serius, membangun sistem layanan kesehatan dan medika yang terpadu dan berkualitas, perbaikan sistem keamanan kesehatan publik, mempromosikan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi, peningkatan dalam kualitas dan derajat layanan kesehatan, pemantapan sistem industri kesehatan yang lebih optimal, pembentukan kelompok-kelompok usaha yang dilengkapi dengan kemampuan inovasi dan daya saing berskala internasional, kebijakan hukum dan peraturan yang sehat, serta realisasi tatakelola modernisasi.
Dalam cetakbiru Kesehatan Nasional terdapat sejumlah area penting terkait dengan konsep dan aksi. Pertama, terjadi pergeseran konsep kesehatan di dalam dokumen, yakni yang selama ini bersandar pada kekuatan ekonomi semata dalam mengintegrasikan pembangunan kesehatan dan ekologi. Dalam derajat tertentu, kini kesehatan menjadi indikator kunci bagi perkembangan finansial di China. Kedua, fokus layanan kesehatan selama ini yang hanya pada pengobatan penyakit berubah menjadi promosi dan tatakelola kesehatan. Ketiga, menjadi tanggungjawab setiap orang untuk mencapai “China yang sehat”. Jadi, aktivitas ini bukan semata kewajiban dari pelaksana-pelaksana kesehatan dari pemerintah. Intinya, semua warga bertanggungjawab terhadap derajat kesehatan, sedangkan pemerintah memainkan peran penting dalam memimpin, memadukan kebijakan kesehatan ke dalam semua kebijakan negara yang ada, serta memobilisasi keterlibatan warga dalam program kesehatan. Perhatian yang lebih serius harus diberikan kepada penduduk yang berisiko tinggi, seperti anak-anak, perempuan, warga lansia, migran, dan penduduk berpenghasilan rendah. Pada gilirannya, yakni industri kesehatan, utamanya industri layanan kesehatan (rumah sakit dan fasilitas kesehatan) harus tersedia tepat waktu. Bahkan China sudah menyediakan dana investasi dalam industri kesehatan ini sebesar 16 trilyun Yuan, untuk memperkuat layanan kesehatan, publikasi, radio, teve, animasi digital, dan sarana kebudayaan lainnya yang terkait. Pengembangan industri medika China, pusat olah raga dan kebugaran, bidang keperawatan, layanan konseling, dan berbagai pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan yang makin canggih dan berkualitas bagi warga di setiap wilayah di China.

Dengan makin majunya China, dengan segala kecanggihan dan inovasinya kini, perbaikan dalam rata-rata angka harapan hidup di beberapa wilayah malah lebih dari 80 tahun. Tentu ini menjadi perhatian tersendiri bagi negara-negara yang sistem kesehatannnya makin baik, seperti Amerika, Eropah, Jepang, dan lainnya. Bagi China, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Lainnya, adalah bagaimana menyediakan data akurat derajat kesehatan setiap warganya, karena tanpa data akurat mustahil target Visi 2030 China bisa diwujudkan. Komunikasi dan integrasi antar departemen dalam menyediakan data akurat sangat penting, sehingga hanya ada satu data nasional.

Mewujudkan warga yang sehat merupakan proses yang inklusif, kekuatannya sangat bergantung pada kolaborasi segala hal dan pihak. Proses pembangunan China yang Sehat 2030 memerlukan transparansi yang maksimal, masukan-masukan dari warga, dan dialog berbagai pihak untuk memastikan bahwa semua itu sesuai dengan kebutuhan kesehatan dasar yang beragam, serta memperluas kemampuan mencapai tujuan tersebut. Sejak diluncurkan program Rakyat Sehat 2010 lalu, China berhasil membasiskannya, dengan melibatkan warga secara luas, ribuan warga turut serta membentuknya di setiap langkah pemerintah. Kini, program Rakyat Sehat 2010 telah menjadi batu-pijakan dalam meningkatkan kualitas hidup warga dan tahun-tahun penuh kesehatan serta penghapusan kesenjangan layanan kesehatan antar warga dan antar wilayah.

Dalam membangun China yang Sehat 2030, maka pencegahan dan pengendalian penyakit menjadi hal pertama serta perluasan kesehatan warga yang menyeluruh, reformasi sistem medika dan perawatan kesehatan secara menyeluruh, budidaya lingkungan yang hijau, aman, dan sehat, penguatan promosi pengembangan industri kesehatan, serta perluasan pembentukan kebijakan-kebijakan sosial dan sistem kelembagaan untuk melaksanakan strategi China yang Sehat 2030.

Bagaimana dengan kita, Indonesia? Dalam UU 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, di bagian Pertimbangannya, dimaktubkan bahwa kesehatan warga merupakan hak asasi yang konstitusional. Artinya, hak ini menjadi hak dasar setiap orang yang dijamin dan harus diwujudkan oleh negara bagaimanapun caranya. Untuk mewujudkan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat harus dilaksanakan secara nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka membangun sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas seshingga terbangun daya tahan dan daya saing bangsa. Kesehatan warga masyarakat adalah prasyarat bagi pembangunan yang berkelanjutan. Gangguan terhadap kesehatan warga masyarakat akan menimbulkan kerugian ekonomis yang besar bagi negara. Sekaligus, hal itu merupakan investasi negara bagi kemajuan bangsa.

Untuk membangun sistem kesehatan nasional yang baik, diperlukan perluasan wawasan kesehatan di warga masyarakat. Untuk ini dibutuhkan peran pemerintah dan pihak pemangku kepentingan lainnya secara optimal dan kolaboratif. Peran pemerintah dari tingkat pusat hingga ke tingkat daerah (unit terkecil RT dan RW) menjadi sangat penting dan menentukan sejauhmana derajat kesehatan warga masyarakat bertambah baik. Penyediaan infrastruktur kesehatan yang canggih modern dengan kualitas dan kuantitas yang memadai sangat dinanti. Saat ini ketersediaan rumah sakit-rumah sakit yang modern, lengkap sarana dan tenaga kesehatannya, serta berbiaya murah belum menjangkau hingga di tingkat kecamatan-kecamatan di seluruh Indonesia. Bahkan akan sangat baik, apabila rumah sakit-rumah sakit sudah tersedia di tingkat desa, sehingga memungkinkan warga masyarakat berobat lebih dini dan antisipatif.

Hari ini, apabila kita membandingkan sistem kesehatan nasional kita dengan sistem kesehatan nasional China, maka banyak hal fundamental harus diperbaiki dan diciptakan kembali sehingga mampu mengikuti perkembangan atau dinamika zaman. Di China sudah digunakan sistem basis data kesehatan setiap warga yang terjaring secara online untuk sejumlah rumah utama di China. Melalui rekaman data yang ada, seseorang sudah diketahui apa penyakit yang pernah dideritanya, obat yang pernah digunakan, dokter yang menanganinya, kemajuan kesehatan yang dicapai, dll. Aplikasi semacam ini memudahkan diagnosis selanjutnya dan tindakan medis yang harus dilakukan. Tak hanya itu, inovasi dalam berbagai peralatan medis dikembangkan dan dihasilkan sehingga memudahkan kerja-kerja tenaga kesehatan. China kini telah memproduksi mesin MRI yang murah sehingga poli klinik-poli klinik pun bisa menggunakannya. Padahal, di Indonesia alat semacam ini hanya ada di rumah sakit-rumah sakit yang besar (tipe A), akibatnya banyak proses diagnosis sulit dilakukan yang berkonsekuensi lambatnya penyelamatan nyawa pasien.

Banyaknya orang Indonesia yang berobat ke Singapura atau pun ke negara lain menunjukkan bahwa rumah sakit yang canggih modern dengan dokter-dokter yang mumpuni serta pelayanan yang baik, tidak tersedia, sehingga mereka mencarinya ke negeri lain. Akibatnya, banyak kapital kita terbang ke luar negeri, sementara kita membutuhkan dana yang besar untuk memajukan sistem kesehatan nasional.

Tentu lebih dari itu, sistem pencegahan jauh lebih baik ketimbang sistem pengobatan. Untuk membentuk sistem pencegahan yang baik, dibutuhkan saling keterkaitan dengan sektor-sektor lainnya, seperti pangan, perumahan, lingkungan, pendidikan, kominfo, dan sebagainya. Tanpa kesolidan keterkaitan tersebut, sulit tercipta sistem pencegahan yang handal. Saat ini kita sering melihat bahwa sistem kesehatan nasional kita sangat rapuh, diskriminatif, dan tidak berkelanjutan serta berbiaya mahal. Banyak warga menjadi miskin karena harus membiayai pengobatannya. Meskipun kini sudah ada sistem jaminan kesehatan semacam BPJS, namun pesertanya harus membayar mahal dan birokrasi pengurusannya apabila hendak menggunakan fasilitasnya sedemikian sulit dan berbelit-belit menghabiskan waktu dan tenaga orang. Kita sebetulnya memerlukan jaminan kesehatan yang tidak berbayar alias gratis.

Sistem kesehatan nasional ke depannya membutuhkan aplikasi teknologi kesehatan yang terpadu dan inovatif dengan kemampuan memproses data yang mahabesar dan online. Untuk bisa mengolah dan mengelola tambang data, maka dibutuhkan prasarana dan sarana teknologi informasi yang handal yang sanggup mengolah basis data kesehatan setiap warga negara Indonesia tanpa jeda (real time). Dengan begitu, data kesehatan setiap warga dapat menjadi biografi medik yang memudahkan kerja-kerja pencegahan dan pengobatan.

*Penulis, Hegel Terome, pemerhati sosial dan budaya

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,552PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru