Majalah ‘Fortune’ melaporkan daftar 500 perusahaan raksasa di dunia, 129 diantaranya adalah milik China. Sementara Amerika hanya memiliki 121 perusahaan dalam daftar teresebut. Padahal 20 tahun lalu tahun 1999 China hanya memilik 8 perusahaan.
Dalam daftar 10 bank terbesar dunia, The Industrial Commercial Bank Of China (ICBC) menempati urutan teratas. Kedua diikuti China Construction Bank Corporation. Ketiga adlaah The Agricultural Bank of China. Keempat diikuti Bank of China Ltd. Urutan kelima baru bank Inggris, HSBC Holding. Bank Amerika JP Morgan Bank menempati urutan keenam. Bank Perancis BNP Paribas menempati urutan ketujuh. Bank Jepang Mitzubishi menempati urutan kedelapan. Bank of Amerika menempati urutan kesembilan, dan akhirnya kesepuluh ditempati Bank Perancis, Credit Agricole. Perubahan ekonomi telah berubah sangat cepat dipimpin oleh China,– dan media massa barat dan para pengikutinya enggan membicarakannya.
Bagi Indonesia, salah satu cara untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi gap dengan ekonomi Tiongkok adalah dengan Program Industries Follow Resources. Dr Kurtubi, pakar pertambangan alumni Colirsdo School of Mines, Anggota DPR-RI Periode 2014 – 2019 Fraksi Nasdem memaparkan garis besarnya kepada pembaca Bergelora.com. (Redaksi)
Oleh: Dr. Kurtubi
PROGRAM Industries Follow Resources, atau Industri mengikuti Sumber Daya Alam merupakan salah satu cara agar gap ekonomi Indonesia tidak semakin menganga tertinggal dari ekononi Tiongkok yang maju sangat cepat.
Manfaat program seperti ini selain untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, juga untuk melahirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru dan mengurangi kesenjangan antar daerah. Hanya dengan mempercepat pertumbuhan ekonomi, ketertinggalan ekonomi Indonesia dari Tiongkok bisa dipersempit.
Ekonomi Tiongkok bisa sehebat sekarang karena pertumbuhan ekonominya yang nyaris selalu tinggi,– diatas 7% – 8% – 9% bahkan sampai tumbuh double digit diatas 10% selama tiga dekade.
Agar ekonomi Indonedia bisa tumbuh tinggi diatas 7%, harus direncanakan secara terpadu agar INDUSTRIALISASI bisa tumbuh dan berkembang. Industri berbasis Sumber Daya Lokal mestinya menjadi program andalan.

Industri berbasis pertanian seperti pabrik makanan ternak berbahan baku jagung, bisa dibangun di seluruh Indonesia. Industri berbasis perikanan, seperti pabrik tepung dan pengalengan ikan bisa dibangun di sentra-sentra nelayan diseluruh Indonesia. Industri berbasis wisata berbasis lokal bisa dibangun dimana saja yang karena setiap pelosok Indonesia memiliki potensi wisata.
Industri berbasis tambang juga bisa segera dibangun karena cadangan terbukti (proven reserves) dari bahan tambangnya sudah tersedia. Industri berbasis tambang ini bisa segera dibangun di daerah-daerah penghasil tambang.
Sisi hulu kegiatan penambangan sebagian besar sudah berjalan. Penambangan nikel sudah lebih maju. Penambangan bauksit, penambangan pasir besi, penambangan tembaga dan penambangan emas dan lainnya ada diberbagai daerah. Semua bisa terintegrasi dengan pembangunan unit pemurnian berupa pembangunan smelter. Sebagian smelter sudah dibangun, sebagian belum.
Pembangunan industri hilir yang membutuhkan output smelter sebagai bahan baku, masih belum direncanakan secara baik dan terintegrasi. Contohnya, penambangan tembaga kapasitas besar sudah berjalan 50 tahun di Mimika, Papua. Namun hingga kini masih belum jelas perencanasn industri hilirnya. Penambangan tembaga skala menengah,–lebih kecil dari Freeport,– di Sumbawa Barat yang sudah berjalan sekitar 30 tahun,– juga tidak pernah direncanakan dengan baik dan terintegrasi antara sisi hulu penambangan dengan sisi tengah smelter dan sisi industri di hilir.
Sebenarnya sudah ada kerjasama antara Freeport dengan Aman Mineral untuk membangun bersama smelter kapasitas besar di Sumbawa Barat dan sudah tersedia lahan luas untuk pembangunan smelter besar berikut industri hilirnya. Rencana ini ditunjang oleh adanya pelabuhan khusus tambang di Teluk Benete Sumbawa Barat. Namun ternyata belakangan pemerintah memutuskan bahwa Freeport akan membangun smelternya di Gersik Jatim.
Saya sudah melihat rencana lokasi smelter Freeport di Gersik. Ternyata berupa tanah reklamasi. Sesorang tidak perlu harus sekolah tambang dulu untuk menyimpulkan bahwa membangun smelter di Gersik sangat tidak efisien. Karena biayanya menjadi jauh lebih mahal dibanding jika kedua perusahaan membangun smelter kapasitas besar di Sumbawa Barat.
Tidak hanya karena lokasi di Gersik berupa tanah reklamasi yang menjadikannya sangat mahal,– juga karena jarak angkut bahan baku smelter dari Papua ke Gersik lebih jauh dari jarak Papua ke Sumbawa Barat.
Mengingat sekarang Freeport 51% sahamnya dimiliki oleh BUMN Inalum, mohon Menteri BUMN Erick Thohir yang barus saja membuat terobosan dengan memecat Dirut Garuda karena kasus penyelundupan,– kiranya bisa mengevaluasi dan menghitung ulang keekonomian dan manfaat membangun smelter di Gresik dengan memperhatikan aspek kesenjangan antar daerah.

