Kamis, 13 Juni 2024

Mengulik Penderitaan, Mengampu Pertobatan

Oleh: Toga Tambunan

BAPA SURGAWI menilai tegas standar baik atas keberadaan semua ciptaanNya. Segra setelah Adam, leluhur kita itu tercipta, dianugerahi posisi istimewa spesial khusus jabatan otorisasi mengelola bumi dan atas segala makhluk pengisinya menunaikan kehendakNya.

Kejadian 1:28-29 menyaksikan: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Begitulah manusia itu di kondisikan Bapa Surgawi hidup amat nyaman dipercayai mengelola bumi dan segala makhluk pengisi ciptaanNya.

Manusia satu-satunya makhluk ciptaanNya berbekal akal pikiran dan memiliki roh, menyadari, jagat raya ini luas takkan terukur dengan segala daya instrumen tehnologi sekalipun paling termutakhir. Diibaratkan kesanggupan kriya manusia itu tak sampai sebutir debu terhadap daya maha kuasa Allah yang wujudNya Kasih Alfa Omega. Elohim Jahweh itu luarbiasa maha kuasa dengan Kasih tak berkesudahan.

Manusia direncanakan hidup selamanya dalam naungan KasihNya, berada dilingkungan area Kerajaannya, tanpa hitungan umur, bebas dari kesukaran, dari penyakit, dari penderitaan.

Tetapi malapetaka menimpa leluhur manusia itu, berdampak hingga kini. Berhubung Lucifer berhasil mempecundang Hawa dan Adam, yang oke atas hasutan Lucifer, mengingkari petunjuk Allah perihal buah ditengah Taman Eden, maka keberadaan hidup nyaman Adam dan Hawa sirna dan berganti total.

Jabatan yang diampunya semula, otoritas mengelola atas bumi dan segenap makhluk didalamnya, dicopot. Mereka terjungkal dari Taman Eden, kawasan surgawi itu, ke sebelah timurnya, yakni ke lokasi tanah, yakni tempatnya bahan tubuh Adam tercipta, yang di jaga keras melebihi bui penjahat nara pidana. Sebagaimana diriwayatkan pada Kejadian 3:23-24. “Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan”.

Setelah kondisi terjungkal, umur manusia tak lagi bebas waktu melainkan diputus dengan mengalami mati. Dosa itu bukan hanya menyebabkan mati, juga akan memunculkan sakit, hidup parah, penuh kemelut, terbeban kerja berat.

“Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu”
(Kejadian 3:16-19)

Memang Lucifer yang menipu. Selama muslihat Lucifer diluar diri Adam & Hawa tidak ada masalah terhadap anugerah Allah yang mereka terima. Ternyata kemauan bebas Hawa menyambut dan berikutnya Adam, mengaplikasi petunjuk Lucifer itu, jadi pangkal hulu malapetaka manusia hingga kini. Kemauan Adam &, Hawa bukannya menolak.

Meski waktu kejadiannya itu sudah lewat luar biasa sangat lama sekali, ternyata proses interaksi Lucifer dengan manusia tetap berulang terjadi hingga kini dan tetap marak merajalela, menghempas penderitaan ke hidup manusia terdampak.

Pemerintah dimana saja, menerbitkan aturan diantaranya RI, misalnya melarang menerima ataupun memberi uang sogok, gratifikasi. Lucifer memotivasi melakukannya agar segra kaya. Anda selaku pelaku ditangkap, dipecat, dihukum sesuai kejahatan. Kerakusan nafsu makan berlebih terutama yang bertentangan kebutuhan tubuh, selera atasnya dipancing berliur oleh Lucifer, diikuti, membangkit penyakit. Nafsu memuaskan keinginan mata dan daging melilitkan uang pinjaman yang menyesakkan napas terkait jatuh tempo cicilan tagihan. Manusia menjerit kesakitan padahal ulahnya sendiri terprovokasi Lucifer.

Yang bersangkutan cenderung mencari penyebabnya salah pada orang lain, tandemnya, mengecam orang lain, bukannya pertama kali mengoreksi diri sendiri.

Lucifer tahu Yesus itu anak Allah, Raja diatas segala raja. Meski demikian berhubung dia memang bertekad sombong meninggikan diri diatas Allah, disertai kejahatannya pasang ketegaran diri berupaya menipu Yesus, sambil mengintip saat tepat hitungkannya kala fisik Yesus sedang sangat lemah usai puasa tidak makan 40 hari. Yesus langsung mengenyakannya, tidak seperti sambutan kemauan Hawa dan Adam.

Sekalipun Abram menggauli Hagar bukan inisiatif sendiri, tapi karena kemauannya menerima bukan menolak usulan bininya Sarai, tetap atasnya dinilai keliru. Maka kesetiaannya diuji melintasi puting beliung tajam sengit terhadap putra tunggal pewarisnya. Syukurlah dia lulus.

Iblis diizinkan Allah mencobai Ayub. Iblis membangkrutkan segala usaha dan membunuh putra putrinya semua. Para sahabatnya menudingnya dimurkai Allah berdasar logika melihat fakta konkrit barah menganga di sekujur tubuh Ayub membusuk. Ayub amat tersiksa dan bingung mengalami penderitaan berat yang muskil itu.

“Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya”
Ayub 2:9-10

Penderitaan muskil itu tidak membuatnya meninggalkan atau menyalahkan Allah. Allah memulihkan kondisinya dengan imbalan kekayaan berlipat ganda.

Pengalaman Ayub mengajarkan seseorang yang hidupnya sungguh saleh akan lain di mata orang sekitarnya, bisa dituding berdosa, jangan terpengaruh cemoohan orang, tetap kerjakan keselamatanmu yang difasilitasi Allah.

Berasumsi atas orang tak disukai misalnya menuduhnya pasti bersikap atau berniat buruk, sering muncul, dalam diri orang tertentu, sebenarnya kontaminasi Lucifer meracuni silahturahmi antar keluarga agar makin runyam.

Begitu juga tetap bela dan tetap turut anjuran ortu yang terbukti berbuat dosa, dengan alasan wajib berbakti pada ortu, sehingga pilihan wajib taati perintah Allah lebih dari urusan lainnya, diabaikan adalah opini suntikan jahat Lucifer.

Ortu hanya membunyikan serta menuntut hukum ke-lima kepada anak-anaknya dan abaikan hukum ke-satu kepada dirinya, merupakan bisikan iblis mengintimidasi kesenjangan ditengah keluarga.

Anak keluarga broken-home akan membawa sikon ketidakberesan atau kekacauan di rumah semula, menduplikasi sikon pengalamannya itu ke dalam keluarganya sendiri yang didirikan bersama pasangannya.

Dosa itu menjalar, dan jauh sebelumnya Allah telah memperingatkan dosa orang tua berbiak pada keturunannya yang tidak taat pada Allah, selain memberitahu kesabaranNya, dalam Bilangan 14:18, sbb: ” TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat”

Asalkan anak itu taat setia ketetapanNya, akan terhindar dari dosa ortunya. “Tetapi kamu berkata: “Mengapa anak tidak turut menanggung kesalahan ayahnya? – Karena anak itu melakukan keadilan dan kebenaran, melakukan semua ketetapan-Ku dengan setia, maka ia pasti hidup”_
Yehezkiel 18:19

Memudahkan warga memahami kebenaran Allah, mengenai penyakit bawaan lahir dialami seseorang, secara sederhana Yesus menerangkan sbb: “Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3)

Kemauan memaknai hasutan Lucifer berbuat dosa dan bertindak operasional, sepenuhnya kedaulatan tiap individu. Allah tidak mencampuri hak azasi manusia itu, meski mengawasinya. Allah tidak mencabut kemerdekaan tiap orang berkemauan bebasitu dan tidak memaksa manusia mengaplikasi kehendakNya. Masaalah terjadi karena kemauan manusia tidak stabil mempercayai dan tidak patuh petunjuk Allah.

Meskipun telah jatuh ataupun terpapar dosa, mengoke hasutan Lucifer membangkang Allah,
Allah tetap selamanya mengasihi manusia .

Allah setia program KasihNya. Bapa Surgawi menyediakan fasilitas, sarana tehnis, prosedur dan mekanisme pertobatan. Pertobatan efektif melepas-merdekakan segala beban penyiksa hidup, penyembuh tiap jenis penyakit apa pun, membebaskan lilitan hutang.

Pendosa yang sungguh berhasil berjuang memulihkan karakternya semula seperti Adam sebelum berdosa, sehingga namanya dipastikan terdaftar di Buku Kehidupan Anak Domba, Allah pasti mengangkatnya dipulihkan menerima mahkota otoritas mengelola bumi dan makhluk seisinya, sebagaimana semula keputusan Allah. Tertulis pada Wahyu 20:4a, ” Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi…….. “ dan berlanjut pada Wahyu 20:6c sbb : “……. tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya”

Kerajaan Seribu Tahun itu nanti berlangsung bagi yang terdaftar di Buku Kehidupan Anak Domba mendahului fase hidup manusia dipulihkan bebas umur, tanpa derita tanpa tangis yakni di Langit Baru Bumi Baru seperti di tegas Wahyu 21:4 sbb: “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu”

Keputusan Elohim Jahweh ternyata semua tetap eksis, dinyatakan ulang oleh Rohkudus, tidak ada satu pun hilang atau terlupa setelah berselang diperkirakan sekurangnya 8.000-an tahun, manusia mengabaikannya. Bapak Surgawi satu-satunya Allah yang benar-benar setia ucapanNya dan merealisasinya.

Camkan: inventarisasi semua dosa, mohon pengampunan. Pertobatan jangan ditunda, selagi hari masih belum gelap yang tak terprediksi saatnya ditutup.

Kemuliaan bagi Allah. Haleluya. Selamat hari minggu.

Bekasi, 17 September 2023

*Penulis Toga Tambunan, evangelis Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru