.JJAKARTA – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan sejumlah fasilitas penting milik militer Amerika Serikat (AS), termasuk stasiun pengisian bahan bakar di Pelabuhan Duqm, Oman.
Menurut Teheran, fasilitas tersebut digunakan untuk mengisi bahan bakar kelompok kapal induk AS yang selama ini menjadi tulang punggung operasi pengeboman Washington terhadap Iran.
Militer Iran juga mengeklaim menyerang pangkalan militer AS di Qatar dan Yordania.
Serangan terbaru ini disebut sebagai aksi terbesar Iran terhadap negara-negara Arab di kawasan sejak tercapainya perjanjian damai sementara bulan lalu.
Teheran menilai gelombang serangan AS ke wilayah Iran telah menggagalkan berbagai upaya diplomasi yang dibangun selama beberapa bulan terakhir. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh AS telah mengembalikan situasi tidak aman di Selat Hormuz dan mengganggu pelayaran komersial internasional melalui campur tangan terhadap langkah-langkah yang diambil Iran di kawasan tersebut.
Dilansir The Telegraph, Senin (13/7/2026), lima negara di kawasan dilaporkan menjadi sasaran serangan, termasuk Qatar yang selama ini berperan sebagai mediator dalam pembicaraan damai. Qatar menyebut serangan Iran sebagai eskalasi berbahaya. Aementara Oman mengecam serangan di wilayahnya yang terjadi hanya beberapa jam setelah pembicaraan dengan Iran untuk meredakan ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Militer Kuwait juga melaporkan sebuah serangan drone terhadap anjungan pengeboran minyak lepas pantai yang menyebabkan seorang pekerja terluka. IRGC mengeklaim serangan drone tersebut turut menargetkan peluncur roket milik AS.
Iran kemudian mengumumkan Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan menyerang dua kapal komersial lain yang melintasi jalur sempit tersebut.
Namun, saat ditanya mengenai status Selat Hormuz, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada NBC bahwa jalur tersebut tetap terbuka bagi pelayaran komersial, meski menolak memberikan penjelasan lebih lanjut. AS balas dengan serangan baru
Belakangan pada Minggu (12/7/2026), militer AS mengumumkan telah memulai gelombang serangan baru terhadap Iran.
Washington menyatakan, operasi itu bertujuan terus melemahkan kemampuan Teheran untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Hantam Pangkalan Amerika di Bahrain dan Kuwait Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan, Trump telah memerintahkan serangan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban Iran atas aksi-aksinya. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa 10 rudal AS menghantam Pulau Qeshm, pulau strategis yang berada di mulut Selat Hormuz. Iran mengeklaim tidak ada korban jiwa dalam serangan itu.
Namun, menurut kantor berita IRNA, satu orang tewas dan empat lainnya terluka setelah serangan AS menghantam sebuah stasiun pompa air. Kantor berita Mehr juga melaporkan dua lokasi di dekat Ahvaz, kota yang dikenal sebagai pusat industri minyak Iran, turut menjadi sasaran serangan.
Eskalasi konflik meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia. Harga minyak dunia pun melonjak setelah saling serang sepanjang akhir pekan. Minyak mentah Brent naik 3,92 persen menjadi 78,99 dollar AS (Rp 1,4 juta) per barrel, sementara minyak mentah AS menguat 3,44 persen menjadi 73,87 dollar AS (Rp 1,3 juta) per barrel. Baca juga: Trump Susun Serangan Baru ke Iran Saat KTT NATO,
Sambil Makan Malam
Konflik juga diperkirakan semakin membebani negosiasi antara Washington dan Teheran yang kini memasuki pertengahan masa perjanjian damai sementara selama 60 hari.
Salah satu isu paling krusial dalam pembahasan adalah masa depan pengaturan dan kendali di Selat Hormuz. Salah satu kapal yang diserang Iran adalah kapal kargo berbendera Siprus yang terbakar hingga awaknya terpaksa meninggalkan kapal. IRGC menyatakan, kapal-kapal tersebut mengabaikan peringatan dan instruksi Iran mengenai jalur pelayaran yang telah ditentukan.
Data pelayaran menunjukkan kapal-kapal itu berupaya melintasi Selat Hormuz melalui rute yang menghindari perairan teritorial Iran.
Sebelas awak kapal diketahui merupakan warga negara India. Kementerian Luar Negeri India menyatakan, operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung terhadap seorang pelaut yang dinyatakan hilang. Iran tolak kesepakatan yang dianggap sepihak
Serangan Iran terjadi sehari setelah AS mengeluarkan ultimatum agar Teheran secara terbuka mengakhiri serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Washington juga melancarkan salah satu gelombang serangan udara terbesar terhadap Iran sejak pengumuman gencatan senjata.
CENTCOM menyatakan, sekitar 140 target di Iran, termasuk fasilitas rudal dan drone, telah diserang, sementara media Iran melaporkan ledakan terjadi di berbagai wilayah.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator dalam pembicaraan damai, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima kesepakatan yang dianggap sepihak.
“Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah mengatakan kepada kalian: tepati janji atau bayar harganya. Kenyataan sedang mengetuk pintu,” tulis Ghalibaf melalui X.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Pakistan menyerukan deeskalasi dan meminta seluruh pihak menahan diri dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Iran.
Sementara itu, militer Yordania melaporkan tiga rudal Iran jatuh di wilayah negaranya pada Minggu dini hari. Tidak ada korban jiwa, meski terjadi kerusakan material ringan. (Enrico N. Abdielli)

