Di tangan Sherly Tjoanda, media sosial bukan hanya sebatas instrumen populisme yang kerap hipokrit. Sherly Tjoanda menggunakan media sosial sebagai “booster ot hope”, bahwa dengan bergandeng tangan meski berbeda bisa menciptakan kolektifitas yang bisa menggerakan sebuah kemajuan yang nyata dan fenomenal.
Oleh: Jerry F. G. Bambuta*
BEBERAPA hari bertualang menyusuri Jailolo, Ternate, Sofifi dan Weda membawa saya secara langsung melihat jejak kepemimpinan seorang Sherly Tjoanda (ST) di bumi Maluku Utara.
Bukan saja menyimak dari para tokoh masyarakat, tapi juga menyimak suara-suara simpatik dari masyarakat akar rumput. ST bisa di sebut pemimpin dari latar belakang multi minoritas, ia seorang Tionghoa dan juga nasrani yang memimpin daerah dalam basis mayoritas non nasrani.
Sepak terjang seorang ST mampu merontokan sekat multi minoritas tersebut, bahkan mampu membaurkan dirinya dalam ruang-ruang pluralitas etnis, agama dan sosial.
Meski menjabat sebagai gubernur, sentuhan dari totalitas pengandian ST lebih terasa bukan hanya sebatas top eksekutif di tingkat provinsi, tapk lebih kental berperan sebagai “ibu” yang mengayomi segala bentuk aspirasi masyarakat.
Mengayomi secara tulus tanpa harus di isolasi oleh sekat elitis, diskriminasi ataupun eksklusifitas. Ia menjelmakan dirinya pemimpin natural yang bisa menyentuh dahaga masyarakat akan pengayoman publik secara nyata.
Saat isu intoleransi membuat gaduh nasional, Maluku Utara malah menjadi ruang sejuk di mana solidaritas dalam pluralitas awet terpelihara.
Maluku Utara ibarat “miniatur Indonesia” yang sejati yang berada di kawasan Timur Indonesia. Maluku Utara menghembusi Indonesia dengan aura sejuk bahwa “Bhineka Tunggal Ika” masih kokoh tertancap di bumi Nusantara.
Kerap kali, yang ia lakukan bukan hanya hal-hal fenomenal dalam solusi kebijakan publik, tapi juga melakukan hal-hal sederhana tapi sangat menyentuh masyarakat.
Ia memantik sebuah harapan adanya pemimpin egaliter ketika banyak pemimpin publik cenderung korup dan elitis.
Ia memantik sebuah optimisme dari beragam kalangan masyarakat, bahwa Maluku Utara bisa dengan kepala tegak menatap masa depan.
Di tangan ST, media sosial bukan hanya sebatas instrumen populisme yang kerap hipokrit. ST menggunakan media sosial sebagai “booster ot hope”, bahwa dengan bergandeng tangan meski berbeda bisa menciptakan kolektifitas yang bisa menggerakan sebuah kemajuan yang nyata dan fenomenal.
Semasa Benny Laos hidup, ia hanya seorang isteri yang lembut dan nyaman bersembunyi di balik keteguhan suaminya. Hari ini, ia belajar kuat untuk kokoh berdiri. Benny Laos bukan hanya mewariskan konsorsium bernama Bela Group, tapi mewariskan “mimpi bernyawa” bagi perubahan Maluku Utara.
—–
*Penulis Jerry F. G. Bambuta,.Forum Literasi Masyarakat

