Kamis, 22 Februari 2024

Nasionalisme Gerindra Membajak Demokrasi

JAKARTA- Andaikan Prabowo Subianto terpilih menjadi presiden dalam Pemilu 2014 dinamisme tafsir agama dan keberagaman kepercayaan akan menjadi musuh pemerintah. Atas nama nasionalisme Gerindra hendak membajak demokrasi Demikian Gerakan Kebhinnekaan untuk Pemilu Berkualitas (GKPB) dalam rilis yang diterima bergelora.com, di Jakarta, Rabu (30/4)

Pakar Komunikasi Universitas Indonesia dan Konsorsium Belajar Islam, Ade Armando, mempertanyakan bagaimana dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dan kelompok-kelompok tarekat atau sufi yang paham dan praktik keagamaannya dianggap tidak lagi murni dari Islam “Arab Saudi”, karena berbaur dengan tradisi Nusantara dan kepercayaan-kepercayaan leluhur sebelum Islam masuk?

“Bagaimana pula kehidupan para penghayat agama lokal yang bahkan sudah ada sebelum Indonesia merdeka dan selama ini masih terdiskriminasi dan sering dituduh menistakan dan menyelewengkan agama-agama yang diakui negara?” ujarnya.

Jadi menurutnya, Manifesto Perjuangan Partai Gerindra yang menggelorakan “nasionalisme sempit“ berpotensi besar memberangus fakta kebhinnekaan Indonesia.

“Manifesto partai yang fasis, melawan semangat demokrasi yang berkeadilan dan bertolak belakang dengan Deklarasi PBB 1981 tentang Penghapusan Segala Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi berdasarkan Agama atau Keyakinan,” tegasnya.

Menurutnya atas nama nasionalisme Gerindra hendak membajak demokrasi. Menggunakan mekanisme demokrasi dengan mengikuti pemilu, namun setelah mendapatkan kekuasaan, regulasi dan kebijakan yang dibangun Gerindra tidak lain perwujudan kepentingan politik yang antidemokrasi yaitu fasisme. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru