JAKARTA- Saatnya dunia mengedepankan nilai-nilai kemanusian yang universal dan menghentikan segala diskriminasi dan politik rasial, terkait Kerusuhan berbau agama di India yang sungguh mengerikan. Jumlah korban tewas dalam konflik umat Muslim dan Hindu di India bertambah dari 38 menjadi 42 orang. Sejumlah tokoh, salah satunya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, mengecam kekerasan komunal di negara itu dengan menyebut umat Islam di sana dibantai. Hal ini pula yang membuat Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo Ikut sedih dan prihatin.
“Kekerasan terhadap saudara kita di India tidak bisa dibenarkan dan kita berharap tragedi kemanusian harus dihentikan karena segala perbedaan dan pandangan harus di selesai dengan cara beradab dan nilai kemanusian,” Kata Antonius Benny Susetyo, kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (29/2)
“Dengan penuh keprihatinan, kita berharap pemerintah India memutus tali kekerasan dan menyelesaikan tragedi kemanusia dengan mengedepankan prinsip Hak azasi manusia yang universal. Setiap manusia di Mata Tuhan memiliki arti dan bernilai,” katanya.
Ia mengingatkan, tragedi kemanusian itu melukai keadaban nurani yang mengkoyak rasa kemanusian, Kekerasan menghancuran terhadap wajah Tuhan yang maha rahim.
Diketahui sebelumnya, Angka kematian terbaru dalam kerusuhan tersebut dilaporkan media-media setempat, Sabtu (29/2/2020). Polisi India mengklaim telah menangkap 514 orang karena kekerasan agama yang mematikan di Ibu Kota India, New Delhi.
Kekerasan itu membuat pemerintah India menuai kecaman internasional karena gagal melindungi minoritas Muslim.
Presiden Erdogan, yang selama ini mencitrakan dirinya sebagai pembela umat Islam, mengecam keras kerusuhan komunal di India.
“India sekarang telah menjadi negara di mana pembantaian tersebar luas. Pembantaian apa? Pembantaian umat Islam. Oleh siapa? Orang Hindu,” kata Erdogan dalam pidatonya di Ankara Sabtu (29/2).
Menurut sebuah dokumen yang dilihat oleh AFP, para korban tak hanya dari komunitas Muslim, tapi juga dari komunitas Hindu.
Erdogan menuduh gerombolan massa menyerang Muslim dan melukai anak-anak yang belajar di pusat-pusat pembelajaran pribadi dengan tongkat logam seolah-olah akan membunuh mereka.
“Bagaimana orang-orang ini memungkinkan perdamaian global? Itu tidak mungkin. Ketika berpidato—karena mereka memiliki populasi yang besar—mereka mengatakan kami kuat tapi itu bukan kekuatan,” ujar Erdogan.
Konflik antara kelompok Muslim dan Hindu itu bermula dari protes damai kelompok Muslim terhadap Citizen Amandement Act (CAA) atau Undang-Undang Perubahan Kewarganegaraan. Protes damai kelompok Muslim penentang CAA berubah menjadi kerusuhan ketika kelompok Hindu garis keras pendukung CAA menyerang demonstran Muslim dan membakar Masjid Ashok Nagar di New Delhi.
Menurut para petugas, polisi masih mencari saluran air dan rumah-rumah yang dibakar untuk menemukan jasad-jasad korban. Mengutip laporan
The India Express, polisi menyiapkan daftar sekitar 250 korban—meninggal dan luka—dan satu dari setiap tiga korban terlihat terluka oleh peluru. Polisi sedang menyelidiki bagaimana begitu banyak perusuh mendapatkan akses senjata. (Web Warouw)

