Senin, 20 April 2026

Obituari 40 Hari Prie GS: Angsa Putih Itu Telah Pergi

Si Angsa Putih, Prie GS. (Ist)

Kepergian Prie GS, Buyawan masih menyisakan duka tidak hanya pada keluarga, namun juga pada beberapa kalangan budayawan. Hasan Aoni dari Omah Dongeng Marwah mengenangnya pada peringatan 40 hari kepergiannya dengan tulisan kepada pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

 
Oleh: Hasan Aoni
 
22 Maret 2021 ini 40 hari kepergian Mas Prie GS. Saya belum pernah menyaksikan seorang budayawan, yang secara pribadi saya kenal kepergiannya mendapat perhatian banyak kalangan. Ia wafat di usia 57 tahun. Usai shubuh pada Jumat wage, 12 Februari 2021, aliran darah menuju jantungnya melaju kencang dan tak lama kemudian berhenti.
 
Sebelumnya, setiap pagi, ia menyapa ratusan santri virtualnya melalui Facebook. Salam pembuka beraksen Arab yang hampir “fasih” meluncur dengan tenang. Meski tak mengumbar senyum di awal ceramah, sorot matanya menyiram kesejukan. Kata-katanya sebentar lagi akan mengganti embun yang menguap ditempa matahari. Ia berbaju koko dan berpeci hitam, duduk bersila ditemani angsa putih yang anggun berenang di telaga. Mural yang menjadi saksi ceramahnya setiap pagi.
 
Namun, pagi itu, sampai sinar matahari merambat genting, ia dan angsa itu tak juga hadir. Lalu datang kabar yang sangat mengejutkan itu. Saya menghadapi kesulitan menerima fakta itu. Ia pergi dengan sangat sederhana. Cara perginya makin menguatkan citra kesederhanaannya, baik pikiran maupun sikapnya. Dalam ceramah-ceramahnya usai subuh itu, ia pintar mengurai masalah serumit benang kusut sekalipun dan selalu kaya akan diksi. Penjelasannya mudah dikunyah oleh akal sehat dan kadang menghenyak logika berpikir umum. 
 
Tetapi, yang tampak sederhana itu ternyata sulit dijalani oleh banyak orang. Ia memperolehnya tak hanya dari bangku sekolahan yang sering ia sebut sangat mewah bagi keluarga yang secara ekonomi pas-pasan. Ia melakukannya dengan tirakat panjang dari sebagai penggambar kartun, wartawan, penyair, aktor drama, penulis, penceramah sampai pencerah. Demikian secara sekuens, tetapi lebih dari itu ia melakukannya dengan sangat dramatik.
 
Pilihan hidupnya dijalani bukan tanpa pergulatan. Ia punya bakat pemberani, cerdas dan lucu sekaligus. Tetapi, punya saja ternyata tak cukup. Ia tirakati semua tabungan genetik itu dengan bercucur keringat. Ia dicerca seperti umumnya pebakat baru, tetapi tak menyerah dan terus mengasah diri, bahkan menjadi batu asahan bagi banyak orang di kemudian hari.
 
Kesederhanaan keluarganya yang tak berumah sejak kecil lazimnya membentuk mental rendah diri. Dari tulisan-tulisannya yang indah itu, ia meyakini bahwa kepapaan di masa kecil itu justru telah menempanya menjadi pribadi yang kuat. Dan ketika sampai di puncak, ia tak melupakan lembah. Ia berhasil bermetamorfosa dari selayaknya rendah diri ke rendah hati.
 
Saya membayangkan betapa sulit Mbak Titut, Suha dan Gibran (isteri dan kedua anaknya) yang shaleh-shalehah menerima kepergiannya. Tuhan menghadirkan dia di dunia rupanya tak perlu lama. Kepergiannya terjadi di saat ia berada di puncak. 
 
Tiba-tiba saya teringat Michael Jordan. Ia meninggalkan dunia basket profesional di tengah puncak prestasi dan popularitas. Tapi, ia bukan Jordan yang mengundurkan diri bahkan sampai empat kali dari dunia selebar 28 kali 15 meter lapangan basket itu. Prie GS mengundurkan diri dari dunia fana yang sesungguhnya dan tak bisa kembali secara fisik seperti Jordan.
 
Dengan peran dan karyanya, dia bukan saja milik keluarga, tetapi umat. Fakta bahwa dia milik umat itulah yang akan menjadi momen yang sangat mencekam bagi keluarganya di masa-masa awal menerima kepergiannya. Ia akan terus dipanggil melalui tulisan dan dibicarakan oleh banyak orang. Seluruh sejarahnya akan menjadi teladan yang akan memanggilnya kembali ke dunia melebihi Jordan. Ia pergi, tetapi sesungguhnya tidak. Ia laksana gading bagi gajah, meninggalkan kebaikan dan kerendahatian yang membuatnya selalu hidup di benak banyak orang.
 
Pagi itu, setelah dipastikan ia tak hadir dan kabar tentang kepergiannya makin ramai diberitakan di sosial media, saya membuka kembali tulisan dan ceramah-ceramahnya. Angsa itu, yang setia menemaninya setiap ceramah, ia tak cuma mural, tetapi sekaligus teman. “Meskipun warnanya putih, ia bertelur emas!” candanya kepada Candra Malik dalam program “Humor Sufi”.
 
Saya mencoba memahami kata-katanya yang mungkin terdengar bercanda. Ia memperlakukan angsa yang berenang di telaga itu dengan cara yang bermartabat. Angsa itu baginya bukan sekadar lukisan. Ia Odette, angsa putih, yang diperagakan sebagai tarian balet _swan lake_ yang anggun dalam film “Black Swan” (2010). Sepanjang hidupnya, ia menari dengan siapapun dan di panggung manapun. Lukisan itu menjadi semacam reportoar bagi kepergiannya. Dan itu memberi pesan yang sangat dramatik saat kini harus dikenang. Angsa itu mewakili dirinya yang setia menebar cinta kepada siapapun, orang baik sampai bahkan bajingan. Ia teman bagi siapapun.
 
Seperti angsa itu, yang bersayap lebar dan mampu terbang secepat burung, yang geraknya lentur bagai pegas, ia, Prie GS, bersamanya atau menjadi si putih itu, telah terbang dengan sunyi dan sederhana. Ia jangan-jangan menantikan situasi kematian yang sederhana itu tanpa semua orang harus tahu. Seperti Rumi yang menanti ajal untuk bertemu Kekasih yang sesungguhnya.
 
Selamat jalan angsa putihku. Bersama teladanmu kami selalu belajar.
 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles