Rabu, 24 Juni 2026

Obituari Kawan Yamin, Pelopor Gerakan Mahasiswa 80’an

Ketua Umum SekNas Jokowi, Muhammad Yamin, SH. (Ist)

YOGYAKARTA- Sejak sore hari rumah Muhammad Yamin Mangkunegara (53 tahun), di Perum Batan No.21, Pugeran III , Gang Perkutut, RT 09 RW 65, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta mulai ramai dikunjungi orang. Semua orang menunggu kedatangan Yamin. Suasana tidak seperti biasanya, kali ini dirundung duka. Kawan Yamin telah berpulang keharibaan Sang Pencipta, Jumat, 22 Maret 2019.

Di halaman rumah masih gerimis, ketika Yamin diturunkan dari mobil jenazah, , ratusan pelayat mendekat, termasuk banyak kawan yg mencoba memotret… Neni, istri Yamin,– sedikit histeris berteriak, “Tolong, jangan difoto…jangan dishooting, tolooong ya…”

“Neni Shock banget. Miris hatiku, gak menyangka semua secepat ini,” Hari Subagyo, Ketua Umum Masyarakat Pengawal Jokowi (Maskowi) melaporkan dari Yogyakarta. Billy putra Yamin ikut memandikan ayahnya. Adiknya, Nadine menempel terus ke ibunya.

Semua kawannya tidak pernah menyangka Yamin akan pergi secepat ini, karena Yamin masih sangat aktif memimpin SekNas Jokowi, untuk memenangkan Jokowi-Maaruf dalam Pilpres 2019 ini. Yamin mengalami kelelahan dan serangan Jantung saat sedang melakukan perjalanan di Cirebon saat dalam perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta.

Agus Edi Santoso sangat kaget mendengar berita kepergian Yamin. Sore hari kawan seperjuangan Yamin melawan Soeharto di Era Orde Baru ini sudah bertemu dengan Anharuddin untuk mengenang Yamin disebuah kawasan di Kalibata.

“Bagaimanapun juga aku shock mendengar berita ini. Walaupun saat ini kita berbeda pilihan dalam dukungan capres, tapi Yamin tetap kawan penting bagi masa depan perjuangan demokrasi,” demikian Agus Lenon yang saat ini mendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Anharudin yang kini bekerja sebagai PNS di Kementerian Desa dan Transmigrasi menegaskan, perbedaan pendapat atau taktik politi sifatnya sementara. Tapi kepergian Yamin harus menjadi perhatian bagi kesehatan para aktifis yang masih tetap berjuang.

“Perjuangan masih panjang sementara usia dan kekuatan sudah berkurang. Oleh karena itu penting untuk menjaga kesehatan. Tugas kita masih banyak,” ujarnya.

Obrolan kedua orang yang tidak sempat melayat Yamin ini mengenang kegigihan Yamin yang tak pernah padam mendukung Presiden Jokowi sejak maju menjadi Gubernur Jakarta. Ya! Bagi Yamin, Jokowi adalah Presiden yang berasal dari rakyat kebanyakan.

“Jokowi adalah orang biasa jadi Presiden. Dia mewakili kehidupan dan pikiran rakyat kita kebanyakan. Hatinya adalah hati rakyat,” Yamin menjelaskan pada suatu waktu lalu.

Sang Pelopor

Pada pertengahan tahun 80-an, semua kampus di seluruh Indonesia dikuasai oleh rezim NKK/BKK. Saat itu mahasiswa dilarang bicara politik oleh Orde Baru. Semua kampus disusupi intel dan sewaktu-waktu bisa menangkap siapa saja yang mengkritisi Soeharto dan Orde baru. Mayoritas mahasiswa memilih masa bodoh dan bersenang-senang ketimbang berurusan dengan politik yang menakutkan.

Yamin, mahasiswa Fakultas hukum, Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta angkatan 1984 adalah salah satu dari segelintir mahasiswa yang berani mempelopori pembangunan gerakan mahasiswa di Yogyakarta. Bukan itu saja, Yamin juga yang mendorong agar mahasiswa keluar dari kampus dan masuk mengorganisir rakyat diberbagai kasus perlawanan terhadap Orde Baru.

Deddy Mawardy, salah seorang komisaris di sebuah BUMN mengenang sepak terjang Yamin sebagai orang yang tak kenal lelah, berprinsip dan berkomitmen untuk mewujudkan prinsipnya itu.

“Tapi Yamin bukan hanya kawan seperjuangan. Ia adalah seorang kawan yang selalu punya waktu untuk memikirkan hidup kawannya dan ringan tangan membantu untuk kawannya. Yamin seorang kawan yang enak diajak ngobrol,” kenang Deddy yang dulu juga adalah aktifis mahasiswa UII yang bermarkas di Gang Rode, Yogyakarta.

Mantan Ketua Komisi Perlindungan Saksi dan Korban, Abdul Haris Simendawai juga mengenang Yamin sebagai sosok yang punya kesetiakawanan yang tinggi, peduli, empati pada orang lain.

“Yamin tipe organisator. Ia adalah kawan yang berkomitmen kuat untuk melawan ketidakadilan. Selalu berjuang bersama rakyat. Ingin melakukan sesuatu yang berguna bisa diwariskan untuk generasi ke depan,” kata kawan seperjuangan Yamin ini.

Hari Subagyo, Ketua Umum Masyarakat Pengawal Jokowi (Maskowi) mengenang Yamin sebagai seorang aktifis yang tak pernah kehabisan semangat.

“Yamin sepertinya selalu punya stock energi keberanian yang di atas rata-rata kawan lain. Akhirnya, kemudian waktu, dia seperti pribadi yang keras kepala. Bicarapun kadang ketus. Menyela dengan singkat dan selalu ingin didengar. Tapi semakin ke sini dan dekat, Yamin ternyata sosok yang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Sanggup berendah hati. Sebagian perjalanan Yamin adalah bagian dari jalan kita juga,” jelas alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) dan mantan pimpinan Serikat Tani Nasional (STN) ini.

Damairia Pakpahan, pelopor gerakan perempuan di era 1980-an mengenang Yamin sebagai seorang aktifis yang sangat ingat dan sadar sejarah.

“Yamin kerap ngomong ke aku, kita adalah orang yang punya sejarah. Sejarah apa? Sejarah perlawanan terhadap tirani Soeharto. Ini biasanya dibicarakan dalam konteks menelusuri jejak rekam orang. Dan dalam konteks pemilu, ketika aktifis merapat ke kubu di mana Cendana berada, kami menjadi bertanya mengapa terjadi perubahan sikap kawan-kawan. Namun Yamin juga yang kerap mengingatkan untuk tetap menjaga pertemanan walau dalam posisi yang berbeda bahkan berlawanan,”  jelas alumni Fakultas Sastra UGM ini.

Eva Kusuma Sundari anggota DPR-RI mengatakan Yamin meninggalkan karya sebagai produser film tentang Taufik Kiemas, suami Ketua Umum PDI Perjuangan, megawati Soekarnoputri.

“Ini warisan dia yang penting. Tapi belum dilaunching kok malah dia sudah pergi,” katanya.

Eva juga mengenang Yamin sebagai legenda dalam Gerakan mahasiswa 80-an khususnya di Yogyakarta.

“Tetapi interaksiku yang paling intens adalah saat bersama membentuk SekNas Jokowi. Kami sama-sama di Dewan Pakar hingga dia menjadi ketua. Yamin sangat Konsisten anti Orbais dan konsisten Jokower,” kenang Eva.

Ajianto Dwi Nugroho, mantan jurnalis juga mengenang Yamin sebagai sosok aktifis yang selalu menyenangkan dan selalu gembira.

“Meskipun banyak yang pro dan kontra terhadap ide dan gagasannya, Yamin selalu menyikapinya dengan santai,” ujar lulusan Fisipol UGM ini.

Kawan Yamin, menurut mantan kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) memang disukai oleh kawan-kawannya sekaligus lawan-lawan politiknya dimanapun Yamin aktif.

“Namun Yamin tak pernah menganggap lawannya sebagai musuh. Semuanya dirangkul karena bagi Yamin, urusan politik itu hanya sementara saja, yang fana adalah waktu, sisanya abadi,” ujar Sekretaris Jenderal relawan Jogjakarta For Jokowi (JOJO) ini.

Seorang kawan lainnya mengantarkan kepergian Yamin dari panggung politik melalui akun Facebook pria beranak dua dan suami mantan Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu itu.

“Selamat jalan bung Muhammad Yamin SH, Ketua Seknas Jokowi. Aktivis, yang mendinamisir panggung politik nasional. Semoga mendapatkan kegembiraan di keabadian. Kami di antrean yang sama bung,” katanya.

Lamat masih terbayang pemuda Yamin dengan kepala berikat kain merah, memimpin aksi-aksi membela rakyat di tahun 1980-an sambil meneriakkan “Hidup Rakyat! Hidup Rakyat!”,—yang pasti disambut seruan yang sama, “Hidup Rakyat!”

Pagi hari para pelayat semakin bertambah. Mereka datang dari berbagai kota. ada pejabat ada rakyat kebanyakan, menundukkan kepala disamping Yamin berbaring tenang, tugasnya usai sudah. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles