Di sini, biaya kuliah, asrama, buku, bahkan seragam diberikan secara cuma-cuma. Namun, ada harga mati yang harus dibayar: janji untuk pulang dan melayani si miskin.
Oleh: Samuel Indratma *
DI SAAT dunia medis modern berubah menjadi “klub eksklusif” di mana kursi kuliah kedokteran hanya bisa dibeli dengan tumpukan angka nol di rekening, ada sebuah anomali yang berdiri tegak di pinggiran Havana, Kuba. Namanya Escuela Latinoamericana de Medicina (ELAM). Tempat ini bukan sekadar kampus; ia adalah sebuah tamparan keras bagi sistem pendidikan global yang mengkomersialkan nyawa manusia.
Didirikan oleh Fidel Castro pada 1999, ELAM adalah “pabrik” dokter yang tidak mengenal kasir.
Bayangkan sebuah tempat di mana anak-anak petani dari pedalaman Amazon, pemuda dari perkampungan kumuh di Chicago, hingga anak buruh dari Afrika berkumpul untuk satu tujuan: menjadi dokter tanpa harus berutang seumur hidup. Di sini, biaya kuliah, asrama, buku, bahkan seragam diberikan secara cuma-cuma. Namun, ada harga mati yang harus dibayar: janji untuk pulang dan melayani si miskin.
Ini adalah visi yang provokatif. Di tengah sistem pendidikan kita yang sering kali mencetak dokter untuk mengejar kemewahan di kota besar, ELAM justru mencetak “tentara berbaju putih” yang siap diterjunkan ke lumpur, ke gunung, dan ke wilayah-wilayah yang bahkan tidak ada dalam peta GPS perusahaan asuransi. Di ELAM, kedokteran tidak dipandang sebagai instrumen untuk memperkaya diri, melainkan sebagai alat perjuangan sosial.
Kurikulumnya pun “berbahaya” bagi kemapanan bisnis medis. Mahasiswa tidak diajari untuk sekadar menulis resep obat mahal, tapi dipaksa turun ke jalan untuk memahami mengapa orang jatuh sakit. Mereka belajar bahwa sanitasi yang buruk, kelaparan, dan ketidakadilan sosial adalah penyakit yang sebenarnya. Mereka dididik untuk menjadi tabib komunitas, bukan sekadar teknisi medis yang dingin di balik meja praktik mewah.
Ironinya sangat tajam. Kuba, sebuah negeri kecil yang dicekik blokade ekonomi selama puluhan tahun, justru mampu menyekolahkan puluhan ribu calon dokter dari 100 lebih negara secara gratis. Sementara itu, di negeri-negeri yang jauh lebih kaya, pemuda cerdas seringkali harus mengubur impian menjadi dokter hanya karena mereka lahir dari keluarga yang salah.
ELAM membuktikan satu hal yang menyakitkan bagi sistem kapitalis: bahwa krisis tenaga medis global sebenarnya bukan karena kurangnya orang pintar, melainkan karena kurangnya kemanusiaan dalam sistem pendidikan kita. Ijazah di ELAM tidak dibayar dengan uang, tapi ditebus dengan pengabdian.
Mungkin itu sebabnya ELAM jarang dibahas di ruang-ruang kuliah kedokteran yang mahal. Karena jika setiap negeri meniru model ini, bisnis pendidikan medis akan runtuh, dan kesehatan benar-benar akan menjadi hak, bukan komoditas.
Apakah Anda setuju jika Indonesia mengirimkan lebih banyak anak muda dari daerah tertinggal untuk belajar di sana, ketimbang membiarkan kursi kedokteran di dalam negeri terus menjadi ajang lelang bagi yang paling kaya?
——–
*Penulis Samuel Indratma, seorang perupa, dikenal pelopor senirupa tembok, grafiti, aktivis sosial
Tulisan ini diterima melalui Danial Indrakusuma kepada Bergelora.com

