𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗶𝗹𝗮𝗻 dan 𝗸𝗲𝘀𝗲𝘁𝗮𝗿𝗮𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗼𝗺𝗶𝘁𝗺𝗲𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝘀𝗲𝘂𝘁𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮. Tuhan sayang kitorang semua.
Oleh: Pdt. Victor Rembeth*
TIDAK ada seorang anak manusia yang bisa melawan takdir bahwa Matahari terbit dari Timur. Sebagai bagian paling timur dari NKRI, Papua selayaknya mampu memberikan cahaya harapan ketika ia hadir sebagai penerima siraman terawal di bumi Nusantara. Harapan itulah yang dipantik kembali dalam 𝗞𝗼𝗻𝗳𝗲𝗿𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗬𝗮𝗸𝗶𝗻𝗶 dengan fokus pada 𝗦𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗧𝗶𝗺𝘂𝗿. Sejatinya melupakan atau bahkan mengingkari Timur Indonesia akan dapat menahan matahari kemajuan bangsa yang telah sepakat menjadikan Papua bagian dari anak kandung ibu Pertiwi.
Papua yang viral menjadi perbincangan Nasional bahkan Internasional bukan hanya kerap disalahpahami tapi juga rawan jadi komoditas tafsir berbalut prasangka berbasis asumsi. Oleh karenanya gagasan menghadirkan suara asli Papua di berbagai forum harus makin jadi kebutuhan vital kalau anak anak bangsa ingin sajian obyektif apa, siapa dan mengapa dengan Papua.
Memberikan ruang bebas agar Papua bicara apa adanya bukan hanya mencerahkan, tapi mampu menyulut cinta membara semua elemen bangsa. Kecintaan pada Papua yang menghadirkan rasa “bucin” berkelanjutan itulah yang dipandu oleh penulis, rohaniwan dan cendekiawan Kristen, bersama dengan empat tokoh Papua pada Sabtu 29 Agustus lalu.
Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Senin (31/8) para tokoh yang bicara bukan hanya mewakili posisi geografis di tanah Papua yang berbeda, tetapi juga menghadirkan empat perspektif kehebatan yang dimiliki Papua, yaitu Politisi, Akademisi, tokoh perempuan dan Pendeta legislator lokal. Dari sudut pandang yang berbeda semuanya saling mengisi 𝙥𝙪𝙯𝙯𝙡𝙚 Papua yang masih perlu diselesaikan oleh pelaku multi pihak Indonesia Raya kita bersama.

Sebagai pembicara awal, 𝗙𝗶𝗹𝗲𝗽 𝗪𝗮𝗺𝗮𝗳𝗺𝗮, 𝘀𝗲𝗻𝗮𝘁𝗼𝗿 provinsi 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗕𝗮𝗿𝗮𝘁 mengemukakan Politik sebagai alat kebaikan untuk Papua. Tindakan afirmasi melalui Otonomi Khusus adalah desain yang sangat baik untuk memperhatikan Papua. Namun sebuah catatan kritis dikemukakan bila tindakan afirmasi tersebut belum diisi secara maksimal untuk menghadirkan kesejahteraan Papua dengan titik tekan pada pendidikan yang akan meningkatkan kohesifitas Kebangsaan. Masih banyak PR politik yang harus dikerjakan, menurut anggota DPD RI Komite 3 ini, kendati tindakan afirmasi sudah menjamin keistimewaan Papua.
𝗣𝗿𝗼𝗳 𝗝𝗼𝗵𝗻𝗶 𝗡𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶, yang adalah akademisi anggota 𝗗𝗲𝘄𝗮𝗻 𝗘𝗻𝗲𝗿𝗷𝗶 𝗡𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 pertama dari Papua menyoroti keberadaan Papua yang seharusnya tidak menjadi halaman belakang Indonesia namun seharusnya menjadi wajah Indonesia dari Timur. Menurutnya, “Tuhan telah memberikan Papua kekayaan alam yang luar biasa sehingga memiliki peran strategis dalam masa depan energi nasional”. Oleh karenanya perhatian untuk tata kelola Enerji yang berkeadilan dan setara untuk Papua yang notabene memiliki daerah-daerah termiskin di Indonesia harus dikemukakan.
Pembicara ketiga yang mewakili S𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮, 𝗱𝗿 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 𝗥𝘂𝗺𝗮𝘀𝗲𝘂𝘄 dengan tegas menyatakan perlunya MENDENGAR semua elemen di Papua. Dalam kemajemukan Papua, sudah tentu implementasi Pembangunan yang 𝙤𝙣𝙚 𝙨𝙞𝙯𝙚 𝙛𝙞𝙩𝙨 𝙖𝙡𝙡 atau 𝙜𝙚𝙗𝙮𝙖𝙝 𝙪𝙮𝙖𝙝, yang menganggap semua Papua sama atau homogen adalah tidak akan tepat sasaran. Iapun menekankan perlunya perhatian khusus terhadap pembangunan SDM Perempuan Papua, karena memperkuat kapasitas Perempuan atau Mama Mama Papua adalah membangun bukan satu orang, tetapi membangun 1 generasi yang tangguh. Perempuan Papua baginya memiliki potensi yang sama dengan perempuan lain di NKRI, dan selayaknya mendapatkan perlakuan yang setara.
Sebagai pembicara mewakili legislator lokal, 𝗣𝗱𝘁 𝗗𝗶𝗹𝗯𝗲𝗻 𝗘𝗹𝗮𝗯𝘆, yang adalah 𝘄𝗮𝗸𝗶𝗹 𝗸𝗲𝘁𝘂𝗮 𝗗𝗣𝗥𝗗 𝗽𝗿𝗼𝘃𝗶𝗻𝘀𝗶 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵, mengangkat isu kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Baginya perilaku dan praktik tata kelola yang bisa menjadi teladan dalam penegakan hukum dan juga upaya mensejahterakan semua, harus juga menjadi karya yang harus dirasakan oleh warga Papua sama seperti bagian lain dari Indonesia. Keharusan Pejabat Negara yang memberi keteladanan untuk satunya kata dan perbuatan akan dapat memenangkan hati warga Papua yang rentan terhadap eksploitasi tata kelola pemerintahan yang tidak memihak pada Rakyat.
Percakapan yang mengisi akhir pekan ini, menjadi masukan bernas bagi pelaksana acara, yaitu 𝗥𝘂𝗮𝗻𝗴 𝗔𝗸𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 (𝗥𝗔𝗣𝗜) yang didukung oleh 𝗗𝗲𝘄𝗮𝗻 𝗣𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗣𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗹𝗲𝗴𝗲𝗻𝘀𝗶𝗮 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 (𝗣𝗜𝗞𝗜), untuk dapat menjadikan Indonesia yang betul betul dapat mencapai tujuan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh alinea ke 4 Undang Undang Dasar 1945. Sudah tentu dengan titik tekan Papua, bukan menjadikan diskusi jadinya meninggalkan daerah lain di NKRI yang berpotensi memiliki tantangan dan masalah yang serupa walau dalam tingkatan yang berbeda. Namun karena Papua dibahas secara terfokus, maka semua elemen bangsa dapat berkaca dan kemudian menggunakan nurani untuk kembali memantik Cinta untuk Papua dan menjadikan Indonesia terus dapat menguatkan keadilan dan kesetaraan bagi semua.
Betul kata seorang pembicara, “𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻𝗴”. Papua justru adalah halaman terdepan Indonesia yang pertama menyambut mentari di Timur. Sikap penghargaan terhadap Cahaya Timur Papua ini akan dapat melahirkan dekonstruksi arah pembangunan agar dapat mengambil sikap kritis terhadap pola yang terlalu Jawa-Sentris atau Jakarta-sentris. Melupakan tanah dan air di ufuk Timur Indonesia ini akan menuai risiko menutup cahaya harapan yang tiap hari disingkapkan oleh matahari di tanah Papua. 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗶𝗹𝗮𝗻 dan 𝗸𝗲𝘀𝗲𝘁𝗮𝗿𝗮𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗼𝗺𝗶𝘁𝗺𝗲𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝘀𝗲𝘂𝘁𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮. Tuhan sayang kitorang semua.
————-
*Penulis Victor Rembeth, seorsng pendeta kristen

