JAKARTA – Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Timur (Kaltim) tengah mengusut delapan Laporan Polisi (LP) terkait kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah hukumnya. Dari jumlah tersebut, dua perkara telah dinaikkan ke tahap penyidikan dengan menetapkan tiga orang sebagai tersangka.
Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro mengungkapkan, tiga tersangka tersebut ditangkap dari dua lokasi berbeda, yakni dua orang di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan satu orang di Kabupaten Berau.
“Saat ini di Polda Kaltim ada delapan LP yang masuk. Betul, sudah ada tiga tersangka yang ditetapkan sejauh ini,” kata Endar dikutip Bergelora.com di Jakarta, Selasa (25/8).
. Endar menegaskan, penyidik juga sedang mendalami kemungkinan adanya keterlibatan korporasi atau perusahaan dalam kasus-kasus karhutla tersebut.
“Sejauh ini (keterlibatan korporasi) belum ada. Tetapi tetap akan kita lihat nanti apakah ada keterkaitan dari korporasi berdasarkan hasil penyelidikan masing-masing laporan,” ujarnya.
Larang Buka Lahan dengan Membakar
Penetapan tiga tersangka dalam kasus karhutla ini, lanjut Endar, menjadi bukti komitmen kepolisian dalam menguatkan penegakan hukum guna memberikan efek jera, sekaligus mencegah meluasnya pembakaran lahan.
“Saya minta agar tidak ada lagi pembakaran untuk membuka lahan,” tegas Kapolda.
Ia menambahkan, meski situasi karhutla di Kaltim relatif lebih kondusif dibandingkan Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel), pengawasan serta penindakan di lapangan tetap berjalan ketat.
190 Personel Brimob ke Kalbar
Di sisi lain, untuk mempercepat penanganan karhutla di wilayah tetangga, Polda Kaltim memberangkatkan 190 personel Satbrimob untuk diperbantukan ke Kalimantan Barat.
Pengiriman pasukan BKO ini dilaksanakan sesuai arahan Presiden RI.
“Pemberangkatan 190 personel ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk mempercepat penanganan karhutla di Kalbar. Mereka bertugas selama satu bulan dan akan dievaluasi sesuai kebutuhan di lapangan,” jelas Endar usai upacara pelepasan di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, Senin.
Ia memastikan pengiriman pasukan ke Kalbar tidak akan mengurangi kesiapsiagaan di wilayah lokal Kaltim.
“Secara prinsip, kami tetap siaga penuh menangani karhutla yang saat ini menjadi perhatian di Kalimantan,” katanya.
Operasi Modifikasi Cuaca

Semebtara utu dilaporkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menanggulangi defisit air di Waduk Sepaku dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur.
Operasi itu dilakukan bersama Otorita Ibu Kota Negara (OIKN), Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Udara (TNI-AU), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Kalimantan Timur (Kaltim).
“Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. Apabila kondisi awan mendukung, penyemaian awan dilakukan sehingga mempercepat proses turunnya hujan serta bisa memperluas areanya,” kata Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo di kantor Gubernur Kaltim pada Senin (24/8).
Budi mengungkapkan sebaran asap karhutla umumnya bergerak ke arah barat laut menuju timur laut hingga melewati batas administratif ke Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.
Sementara itu, data per 20 Agustus 2026 menunjukkan wilayah Kaltim pada umumnya mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori Sangat Pendek hingga Panjang dengan durasi terpanjang di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser yang mencatat HTH selama 28 hari berturut-turut.
BMKG menyebut cadangan air di Waduk Sepaku yang menjadi sumber air baku bagi wilayah IKN sejak Juli terus mengalami penurunan imbas El Nino. Di saat yang sama, berdasarkan pantauan BMKG, jumlah titik panas di Kaltim pada 1-23 Agustus 2026 mencapai 13.273 titik.
Budi mengatakan potensi pertumbuhan awan di Kaltim pada 23-31 Agustus berada di kategori tinggi hingga sedang, terutama di bagian utara Kaltim. Namun, terjadi penurunan potensi pertumbuhan awan pada 28-31 Agustus sehingga cuaca relatif kering di sebagian besar wilayah Kaltim.
Lebih lanjut, terdapat potensi hujan dengan intensitas ringan-sedang di Kaltim bagian barat, barat laut, dan utara pada 24-26 Agustus.
Selanjutnya pada 27 Agustus-1 September, potensi intensitas dan sebaran hujan menurun signifikan di sebagian besar wilayah Kaltim.
Dalam pelaksanaan OMC, kata Budi, BMKG bukan hanya mempertimbangkan jumlah titik api yang terdeteksi, melainkan juga potensi hujan di wilayah sasaran.
OMC dilaksanakan di IKN pada 22-27 Agustus untuk mengatasi penurunan air Waduk Sepaku. Hasilnya disebut terlihat dengan turunnya hujan di wilayah tersebut dan sekitarnya selama dua hari terakhir.
“Kemudian, OMC di Kabupaten Berau mulai dilaksanakan pada 24-28 Agustus untuk mengatasi titik panas berdasarkan permintaan Bupati Berau kepada BNPB dan BMKG,” ujar Budi.
Saat ini, status penanganan karhutla di Kaltim masih berada pada level Siaga Bencana, belum meningkat menjadi Siaga Darurat.
Namun demikian, pemerintah Kaltim mengingatkan masing-masing daerah untuk mewaspadai kerawanan dan kondisi kebencanaan di wilayah sehingga bisa segera mengajukan permohonan bantuan kepada BNPB jika darurat.
Pemprov Belum Berani Naikkan Status Darurat

Musim kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino benar-benar menguji ketahanan Kalimantan Timur. Amukan si jago merah membakar lebih dari seribu hektare lahan dalam waktu singkat, memaksa Pemerintah Provinsi Kaltim menetapkan status Siaga Bencana. Namun, langkah Pemprov yang belum menaikkan status menjadi Siaga Darurat mulai menuai sorotan di tengah masifnya ledakan titik api yang merembet hingga ke area perkotaan.
Data Pusdalops BPBD Kaltim per 22 Agustus 2026 mencatat lonjakan kasus yang mengerikan. Jika sepanjang Januari hingga Juli hanya terjadi 124 kejadian, memasuki bulan Agustus angka tersebut melesat drastis. Hanya dalam kurun 22 hari, tercatat 306 kejadian karhutla yang melalap 1.027 hektare lahan. Secara akumulatif, 1.260 hektare tanah Benua Etam telah hangus dilalap api dari 430 kejadian.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, bergeming bahwa situasi di lapangan masih berada dalam kendali tim gabungan BPBD, TNI, dan Polri.
“Status saat ini Siaga Bencana, belum naik ke Siaga Darurat. Banyak titik api terpantau, tetapi sebagian besar berhasil dipadamkan petugas di lapangan,” kilah Seno Aji usai memimpin Rapat Koordinasi Antisipasi Karhutla dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (24/8/2026).
Di tengah ancaman lahan yang kian membara, Pemprov Kaltim mendesak pemerintah kabupaten/kota yang berada di zona merah untuk tak tinggal diam dan segera mengajukan permohonan hujan buatan (OMC) ke BNPB, meniru langkah Otorita IKN.
Kondisi terparah kini menghantam Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luasan lahan terbakar mencapai 369,88 hektare. Sementara itu, Kabupaten Paser menjadi sarang titik api terbanyak dengan 105 titik, disusul Kutai Barat (71 titik), dan Samarinda (69 titik). Ancaman karhutla di Ibu Kota Kaltim ini membuktikan bahwa bencana lingkungan tidak lagi sebatas mengintai hutan rimba, melainkan sudah mengepung pinggiran pemukiman warga.
Seno Aji mengingatkan masyarakat maupun korporasi agar tidak bertindak ugal-ugalan membakar lahan di tengah iklim gersang ini. Ia menegaskan, aparat hukum tidak akan memberikan toleransi dan siap menyeret pelaku pembakaran ke jalur pidana demi memutus mata rantai bencana tahunan ini.(Enrico N. Abdielli)

