JAKARTA — Mabes TNI menyatakan telah menerjunkan lebih dari ribu prajurit dan puluhan alat utama sistem senjata (alutsista) untuk membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) .
Hingga Minggu (23/8) atau hari kesembilan penanggulangan pascagempa berkekuatan magnitudo (M) 7,7 di Pulau Flores, NTT, sebanyak 8.012 prajurit TNI telah dikerahkan untuk membantu masyarakat dan mendukung berbagai kegiatan penanganan bencana di wilayah terdampak.
Dalam siaran pers yang diterima dari Puspen TNI, Senin (24/8), TNI mengerahkan 27 alutsista untuk mendukung pelaksanaan tugas tersebut.
“Hari ini TNI menyalurkan 159,22 ton bantuan melalui jalur laut menggunakan KRI, sedangkan melalui jalur udara sebanyak 37,399 ton bantuan menggunakan pesawat TNI AU. Hingga hari kesembilan, total bantuan yang telah disalurkan TNI kepada masyarakat terdampak mencapai 803,824 ton,” demikian siaran pers Puspen TNI dikutip Bergelora.com si Jakarta, Selasa (25/8)
Selain itu, TNI juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, dan instansi terkait untuk mendukung penanganan bencana dan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.
Sebelumnya, pada Minggu (23/8) malam, Presiden RI Prabowo Subianto memanggil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin hingga Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto ke kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Malam-malam, Prabowo memimpin rapat terbatas membahas penanganan karhutla dan penanggulangan pascagempa NTT di rumahnya tersebut. Tiga kepala staf angkatan TNI pun turut serta dalam rapat tersebut.
“Hari Minggu, 23 Agustus 2026, sejak sore sampai dengan malam hari, Presiden Prabowo Subianto memanggil beberapa menteri dan pejabat terkait untuk membahas beberapa isu strategis, bertempat di kediaman Hambalang, Jawa Barat,” kata Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya dalam unggahannya di @sekretariat.kabinet, semalam.
Teddy menyampaikan pada sesi pertemuan terakhir bersama Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan, Prabowo membahas tindak lanjut prosesnya menangani Karhutla dan bantuan pascagempa di NTT.
“Presiden mengenai dukungan yang telah diperintahkan untuk didistribusikan ke daerah Kalimantan dan NTT, khususnya melalui penerbangan udara,” ucap Teddy.
103 Orang Meninggal Dunia dan 1.666 Luka-luka

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 kembali bertambah.
Hingga hari ke-11 penanganan bencana, total korban jiwa mencapai 103 orang. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan terdapat penambahan tiga korban meninggal dibandingkan data sebelumnya.
“Saat ini, pada hari ini kami mencatat ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami,” kata Berton dalam konferensi pers virtual, Selasa (25/8/2026) dikutip Bergelora.com di Jakarta.
Berton menyampaikan duka cita kepada seluruh keluarga korban yang terdampak bencana gempa tersebut.
“Kami tetap menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya dari kami untuk keluarga, handai tolan, tetangga, kenalan, ataupun untuk seluruh masyarakat Indonesia karena adanya korban akibat gempa ini,” ujarnya.
Berdasarkan data BNPB, korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 41 orang, disusul Manggarai Timur sebanyak 34 orang. Sementara sisanya tersebar di sejumlah kabupaten lain terdampak.
Dari sisi demografi, korban meninggal didominasi perempuan sebesar 55 persen, sedangkan laki-laki 45 persen. Kelompok usia lanjut menjadi yang paling banyak meninggal dunia dengan proporsi 45 persen, diikuti usia dewasa 37 persen.
Selain korban meninggal, jumlah korban luka juga bertambah 63 orang sehingga total mencapai 1.666 orang.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak, terdiri atas 239 luka berat dan 404 luka ringan.
“Yang terbesar itu ada di Manggarai Timur di mana luka berat sebesar 239 orang, luka ringan sebesar 404 orang,” cetusnya. (Calvin G. Eben-Haezer)

