Jumat, 22 September 2023

PERLU GAK SIH…? Vaksinasi Covid-19 Pada Balita Jadi Kontroversi: Lebih Beresiko Daripada Manfaatnya

JAKARTA- Indonesia masih mengkaji vaksin COVID-19 pada Balita. Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada pertengahan Juni lalu mengumumkan AS menjadi negara pertama yang mengesahkan vaksinasi Covid-19 untuk Balita.

Pada 18 Juni 2022, Rochelle Walensky, direktur Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat “mendukung rekomendasi Advisory Committee on Immunization Practices’ (ACIP), Komite Penasihat Praktik Imunisasi bahwa semua anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun harus menerima COVID-19 vaksin.”

Namun, dokter lain mengeluarkan peringatan tentang risiko memvaksinasi bayi.

Menurut Dr. Syed Haider—spesialis penyakit dalam dan pendiri mygotodoc.com—”risiko vaksin jauh lebih besar daripada manfaatnya.”

Menurut Haider, “risiko COVID pada anak-anak adalah nol.” Data yang dirilis oleh CDC tampaknya mengkonfirmasi pendapatnya.

Menurut data terbaru dari CDC, 431 anak—baru lahir hingga usia empat tahun—telah meninggal karena COVID. Sebaliknya, kematian lebih dari 1 juta orang di atas usia 19 telah dikaitkan dengan COVID, dan 521.293 di antaranya berusia di atas 75 tahun.

Ketika ditanyakan apa yang sebenarnya menyebabkan kematian pada anak-anak yang didiagnosis COVID-19, jawabannya akan tergantung pada siapa yang menjawab.

Mayo Clinic mengatakan “bayi di bawah usia 1 tahun mungkin berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah dengan COVID-19 daripada anak yang lebih besar.”

Universitas Johns Hopkins mengatakan “Gejala COVID-19 pada anak-anak dan bayi umumnya lebih ringan daripada orang dewasa, dan beberapa anak yang terinfeksi mungkin tidak memiliki tanda-tanda sakit sama sekali.”

CDC mengatakan bahwa sementara kasus serius telah terjadi, mayoritas bayi baru lahir yang dites positif COVID-19 hanya memiliki gejala ringan atau tidak sama sekali dan mereka sembuh dari penyakit.

“Mungkin Anda bisa mengatakan satu dari sejuta atau satu dari sepuluh juta anak mungkin meninggal karena COVID,” kata Haider. “Tetapi bahkan saat itu mungkin bukan COVID. Biasanya mereka meninggal karena sesuatu yang lain, mereka menderita kanker atau penyakit autoimun lainnya, sesuatu yang serius yang membunuh mereka. Itu bukan COVID itu sendiri.”

Sebuah laporan tahun 2020 oleh CDC menunjukkan bahwa hampir tiga perempat kematian terkait COVID di antara bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa muda telah terjadi pada pasien berusia 10 hingga 20 tahun, dengan persentase yang tidak proporsional di antara orang dewasa muda berusia 18 hingga 20 tahun. dan di antara orang Hispanik, kulit hitam, Indian Amerika, Penduduk Asli Alaska, dan mereka yang memiliki kondisi medis yang mendasarinya.

Dalam laporan lain tahun 2020 oleh CDC, 75 persen dari mereka yang berusia di bawah 21 tahun yang meninggal karena COVID-19 “memiliki kondisi medis yang mendasarinya, seperti asma, obesitas, kondisi neurologis/perkembangan, dan kondisi jantung.” Hampir semua kematian anak “memenuhi definisi kasus COVID-19” dan 12 persen “memenuhi sindrom multi-inflamasi pada anak-anak.”

Menkes Masih Mengkaji

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah melakukan kajian vaksin virus corona (Covid-19) untuk sasaran bayi di bawah umur lima tahun (Balita).

Budi menyebut putusan vaksin Covid-19 untuk Balita juga mempertimbangkan hasil kajian ahli dan Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI).

“Vaksin anak itu kita, BPOM sedang mengkaji Sinovac, yang bisa itu Sinovac, Pfizer, dan Moderna,” kata Budi kepada wartawan di Kementerian Kesehatan, Rabu (29/6).

Budi melanjutkan, produsen Sinovac telah mengajukan berkas analisis dan kajian vaksin Covid-19 untuk Balita kepada BPOM. Sementara produsen Moderna dan Pfizer menurutnya belum menjajaki kembali BPOM terkait vaksin Balita.

Baru-baru ini Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat FDA telah mengizinkan vaksinasi Covid-19 untuk anak-anak mulai usia enam bulan. Sebagai rincian, vaksin yang digunakan adalah vaksin Moderna untuk anak usia 6 bulan hingga usia 17 tahun. Sementara vaksin Pfizer diperuntukan bagi anak-anak usia 6 bulan hingga 4 tahun.

“Pfizer dan Moderna karena baru keluar itu kalau mau dipakai itu harus diajukan oleh Pfizer dan Moderna ke BPOM. Itu setahu saya belum,” ujar Budi. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,560PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru