Jumat, 15 Mei 2026

RERATA SKOR IQ RI HANYA 78 PAAAK..! Purbaya Keluhkan Nasib SDM RI, Jago Tapi Gak Diberi Kesempatan

JAKARTA– Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pentingnya penguatan industri perkapalan dan galangan kapal nasional sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi dan sektor manufaktur dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia yang membahas pemberdayaan angkatan laut dan galangan kapal nasional di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Menkeu mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya manusia yang mumpuni di sektor galangan kapal, namun industri tersebut tidak berkembang optimal akibat minimnya kesempatan dan kebijakan yang tidak berpihak pada produksi dalam negeri.

“Saya baru tahu orang kita jago, cuma nggak dikasih kesempatan sama kita sendiri,” ujar Purbaya, dikutip Kamis (12/2/2026).

Menurut Menkeu, salah satu penyebab utama melemahnya industri galangan kapal nasional adalah kebijakan yang masih membuka ruang luas bagi impor kapal bekas dari luar negeri, sehingga menggerus permintaan terhadap kapal buatan dalam negeri.

“Jadi orang kita yang mampu-mampu itu nggak dapat order karena kebijakan kita sendiri. Walaupun kita negara empat laut, negara maritim, kapalnya beli dari luar. Orang-orang kita yang ahli nggak dikasih kesempatan,” kata Menkeu.

Menkeu juga menyoroti rendahnya pemanfaatan belanja pemerintah untuk mendukung galangan kapal nasional, termasuk dalam program peremajaan kapal yang dibiayai APBN. Ia menyebutkan masih banyak kapal milik negara yang seharusnya dapat dipesan dari galangan domestik, namun justru tidak terserap. Padahal menurutnya, permintaan industri kapal dan galangan kapal dalam negeri yang semakin tinggi mampu meningkatkan daya saing secara global.

“Ke depan, kalau masih mau industri kita maju, demand domestik harus diamankan. Presiden tadi bilang ada 2.491 kapal lebih dari 25 tahun umurnya. Itu kan pasti akan diganti,” ujar Menkeu.

Ia menambahkan, anggaran untuk pengadaan kapal sebenarnya telah disiapkan, namun belum memberikan dampak nyata bagi industri dalam negeri.

“Kita mau dorong pertumbuhan ekonomi. Uangnya itu saya anggarin kok. Saya perlu uang keluar cepat awal tahun supaya ekonomi tumbuh makin cepat, makin cepat, makin cepat. Salah satu yang saya lihat kita punya kemampuan tapi underutilized karena tidak beri kesempatan adalah industri galangan kapal,” kata Menkeu.

Ke depan, Menkeu mendorong KADIN bersama kementerian dan pelaku industri untuk menyusun peta jalan (roadmap) yang jelas guna menghidupkan kembali industri galangan kapal nasional, sekaligus memastikan permintaan domestik diprioritaskan bagi produksi dalam negeri.

“Ayo kita sama-sama bangun industri galangan kapal dalam negeri supaya industri ini benar-benar bangkit,” ujar Menkeu.

Rerata Skor IQ RI Hanya 78

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, skor rerata Intelligence Quotient (IQ) Indonesia viral karena berada di angka 78. Disebut berpengaruh pada kesuksesan, psikolog sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Malang, May Lia Elfina, M Psi, menepis anggapan tersebut.

Ia menegaskan jika kecerdasan seseorang tidak bisa mengacu pada satu angka statistik saja. Menurutnya, skor IQ tidak layak dijadikan label kecerdasan suatu bangsa.

“IQ pada dasarnya hanya mengukur kemampuan kognitif umum, seperti penalaran, pemecahan masalah, pemahaman verbal, dan kemampuan belajar. Itu pun diperoleh melalui alat tes dengan kerangka ukur tertentu,” ujar May dalam laman UM Malang dikutip Minggu (28/12/2025).

May pun menyinggung data World Population Review tahun 2022 yang mencatat rata-rata IQ Indonesia di angka 78,49. Menurutnya, pembahasan IQ tanpa pemahaman metodologi justru berpotensi melahirkan kesimpulan keliru.

“Menurut saya, data itu tidak representatif. Bisa jadi merupakan kompilasi dari berbagai sumber dengan metodologi, alat ukur, dan jumlah sampel yang berbeda-beda. Ini yang perlu ditinjau ulang,” tegasnya.

Kecerdasan Tidak Haya Mengacu pada IQ

May menambahkan, kemampuan kognitif suatu bangsa tidak bisa diringkas dalam satu angka agregat. Berbagai penelitian menunjukkan hasil yang sangat beragam, mulai dari kisaran 70-an hingga di atas 90, tergantung alat tes dan konteks penelitian yang digunakan.

May juga menyoroti narasi yang menyamakan IQ masyarakat Indonesia dengan IQ gorila. Ia menilai perbandingan tersebut sebagai kesalahan interpretasi ilmiah yang serius.

“Penelitian tentang kecerdasan gorila sendiri masih pro dan kontra. Gorila jelas bukan manusia, baik secara biologis maupun psikologis,” katanya.

Skor IQ Tidak Menjadi Penentu Utama Kesuksesan

Menurut May, skor IQ sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, khususnya dalam konteks lintas budaya. Perbedaan bahasa, budaya, akses pendidikan, hingga kondisi kesehatan juga dapat memengaruhi hasil tes secara signifikan.

Oleh karena itu, May menolak anggapan bahwa IQ merupakan penentu utama kesuksesan hidup seseorang. Menurutnya, kesuksesan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain seperti motivasi, kepribadian, kecerdasan emosional dan sosial, kreativitas, serta lingkungan yang mendukung.

“IQ bukan vonis yang bersifat tetap. Ia bisa berkembang jika lingkungannya mendukung,” ujarnya. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles