JAKARTA – Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam Pidato Hari Nasional, Minggu (23/8/2026), mengumumkan rencana penggabungan sejumlah pulau di lepas pantai barat daya menjadi satu pulau besar. Pulau-pulau tersebut, Pulau Bukom, Sudong dan Semakau, bersama sejumlah pulau kecil lainnya, rencananya akan dikembangkan sebagai pusat industri, pertahanan, dan infrastruktur energi.
Tak hanya industri petrokimia, kawasan tersebut juga direncanakan mendukung industri generasi baru, termasuk fasilitas manufaktur maju serta kebutuhan militer.
Wong juga menyebut kawasan itu dapat menampung infrastruktur pembangkit listrik baru untuk memenuhi kebutuhan energi Singapura di masa depan. Namun, dia tidak menyebut jenis pembangkit listrik yang dimaksud.
Ia mengatakan, pengembangan tersebut akan dilakukan dalam beberapa dekade mendatang dan konsepnya serupa dengan pengembangan Pulau Jurong yang kini menjadi kawasan industri penting Singapura.
Diduga Jadi Lokasi PLTN

Menurut laporan South China Morning Post, pernyataan Wong soal pembangkit listrik baru memicu spekulasi di media sosial mengenai kemungkinan kawasan itu digunakan untuk reaktor nuklir.
Spekulasi tersebut muncul karena Singapura memang tengah mengkaji teknologi nuklir maju, termasuk small modular reactors (SMR), sebagai salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan energi jangka panjang sekaligus mendukung target emisi nol bersih.
Juru bicara Energy Market Authority (EMA) mengatakan pihaknya tengah mengkaji berbagai pilihan untuk memperkuat ketahanan energi dan mencapai target dekarbonisasi Singapura, termasuk berbagai teknologi energi dan pilihan infrastruktur untuk kebutuhan jangka panjang.
“Karena Singapura belum mengambil keputusan apakah akan menggunakan energi nuklir, membahas lokasi PLTN potensial masih terlalu dini,” kata juru bicara tersebut kepada This Week in Asia.
Senada, Victor Nian, founding co-chairman Centre for Strategic Energy and Resources, menegaskan bahwa pemerintah Singapura belum memutuskan apakah akan menggunakan energi nuklir.
Selain itu, pembangunan pulau baru tersebut juga diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Namun, menurut Nian, perkembangan kebutuhan energi Singapura membuat teknologi nuklir maju layak dipertimbangkan sebagai salah satu opsi ketika pemerintah merencanakan pulau dan infrastrukturnya.
Sementara itu, Alvin Chew, senior fellow di Rajaratnam School of International Studies, mengatakan pengumuman tersebut membuka kemungkinan adanya pilihan lokasi bagi SMR maupun PLTN konvensional.
SMR merupakan jenis pembangkit nuklir yang memiliki ukuran dan kapasitas lebih kecil dibandingkan reaktor nuklir konvensional.
Chew menilai keberadaan pulau baru tersebut secara geografis dapat mendukung pengembangan energi nuklir karena
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (28/8) dilaporkan, Singapura telah memiliki rencana produksi hidrogen di Pulau Jurong. Menurutnya, PLTN di pulau baru tersebut nantinya dapat melengkapi produksi hidrogen serta industri pengolahan minyak di Pulau Jurong yang terhubung dengan kawasan tersebut.
Chew juga menilai luas gabungan pulau-pulau tersebut secara teoritis dapat menampung sejumlah SMR beserta fasilitas pendukungnya.
Nian mengatakan beberapa desain SMR membutuhkan area sekitar 6 hingga 15 hektare untuk pembangkit dengan kapasitas beberapa ratus megawatt. Namun, kebutuhan lahan keseluruhan dapat lebih besar setelah memperhitungkan infrastruktur pendukung dan sistem keamanan.
Singapura Kaji Teknologi Nuklir
Singapura menargetkan pencapaian emisi nol bersih pada 2050. Untuk mencapai target tersebut, negara kota itu mengandalkan sejumlah strategi, termasuk memperluas penggunaan energi surya, mengimpor energi bersih dari negara-negara di kawasan, serta meningkatkan efisiensi energi.
Pada Mei lalu, Wong mengatakan bahwa Singapura akan menjalani Integrated Nuclear Infrastructure Review pada 2027. Kajian tersebut merupakan penilaian sukarela dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bagi negara-negara yang mempertimbangkan penggunaan energi nuklir. Kajian itu ditujukan untuk membantu memastikan pengembangan energi nuklir dilakukan secara bertanggung jawab apabila Singapura pada akhirnya memilih teknologi tersebut.
Sejumlah pakar menilai energi nuklir memang dapat menjadi salah satu pilihan bagi Singapura, tetapi bukan satu-satunya.
Sharon Seah, principal fellow sekaligus koordinator Climate Change in Southeast Asia Programme di ISEAS – Yusof Ishak Institute, mengatakan berbagai teknologi energi baru membutuhkan ruang. Hal tersebut menjadi persoalan penting bagi Singapura yang merupakan salah satu negara dengan keterbatasan lahan paling serius di dunia. (Web Warouw)

