Bagaimana Indonesia harus bersikap ditengah pertikaian Amerika Serikat dan Iran belakangan ini? Christianto Wibisono, Ketua Pendiri PDBI (Pusat Data Bisnis Indonesia) menuliskannya buat pembaca Bergelora.com (Redaksi)
Oleh: Christianto Wibisono
LEBIH dari 2500 tahun lalu, terjadi pertempuran yang secara geohistoris-politik sangat berdampak hingga tahun Tikus Besi 2571 Imlek mulai 25 Januari 2020. Jenderal Qasem Soleimani terbunuh oleh pesawat drone AS atas instruksi Presiden Trump. 490 SM, Pasukan Persia yang berlipat ganda dari pasukan Yunani kalah dalam pertempuran di Marathon. Para sejarahwan dunia menilai pertempuran Marathon merupakan tonggak sejarah, Persia atau Asia tidak mampu mengalahkan dan menduduki Eropa, meskipun dalam sejarahnya kemudian Khalifah Islam sempat menaklukkan dan menguasai Spanyol.
Tuhan tampaknya tidak berpihak kepada salah satu bangsa, melainkan memberi peluangkepada masing-masing bangsa atau imperium untuk menikmati berkat menjadi imperium. Kemudian, ketika penguasa rezim itu murtad, munafik dan menghujat Tuhan dengan over acting, otoriterisme dan totaliterisme, maka imperium itu akan dihancurkan kalau tidak oleh musuh dari luar, ya akan hancur karena pembusukan internal.
Ini berlaku untuk imperium kerajaan, khilafah maupun korporasi raksasa model Kompeni. Sekarang kita dihadapkan seolah pada Perang Marathon Abad XXI di tahun 2020, dan yang berhadapan adalah Pericles Darius modern diwakili oleh Khamenei-Trump. Siapa Pericles, siapa Darius, siapa Yunani siapa Persia abad XXI.
Membaca sejarah dunia sejak Sumeria, Akadia, Assyria, Babilonial, Cartthago, Mesir, Perssia, Roma, Spanyol Pax Hispanica Belanda VOC dan Pax Neerlandica, Ingggris, Pax Britanica, Pax Americana dan sekarang Pax Consortis G20, kita melihat bahwa Tuhan memberi peluang kepada bangsa apapun bisa menjadi imperium. Seperti Napoleon abad XVII dan Hitler abad XX.
Inggris akan mengalami revolusi industri dan demokrasi yang melahirkan Amerika Serikat. Sekarang AS dalam kondisi “decay” dan dengan proteksionisme yang mengabaikan meritokrasi, maka justru akan tertinggal oleh nation state lain seperti Tiongkok. Tapi Tiongkok sendiri maupun kekuatan seperti Arab Saudi dan Iran, yang bertumpu pada teologi abad pertengahan, tidak akan mungkin menaklukkan dunia seperti pengalaman 4 imperium Pax Hispancica, Pax Neerlandida, Pax Britanica dan Pax Americana. Dunia abar XXI ini tidak akan memberi peluang lahirnya Pax Sinica, Pax Rusiana, Pax Islamica atau Pax Nusantara. Yang direstui mungkin Pax Aseanica yang pluralis-infklusif dan tidak terjebak pada rezim teologi primordial primitif Pra Copernican, pra Galilean .
Perang propaganda dan hoax AS-Iran sebagai bagian dari Perang Peradaban sedang berlangsung, meskipun di peradaban Islam sendiri terjadi perang saudara antara Syiah Iran dan Sunni Saudi Arabia. Tidak ada kawan atau lawan sejati sebagai zaman abad pertengahan maupun sejak abad Masehi di Timur Tengah, sebelum maupun setelah Islam.
Imperium nasional dari Acadia, Assiria, Carthago, Mesir, Mogul, Persia, bertempur satu sama lain saling mengalahkan sambil menghadapi Eropa yang diwakili oleh Romawi, Junani dan Eropa Abad Pergengahan melalui Perang Salib. Salah satu perang geopolitik menetukan adalah ketika ayah Pericles mengalahkan Darius di Maraton. Seandainya Darius yang menang di Maraton adalah Persia barangkali sejarah dunia akan berubah. Persia akan menentukan nasib Eropa dan mungkin sejarah dunia bisa berbeda, Itulah satu dari sekian banyak Seandainya “What if ” , seandainya ini itu tidak terjadi atau terjadi berbeda dari sejarah riil maka dunia pasti berbeda.
Seandainya Jesus tidak lahir tidak ada agama Katolik lalu Protestan, barangkali tidak ada reformasi, tidak ada Copernicus, tidak ada Gelileo yang berani mengoreksi Alkitab yang masih dikuasai dogma dandoktrin Geosentris, bahwa bumi adalah pusat semesta dan matahari yang mengelilingi bumi. Ini karena Joshua harus menghentikan matahari agar tetap siang demi melindungi umat Yahudi dalam perang mereka melawan musuh. Tentu banyak what if yang bisa ditulis. Seandainya Sidharta Gautama tidak lahir dan tidak memakzulikan diri mencari kesempurnaan hidup, tentu tidak ada agama Budha. Dan seterusnya dan sebagainya.
Perang zaman Alkitab didaur ulang oleh Arab-Israel modern dengan perang Timur Tengah sejak lahirnya Israel 1948 dan lahirnya Palestina setelah Perang Arab Israel 1918, 1956,1967,1973. Sampai detik ini bolak balik sudah damai-rujuk terbatas, perang lagi. Bahkan Presiden Anwar Sadat ditembak mati oleh paspampresnya sendiri karena berdamai dengan Israel.
Begitupula PM Yitzak Rabin yang sowan ke Cendana minta jasa baik Presiden Soeharto selaku ketua GNB 1992. Mensesneg Moerdiono ketar ketir, karena Rabin tidak mau dikawal mencolok dari Halim ke Cendana. Saya bilang justru dia santai kayak turis tanpa pengawalan itu sudah dikendalikan oleh Mossad secara rahasia, tidak hiruk pikuk membangunkan “macan tidur”. Sayang bahwa Soeharto kurang agresif-ofensif untuk menjadi mediator peacemake. Rabin dan Menlu Israel Simon Perez mendapat hadiah Nobel Perdamaian 1994 bersama Yasser Arafat karena berdamai di Oslo Norwegia.
Sekarang ini dunia ketakutan was was kalau terjadi Perang Dunia III gara gara Trump menginstruksikan pelenyapan Qasem Sulemani. Kita sendiri sedang digelitik dengan insiden kapal Tiongkok memasuki ZEE Natuna. Semua sibuk membaca Dinasti Tang, Ming, sampai poros Jakarta-Beijing untuk menghadapi insiden Natuna secara gegap gempita. Tapi Menhan Prabowo yang gemar baca buku sejarah sampai fiksi novel, cool dan tenang menghadapi situasi Natuna.
Ada netizen mengajak saya bertaruh, Trump ini bakal jatuh tidak. Ya, tergantung perkembangan situasi sampai November 2020 saat pilkpres AS. Ini masih 10 bulan, seperti menunggu hamil tua, bayinya yang lahir siapa damai atau perang, Trump dan AS kalah atau menang lawan Khamenei Iran.
Kalau baca sejarah modern, Shah Iran jadi raja 16 September 1941, tapi sistem kabinet parlementer menyebabkan PM Iran yang berkuasa. Dan pada 1952, PM Mossadegh menasionalisasi perushaan minyak Inggris, maka ia dikup oleh CIA dan James Bond (dinas rahasia Inggris). Mossadegh sudah berusia 70 tahun ketika jadi PM hanya 13 bulan (21/7/2952 -19/8/1953). Ia dikup oleh Jendral Zahedi, yang mengorbitkan Shah Iran jadi raja de fakto melengserkan PM ke samping.
Shah Iran akan berkuasa 26 tahun sampai 1979, digulingkan oleh revolusi Ayatullah Khomeini yang sekarang dilanjutkan oleh Ayatollah Khamenei. Jadi Iran atau Persia pernah jadi seteru kemudian sekutu, lalu musuh lagi bagi AS.
Indonesia pernah membuat poros Jakarta-Beijing 1963-1965, bahkan sudah mimpi mau bikin PBB tandingan, yaitu Conefo. Gedungnya sudah siap tapi meledak G30S, maka gedung itu jadi gedung MPR DPR, batal jadi Conefo. Indonesia sudah terlanjurk keluar dari PBB, satu- satunya negara eksentrik yang keluar tapi harus (menahan malu) masuk lagi jadi anggota PBB. Jadi politik luar negeri Indonesia memang terlalu serius dan strategis untuk dikelola secara emosional dengan wawasan “cetek dan centeng” yang lebih galak dari bos.
Maka, ketika seluruh diplomat kumpul di Jakarta, juga Kadin 7-11 Januari 2020 ini, kiranya kita dengan cool menanggapi insiden Natuna maupun ancaman Perang AS-Iran, karena kita juga diorbitkan dalam arti negatif dengan insiden LGBT Reynhard Sinaga yang memecahkan rekor global pelecehan LGBT. Seandainya, ya seandainya semua itu tidak terjadi bersamaan dan tumpang tindih, mungkin kita bisa lebih bernafas santai dan tidak terjebak pada kelainan jiwa model Reynhard dalam menangani isu geopolitik, historis, empiris, strategis.

