Kamis, 24 Juni 2021

Road Map Seabad Indonesia, Duet Megawati-Prabowo

Oleh: Christianto Wibisono

Ketua Pendiri PDBI,Penulis buku Kencan dengan Karma (KdK 2019) dan Kencan Dinasti Menteng (KDM 2021).

WAWANCARA Imajiner dengan Bung Karno 7 Juni 2021. Wawancara ini dilakukan 7 Juni 2021, hari kejepit dari dua hari lahir kedua presiden RI, 6 dan 8 Juni.

Christianto Wibisono (CW): Selamat kepada kedua bapak presiden yang telah bersedia mengadakan KTT Bung Karno Pak Harto pada 120 dan 100 tahun hari lahir bapak berdua. Silakan Bung Karno memberi pesan strategis pada elite dan rakyat Indonesia terutama dalam heboh kontestasi Pilpres 2024 yang melibatkan anak cucu elite Dinasti Menteng.

Bung Karno (BK): Wawancara Imajiner kita pertama adalah bulan Agustus 1977, yang dibreidel Jenderal Soeharto pada Maret 1978 karena mengusulkan pembatasan masa jabatan presiden hanya 2 term. Sekarang ada elite kemanjon berkampanye Jokowi 3 term karena tidak ada capres yg mumpuni setara Jokowi. Kasihan tapi bangga dengan Jokowi yang mencium bau “konspirasi” menjilat tapi perangkap bom waktu kudeta seperti yang saya alami ketika menghadapi oposisi berbaju Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS).

Nah, BPS itu memakai nama Sukarno to kill Sukarno and Sukarnoism. Saya pakai Bahasa Inggris karena saya tahu dibelakang BPS adalah konspirasi CIA menjelang tragedi G30 S 1 Oktober 1965. Wangsit saya entah kenapa memang sudah mulai pudar ketika Pangkostrad mbalelo menolak panggilan saya ke Halim malah mengultimatum saya untuk segera meninggalkan Halim. Lho, saya ini Panglima Tertinggi kok malah diancam oleh junior 2 bintang. Tapi kita hari ini bukan bicara sejarah masa lalu tapi masa depan ini negara kita mau dibiarkan jadi seperti apa?

Menko LBP yang dalam sistem politik kita mirip Waperdam Chairul Saleh, baru saja menandatangani Poros Jakarta Beijing 5 Juni 2021. Suatu alianse strategis dua raksasa Indonesia dan Tiongkok menghadapi pandemik dan transformasi mandala global pasca rujuk Timteng Israel-Palestina setelah 73 tahun bertikai sejak lahirnya Israel 14 Mei 1948. Presiden Jokowi memang harus memanfaatkan momentum einmalig, pelang sejarah yang hanya sekali dalam seabad meluncurkan kemitraan srategis menyongsong masa depan secara win-win solution bagi Indonesia dan RRT. Ini tantangan besar Indonesia yang harus diatasi tapi kita mesti konstitusional sekaligus visioner dan menjangkau masa depan.

Jokowi bisa lanjut sebagai Ketua Wantimpres dari dwitunggal Megawati-Prabowo yang akan memim[in rekonsiliasi tuntas elite politik kita shingga dikotomi Orla Orba Sukarnois Suhartois selesai dijadikan museum sejarah masa lalu. Sekarang Dinasti Mega-Prabowo akan memimpin Indonesia kepada generasi beriktnya, suatu Indonesia yang Tangguh, unggul dan nomor 4 dalam kualitas di pelbagai bidang kehidupan. Saya tidak keberatan berkoalisi dengan pengganti saya dan besannya dalam suatu dinasti modern meritokratis. Tentu saja syarat kinerja professional harus merupakan kriteria utama.

CW: Silakan Pak Harto memberi komentar atas analisis bapak proklamator dan presiden pertama kita.

Soeharto: Terima kasih sudah diberi peluang berdialog dengan Bapak Presiden (pandangan mengarah ke Bung Karno) dan saya ingin mohon maaf entah kenapa saya kok berani mbalelo waktu dipanggil 1 Oktober ke Halim, malah mengerahkan RPKAD menggempur Halim.Tuhan memberi hok gie pada saya untuk jadi presiden kedua Republik ini dan sudah mengalami hukum karma.

Saya naik ke atas setelah menahan 15 menteri kabinet 100 menteri Bung Karno, tapi saya ditinggalkan mbalelo oeh 15 menteri saya pada 21 Mei 1998. Jadi Tuhan itu selalu adil siapa menabur angin akan menuai badai.

Tapi ini kita kan bicara masa depan. Nah, dalam konteks itu saya ingin menginformasikan bahwa Indonesia ini kalau bersatu padu, akan dikerumuni dan didatangi investor. Tapi kalau kita bergolak maka investor akan kabur dan memarkir dananya di tax havens seperti diulas oleh Robert L Redstone di video #AntonKreil #LifeLessons #FinancialWisdomThe Rich Don’t Suffer, The Rich Just Move – Anton Kreil [Taxes].

Besan saya Sumitro mungkin lebih bisa menjelaskan dari segi teori, saya hanya ingin menekankan jangan terjebak dalam slogan sok “sosialis”. Sebab akhirnya kita harus realistis. Karena itu saya setuju usul PDBI mempromosikan kesadaran membayar pajak sebagai wujud patriotism di US sesuai slogan No Taxation Without Representation. Pemerintah harus menggugah kebanggaan melunasi pajak dengan memberi rewars karena top 50% pembayar pajak AS memenytor 97% penerimaan pajak AS sedang bottom 50% hanya iuran 3%.

Kalau Indonesia mau lolos dari jebakan The Middle Income Trap, gagal naik kelas jadi negara berpendapatan menengah atas yang sudah didengungkan sejak era presiden SBY jilid 2, maka Perkumpulan Warga Pajak Seluruh Indonesia (PERWASI) layak diperlakukan sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan ekonomi pasca pandemic. Dengan pendekatan business friendly itu maka dana ACU (Asian Currency Unit) yang saat ini berakumulasi di rekening ACU sekitar 1,4 trilliun dolar Amerika, bisa di investasikan ke Indonesia yang haus modal untuk membangun Poros Maritim Global sebagai mitra setara Belt and Road Tiongkok.

CW: Terima kasih bapak-bapak telah ber rekonsiiasi dan saling berangkulan win-win solution. Jadi resep konkretnya apa bapak (mengarahkan ke Bung Karno) tidak merasa ini pendulum ke kanan dari revolusi sosialis Indonesia.

BK: Sosialisme yang berkemakmuran, pasar terkendali yang berdaya saign global, kinerja optimal dari seluruh potensi masyarakat, itulah sosialisme Pancasila pasca runtuhnya Tembok Berlin dan insiden Tiananmen. Dunia menuju kompetisi meritokratis universal, kinerja optimal memperoleh reward esensial dan kompetisi tetap memelihara engineering social mengatasi diskrepansi kinerja yang tak terhindarkan, sebab manusia bukan robot yang sejenis, meski kembar sekalipun.

Pengampunan pajak itu yang pertama kali saya lakukan 1964 dengan Menteri Mohamad Hasan alias Tan Kiem Liong. Ini beda dengan Bob Hasan. Jadi dari dulu saya juga punya rencana pembangunan PNSB 1961-1969 yang gagal karena factor geopolitik keburu mencaplok kita dalam “perang saudara Orla Orba”.

Sekarang kalau elite masih diterpa predator virus sara global Israel Palestina, lalu malah lebih Arab dari Arab dan Lebih Palestina dari Palestina. Asian Games IV di Jakarta, dan RI diskros tidak boleh ikut Olimpiade Tokyo 1964 tapi negara negara Arab tetap berlenggang kangkong masih asyik ikut Olimpiade Tokyo bersama Israel. Ini jangan digelapkan oleh penulis sejarah politiik luar negeri kita.

CW: Wah, kalau itu sudah capek kita bicara bolak balik, tapi mungkin resep koalisi duet Megawati-Prabowo ini merupakan kejutan yang bakal ramai pro dan kontra. Bapak-bapak berdua stand by ya, kita siap dengan diskusi imajiner ini kalau perlu diperluas dengan tokoh lain seperti Prof Sumitro dan sebagainya.

Soeharto: Terima kasih Bung Chris sudah beberapa kali mengundang saya ikut diskusi imajiner seperti ini. Mungkin karena tercecer dipelbagai media tidak ada yang sadar bahwa kita sudah sering berdkisusi imajiner yang isinya tentu saja mawas diri dan memberi bekal generasi milenial agar tidak menguolangi blunder masa lalu dan merumuskan kebijakan yang mempercepat pembangunan Indonesia menjadi nation state nomor 4 dalam kualitas 2045,

Megawati lahir 23 Januari 1947 akan berusia 77 tahun pada 2024 sedang Prabowo akan 73 karena lahir 17 Oktober 1951. Bila dwitunggal ini diberi peluang untuk memimpin Indonesia satu periode keduanya sudah berusia 82 dan 78 pada akhir masa jabatan 20 Oktobr 2029. Apakah elite Indonesia 2024 bersedia rekonsilasi tuntas dan menutup buku konflik politik Syariah vs Sekuler secara final dengan dwitunggal Mega-Prabowo sebagai Presiden ke-8 dan mantan presiden pertama yang menduduki kursi presiden tidak berurutan. Prabowo menjadi wapres ke-14 dan orang ke-13, karena JK menjadi wapres ke-10 dan ke 12 dan Maruf Amin, wapres ke 13 tapi orang ke-12.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

6FansSuka
7PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terbaru