Selasa, 21 April 2026

SEGERA…! Beresiko Tinggi Corona, Pasien Jantung Perlu Perlindungan Ekstra

Dr. Sony Hilal Wicaksono, SpJP(K), FIHA, FAsCC., dari Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). (Ist)

JAKARTA- Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mengingatkan, epidemi Covid19 (virus Corona) dapat meluas dan berpindah dengan cepat, sehingga petugas kesehatan harus tetap bersiap. Di daerah dengan kasus Covid-19, orang yang memiliki penyakit jantung sangat dianjurkan untuk menggunakan alat pelindung diri. Hal ini disampaikan, Dr. Sony Hilal Wicaksono, SpJP(K), FIHA, FAsCC., dari Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (7/3).

 

Menurut Dokter Sony, resiko pneumonia pada pasien dengan gagal jantung lebih tinggi dibandingkan pasien biasa. Oleh Karennya, pasien dengan gagal jantung perlu perlindungan ekstra dari infeksi virus. Pada pasien dengan penyakit Kardiovaskular (Jantung dan pembuluh darah) disarankan untuk segera vaksinasi, termasuk vaksin pneumokokus dan influenza. Vaksin perlindungan dari pneumonia selama ini sudah direkomendasikan oleh dokter spesialis jantung.

“Vaksin pneumokokus dan influenza penting untuk melindungi dari pneumonia akibat bakteri pneumokokus dan virus influenza. Pasien harus mencuci tangan rutin dan tetap menjalankan terapi penyakit kardiovaskular,”  tegasnya.

Dokter Sony menjelaskan, Covid19 ditularkan melalui droplet (butir cairan tubuh) dan dapat hidup diluar tubuh. Pencegahan dilakukan dengan menggunakan alat pelindung diri. Pasien dewasa jarang mengalami demam. Gejala awal yang sering adalah batuk dan sesak nafas.

“Untuk itu, penting dilakukan triase pada pasien dengan komorbid atau penyaringan awal pasien di rumah sakit” ujarnya.

Panduan klinis Corona. (Ist)

Virus Corona (Covid-19) pertama kali dilaporkan pada akhir Desember 2019 berasal dari Wuhan, China,–merupakan Betacoronavirus, seperti SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome), muncul sebagai pneumonia virus. Pada 28 Februari 2020, 61 negara mengkonfirmasi 83.863 kasus dengan 2.867 kematian.

Kemudian otoritas China menyatakan terdapat kemungkinan peningkatan risiko kematian untuk penderita Covid-19 (Corona) dengan diabetes, hipertensi, pasien dengan penyakit kardiovaskular (Jantung dan pembuluh darah), dan orang tua. Hal ini dilaporkan dalam  American College of Cardiology (ACC) Clinical Buletin: Cardiac Implication of Novel Coronavirus (COVID19), yang diterbitkan Jumat,  28  Februari 2020.

Dokter Sony menjelaskan, dampak kasus COVID-19 terhadap jantung menunjukkan 50% kasus Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit merupakan pasien dengan penyakit penyerta, dan 80% adalah pasien penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) dan serebrovaskuler (pembuluh darah otak).

“Angka kematian Covid-19 sebesar 2,3%. Mereka adalah pengidap Hipertensi (6%), Diabetes Militus (7,3%), Penyakit kardiovaskuler (10,5%) dan Usia lebih 80 tahun (14,8%),” katanya mengutip buletin tersebut.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Universitas Indonesia Depok ini mengatakan, perkembangan Covid-19 pada 138 RumahSakit, 35% ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) atau sindrom pernapasan akut, 30% Aritmia (gangguan irama jantung), 16% Syok, 13% Gagal Jantung Akut, 6% Gagal Ginjal Akut. Artinya 59% dari pasien Covid-19 mengalami komplikasi terkait sistem Jantung dan pembuluh darah.

Ia mengatakan, kasus meninggal pertama adalah seorang laki-laki berusia 61 tahun dengan riwayat merokok lama. Komplikasi, ARDS, gagal jantung, dan henti jantung. Beberapa kasus berkembang menjadi Myokarditis (radang otot jantung bisa karena infeksi). Ini masih perlu penelitian lebih lanjut apakah Covid-19 dapat menyebabkan myocarditis. Oleh sebab itu untuk mencegah kematian pada pasien Covid-19 perlu tim dari Dokter spesialis Jantung dan pembuluh darah (SpJP)

Dokter Sony menjelaskan, pada semua kasus pandemic influenza kecuali flu 1918, angka mortalitas pasien dengan penyakit kardiovaskular selalu lebih tinggi dibandingkan dengan penyakit penyerta lainnya.

Pada penyakit Virus lainnya, Pasien dengan penyakit arteri koroner dan gagal jantung memiliki resiko yang lebih tinggi mengalami eksaserbasi (kekambuhan).

Pada Analog SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) menunjukkan, 60% pasien MERS diduga memiliki beberapa faktor komorbid (penyakit penyerta) yaitu penyakit kardiovaskular, Diabetes Militus, dan penyakit ginjal. Sehingga pasien memiliki prognosis yang buruk (risiko tinggi perburukan-kematian).

Baik SARS dan MERS diketahui berhubungan dengan miokarditis (radang otot jantung bisa akibat infeksi), infarkmiokard akut (serangan jantung),  dan onset dini gagal jantung.

Pada SARS akut, sering terjadi penurunan fungsi ventrikel kiri (bilik kiri jantung) secara subklinis (belum menampilkan gejala) walaupun tanpa riwayat penyakit kardiovaskuler sebelumnya.

Komplikasi SARS pada 121 pasien, 71,9% takikardia (laju nadi cepat di atas batas normal), 50,4% hipotensi (tekanan darah rendah), 14,9% transient bradikardia (laju nadi terlalu lambat), 10,7% transient kardiomegali (pembesaran jantung) tanpa adanya gejala gagal jantung dan 1 pasien transient paroxysmal AF (Atrial Fibrilasi) yaitu gangguan irama jantung atrial fibrilasi yang tidak menetap, dengan resolusi spontan (sembuh sendiri).

Sehingga untuk mencegah terjadinya kematian pada pasien Covid-19, perlu peran serta dokter spesialis Jantung dan pembuluh (SpJP) untuk mengantisipasi komplikasi jantung dan pembuluh darah. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles