JAKARTA- Merespon dinamika sosial politik yang terjadi belakangan ini khususnya situasi aksi massa yang terjadi sejak tanggal 21 Mei 2019, Kolektif Nasional Tim Akar Rumput (KN-TAR) meminta dan mendukung aparat keamanan untuk tetap bertindak secara proporsioanl dan profesional dan menjunjung Hak Asasi Manusia dalam menghadapi para demonstran sepanjang para demonstaran berpegang pada asas Peaceful Protest yaitu aksi tanpa kekerasan atau tindakan mengekspresikan ketidaksetujuan melalui tindakan tanpa menggunakan kekerasan. Hal ini ditegaskan oleh M. Ridha Saleh Ketua Kolektif Nasional Tim Akar Rumput (KN-TAR) kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu (23/5).
“Menghimbau kepada semua pihak dan mendukung Aparat keamanan untuk tetap menjaga rasa aman bagi seluruh rakyat indonesia sebagai prioritas utama,” tegasmantan Komisioner Komnasham ini.
Ia meminta kepada aparat yang berwewenang untuk segera menangkap dalang penyebab terganggunya keamanan dan kekacauan sosial politik.
“Kami mendukung upaya pemerintah baik pusat maupun daerah untuk tetap menjaga stabilitas politik agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan tetap memastikan agar bahan pokok, transportasi yang menjadi kebutuhan masyarakat di bulan ramadhan dan lebaran tetap aman dan terjangkau,” ujarnya
Ia juga mengajak dan mendorong semua pihak khususnya para elit politik untuk menghentikan pernyataan yang dapat memprovokasi dengan hanya berdasar pada asumsi atau kepentingan sesaat serta Menghimbau masyarakat untuk tidak terpancing dengan berbagai informasi dan provokasi yang dapat memicu kerawanan sosial.
“Kepada seluruh jaringan akar rumput mulai dari komunitas akar rumput terkecil di desa dan kelurahan untuk melakukan konsolidasi sosial/forum kebersamaan untuk merajut dan mempererat persaudaraan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan tetap menjaga persatuan Indonesia,” tegasnya.
Ia mengingatkan komitmen Indonesia untuk tetap menjaga kualitas dan kedewasaan berdemokrasi telah diperlihatkan melalui pelaksanaan Pemilu yang jurdil dan transparan.
“Pemilu dilaksanakan sesungguhnya tidak saja untuk memilih pemimpin dan perwakilan politik, namun lebih dari itu, pemilu harus dipahami sebagai sebuah cara yang demokratis untuk menghindari konflik politik antar kekuatan politik dalam memperjuangkan kepentinganya. Namun, sangat disayangkan dampak pemilu khususnya Pilpres 2019 justru membuat adanya polarisasi politik yang menjadikan masyarakat terbelah,” tegasnya. (Calvin G. Eben-Haezer)

