Sabtu, 18 Mei 2024

Selamat Jalan Pak KH M. Arief Mahya, Terimakasih Atas Semua Perjuangannya

JAKARTA- Hari ini Rabu, 15 Mei 2024 pagi sebuah pesan WA masuk dari Andi Arief, mantan pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD) mengabarkan harus pulang ke Bandar Lampung.

“Bapakku masuk ICU, aku pulang dulu.”

Sore hari, sebuah pesan dari seorang budayawan di Jawa Timur, Fatchurochman mengabarkan, orang tua Andi Arief telah berpulang.

“Telah meninggal dunia tokoh ulama Lampung KH M. Arief Mahya (orang tua/Ayah dari Andi Arief SIP siang ini pukul 14.36 WIB) dalam usia 98 tahun.”

Terbayang pak KH M. Arief Mahya saat perjumpaan terakhir dengan saya dan Fatchurrohaman di sebuah rumah sakit di Bandar Lampung 2018 lalu. Saat itu walau di rumah sakit pak Mahya masih sangat bersemangat, berdiskusi seperti putra bungsunya Andi Arief yang pernah diculik Tim Mawar Kopossus.

Fatchurrohman mengenang pak Mahya sebagai guru, jurnalis, mubaligh dan kyai yang mengalami masa era perjuangan, era masa kemerdekaan hingga saat ini.

Jejak Langkah Perjuangan

Wartawan senior Heri Wardoyo pernah menulis tentang pak Mahya pada tahun 2008 dalam tulisan berjudul: K.H. M. Arief Mahya (1926-…): Jejak Langkah Kiai Pejuang dalam kumpulan 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 63-67.

“Pengalaman paling mengharukan dalam hidup ketika Andi Arief, anak bungsu saya, berurusan dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI karena kritis terhadap rezim Orba. Saya, yang berjuang mempertaruhkan nyawa tahun 1949, sakit hati, kecewa sekali. Kenapa anakku diambil begitu saja. Kalau memang dia bersalah, kenapa tidak ngomong dulu dengan saya.”

PERISTIWA 1998 itu membekas begitu dalam di hati K.H. Arief Mahya, pejuang dan ulama kelahiran Gedung Asin, Liwa, 6 Juni 1926 dari pasangan Mahya dan Fatimah. Masa kecil lelaki 81 tahun ini dilalui di pedalaman Liwa. Sejak 31 Desember 1929, keluarga besar Mahya pindah ke Kampung Talangparis, Kecamatan Abung Tinggi, 6 kilometer dari Bukit Kemuning. Di kampung inilah hidupnya dimulai.

Pada umur 7 tahun, Arief masuk sekolah rakyat negeri 3 tahun (volkschool) di Ulakrengas. Setiap sore dan malam ia belajar mengaji Alquran dan ilmu agama pada saudara sepupunya, Sulaiman bin H.M. Saleh bin H.M. Nuh. Kebetulan saudara sepupunya ini pernah belajar di Pesantren Kedah, Malaysia. Usai volkschool, Arief meneruskan ke Madrasah Diniyah di Tanjungmenang dan diterima di kelas III. Ia pun berkenalan dengan ilmu tauhid, fikih, tasawuf, akhlak, hadis, tajwid, tarikh Islam, dan bahasa Arab dari gurunya yang masyhur, K.H.M. Rais Latief, lulusan Al-Azhar, Kairo Mesir.

Sejak mengenal dunia pendidikan, Arief kian bersemangat belajar. Lulus madrasah, ia ke Standardschool, Wustho Zu’ama, dan Wustho Mu’allimin. Wustho Zu’ama biasa disebut sekolah pemimpin menengah, sedangkan Wustho Mu’allimin adalah Sekolah Guru Menengah atau Onderbouw Kweekschool.

Setamat Wustho Mu’allimin, Arief stop sekolah karena pada 1940–1949 meletus Perang Dunia II. Kondisi ini memaksanya terjun ke kancah perang. Sejak 17 Agustus 1945–1949, ia proaktif pada revolusi, mempertahankan kemerdekaan.

Sekitar 1942, Arief ikut rombongan Darwys Manan berjalan kaki menempuh 100 km dari Bukit Kemuning ke daerah Neki dan Menangan Siamang (sekarang Way Kanan). Perjalanan tiga hari tiga malam ini untuk tablig pada masyarakat di kampung-kampung. Arief juga berdakwah ke beberapa kampung di Way Tenong, Belalau, dan Liwa bersama A. Halim dan Idris Mu’in. Pada 1942–1943, ia mengajar di Madrasah Ibtidaiah Talangparis dan Madrasah Muhammadiyah di Pekon Karangagung, Way Tenong.

Kondisi kembali berubah. Jepang menerapkan sistem kerja paksa BPP (Badan Pembantu Perang) pada masyarakat Indonesia. Untuk menghindarinya, Arief hidup berpindah-pindah bersama para pedagang (cingkau). Mereka jual beli barang dari satu daerah ke daerah lain, selama bertahun-tahun; sampai akhirnya keluarga Mahya pindah ke Hadimulyo, Metro, 1943.

Pada awal kepindahan keluarga besarnya, Arief belum ke Metro. Ia meneruskan aktivitasnya di Liwa. Sampai akhir 1944, ia memutuskan menyusul keluarganya ke Metro. Tokoh setempat meyambut kedatangannya. Waktu itu memang jarang ada yang berpendidikan tinggi seperti Arief. Ia diminta menjadi Kepala Perguruan Islam menggantikan Ustaz M. Jailani yang mengundurkan diri. Sejak Februari 1945–Desember 1948 ia bekerja di perguruan Islam tersebut.

Kiprahnya dalam pendidikan Islam makin terbuka manakala pada 1 September 1945 diterima menjadi guru agama (PNS) di Sekolah Rakyat Negeri (SRN) 1 dan 2 Metro. Satu tahun kemudian, Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) mengangkat Arief menjadi pemeriksa pelajaran agama pada sekolah-sekolah pemerintah di Metro.

Pada tahun sama ia diberi menjadi sekretaris Masyumi dan Ketua Lasykar Hizbullah/Sabilillah Cabang Metro. Arief mengikuti beberapa pelatihan/penataran yang dilaksanakan pemerintah. Ilmu yang didapat dari sekolah dan pelatihan inilah yang kemudian menjadi bekalnya berjuang melalui jalur pendidikan dan politik. Militansinya dalam memperjuangkan nilai pendidikan Islam makin terbentuk.

Tahun 1946 ia menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Metro. Sejak itu ia aktif dalam pergerakan Islam. Ia pun mengikuti latihan kemiliteran.

Tanggal 1 Januari 1949, Belanda mendarat di Pelabuhan Panjang. Para pejuang dan pemuda Lampung mulai mengantisipasinya dengan mempersiapkan perang gerilya. Rapat kilat diadakan di kantor PU Metro demi menyatukan semangat antipenjajah. Untuk menindaklanjuti keputusan rapat, Arif dan para pemuda turun ke desa-desa memberi penjelasan ihwal perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Semangat anti-Belanda dikobarkan di mana-mana.

Setelah melalui perjuangan panjang, 10–22 Desember 1949 Arief Mahya bersama Makmun Nawawi diutus menghadiri Kongres Masyumi dan Badan Kongres Muslim Indonesia (BKMI) di Yogyakarta. Pada 17 Desember 1949, mereka juga sempat menyaksikan Bung Karno dilantik sebagai presiden Republik Indonesia Sementara (RIS) di Sitihinggil Keraton Yogyakarta.

Zaman itu, perjalanan ke Yogya memerlukan stamina luar biasa. Berhari-hari mereka terguncang-guncang dalam perahu motor Telok 9 dengan surat kuasa jalan (machteging) selaku Delegasi RI untuk perdamaian dengan Belanda dari Residen Lampung RI (darurat) Mr. Gele Harun. Maklum, masa itu Belanda masih menduduki seluruh Jakarta dan beberapa kawasan penting lain.

Berkat Kongres itu pula, pada 26 Desember 1949, dua utusan Lampung ini sempat menyaksikan upacara penyerahan kedaulatan RI, pidato kedua negara (RI dan Belanda), serta penurunan bendera Belanda yang digantikan Merah Putih. “Itu momen yang sangat bersejarah bagi negeri ini. Saya juga bisa bertemu dan berjabat tangan dengan Bung Karno,” ujar Arief Mahya.

Pulang ke Lampung, Arief kembali meneruskan bidangnya di dunia pendidikan dan dakwah Islam. Pada 5 Januari 1950, ia menemui Kepala Djawatan Agama Lampung, K.H. A. Razak Arsyad. Arief mendapat tugas membantu menyusun dan mengisi formasi pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) dari kabupaten sampai tingkat kecamatan seluruh Lampung Tengah. Sejak itu, Arief bertugas sebagai kepala Sekretariat KUA Lampung Tengah di Metro. Semua pegawai negeri RI dan TNI sepanjang 1949 tidak mendapat gaji. Pekerjaan itu dianggap pengorbanan untuk kepentingan bangsa dan negara.

Selama aktif di GPII, Arief terpikat pada aktivis GPII Putri, Mas Amah. Pernikahan mereka dilaksanakan 26 Agustus 1950 di Metro. Dari pertengahan 1952–1956, Arief nonaktif sebagai PNS karena menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Lampung Tengah. Kiprahnya beralih dari dunia pendidikan menuju medan politik.

Setelah pemberontakan PKI dan Lampung menjadi provinsi, 1964, Arief dimutasikan; dari kepala Staf Penerangan Agama pada KUA Ogan Komering Ulu menjadi wakil kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Lampung di Telukbetung, mulai 1 Oktober 1965. Dari 1965–1966, ia menjadi Tim Screening PNS Lampung. Tugasnya meneliti seluruh PNS apakah ada yang terlibat PKI atau tidak.

Sejak 1966 ia menjadi Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Islam (Yaperti) Lampung, kini Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung. Kariernya bagus sejak diangkat sebagai kepala Jawatan Penerangan Agama Provinsi Lampung, 1969–1973. Jabatan itu dia isi seiring dengan keaktifannya di organisasi Islam untuk pendidikan dan dakwah. Ia juga termasuk pengurus dan penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung sejak organisasi ini berdiri 1975.

Terhitung 1 Juli 1979, M. Arief Mahya pensiun sebagai PNS. Setahun sebelumnya ia sudah haji. Meskipun pensiun, aktivitas pendidikan-dakwah-politik-nya tak mengendur. Arief pun mengisi hari-harinya dengan mengajar mengaji anak-anak sekitar rumah. Salah satu murid mengajinya adalah Jusni Sofjan, kini direktur Jakarta International Trade Container (JITC).

Ia juga rutin mengisi ceramah agama dan terus menulis berbagai artikel di media massa lokal. “Tiap kata yang saya ketik dalam biasanya sudah melalui pemikiran panjang,” kata dia.

Seiring dengan bertambahnya usia, dedikasinya terhadap dunia dakwah di Lampung meningkat. Bersama organisasinya, PWNU Lampung, ia rutin aksi sosial. Arief juga pengisi tetap kuliah subuh di RRI Tanjungkarang, selama empat tahun dua bulan. “Sampai sekarang saya tetap aktif sebagai wakil ketua Pengurus Masjid Al Furqon. Kalau Jumat saya menerjemahkan beberapa hadis pendek untuk buletin masjid,” ujarnya.

Arief pun di minta menjadi pengurus pada Forum Komunikasi Umat Beragama yang dibentuk gubernur Lampung. Tugasnya menyelesaikan konflik-konflik antaragama. Untuk mengisi hari tuanya, Arief Mahya masih ingin terus menulis bersama mesin ketiknya. “Saya tidak bisa komputer. Tapi semua terasa nikmat,” kata pengidola Muhamad Natsir ini.

BIODATA

Nama: K.H. Muhammad Arief Mahya
Lahir: Gedung Asin, Liwa, 6 Juni 1926
Agama: Islam
Nama orang tua: Mahya dan Fatimah
Saudara kandung:
1. H. Mursyid Mahya
2. Zainab
3. Drs. H. Muslim Mahya
4. Hj. Rotinam
5. Rofi’ah
Anak ke: Tiga)
Nama istri: Hj. Mas Amah
Nama anak:
1. Hilyati
2. Istamar Arief, S.H., M.B.A.,
3. Erna Pilih, S.H.
4. Prisrita Rita, S.Pd.,
5. Dr. Edy Irawan Arief
6. Dr,Neli Aida, M.Si.,
7. Septi Aprilia, S.Pd.,
8. Andi Arief, S.I.P.

Pendidikan:
1. Volkshool
2. Madrasah/pesantren
3. Standardschool
4. Wustho Zu’ama
5. Wustho Mu’allimin

Karier:
1. Guru Agama SR Negeri
2. Kepala Tata Usaha KUA Kabupaten Lampung Tengah
3. Kepala Staf Penerangan Agama pada KUA Lampung Tengah Wakil Kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi
4. Kepala Jawatan Penerangan Agama Provinsi

Alamat rumah: Jalan Flamboyan III No.1, Enggal (0721) 251677
Hobi: Menulis
Moto hidup: Jangan hidup seperti benalu
Tokoh idola: Muhamad Natsir

Selamat jalan bapak. Terimakasih atas semua perjuangan bapak. Terimakasih sudah mendidik dan menjadikan seorang Andi Arief yang terus melanjutkan perjuangan bapak. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru