JAKARTA – Negara-negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia menghadapi dua tantangan simultan yaitu harus memperluas industri, lapangan kerja, dan infrastruktur, sambil juga menghindari jebakan carbon-intensive lock-in dan tetap kompetitif di pasar global. Hal ini disampaikan Seruni Salsabila, mahasiswi studi Master Climate Change Management di University of Edinburgh, dalam pidatonya pada sesi Roundtable 2.2: “Leading by Doing: Middle-Income Countries as Engines of Green Industrial Transformation,” beberapa waktu lalu.

Seruni Salsabila menjadi salah satu pembicara utama dalam International Vienna Energy and Climate Forum (IVECF) 2026. Dalam perannya sebagai Co-Chair Youth Advisory Group (YAG) for Energy and Climate Action di United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).
Ia menyuarakan pentingnya melibatkan suara pemuda dan komunitas lokal dalam transformasi industri hijau—sebuah isu yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah yang sedang mengalami ekspansi industri masif.
Seruni membahas tiga peran ponkret pemuda pada transformasi industri dalam forum internasional yang menghadirkan pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan ahli energi global, untuk mendorong transisi energi-industri yang adil dan berkelanjutan.
Ia menunjukkan, pemuda sebagai bagian dari tenaga kerja transisi menunjukkan bahwa 666 juta orang masih kekurangan akses listrik. Sementara transisi energi bersih dapat menciptakan lebih dari 30 juta lapangan kerja pada 2030.

“Namun, hanya 13% populasi global memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk ekonomi hijau yang sedang berkembang,” ujarnya.
Ia memaparkan, bagi Indonesia, 70% tenaga kerja muda masih belum tertarik ke sektor energi terbarukan, ini adalah peluang kritis. Pemuda bukan hanya penggemar iklim. Kami adalah insinyur, peneliti, pengusaha, teknisi, dan pembuat keputusan masa depan,” katanya.
Yang kita dibutuhkan menurutnya systems thinking, kemampuan memahami bagaimana energi, industri, keuangan, kebijakan, lingkungan, dan masyarakat saling terhubung erat,” tegasnya.
Jembatan Ambisi Tingkat Tinggi dan Implementasi Lokal

Ia menjelaskan, di Indonesia, tantangan terbesar bukan hanya menetapkan target, tetapi mengubahnya menjadi jalur yang bankable, investable, dan secara sosial legitimate.
Di sini, pemuda dapat memainkan peran penting: mengidentifikasi hambatan awal, membangun umpan balik data lokal, menghubungkan proyek dengan realitas kehidupan, dan memastikan transisi tidak menjadi sesuatu yang dilakukan untuk rakyat, tetapi bersama mereka.
“Just transition tidak boleh menjadi catatan kaki dalam perencanaan. Just transition harus dibangun sejak awal melalui akuntabilitas, inklusi, dan partisipasi nyata”
Penghubung Pengetahuan Lokal dengan Strategi Nasional
Pemuda menurutnya dapat menghubungkan pengetahuan lokal dengan strategi nasional, dan prioritas nasional dengan proses global.

Di Indonesia, ini berarti menghubungkan inisiatif komunal energi terbarukan (seperti solar desentralisasi) dengan rencana nasional dekarbonisasi industri.
“Kami dapat membuat debat transisi industri yang kompleks menjadi lebih accessible, grounded, dan actionable. Inilah yang sedang kami bangun melalui workplan YAG: bukan hanya advice, tetapi strategic input dan youth-initiated outputs.” tegasnya.
Workplan YAG dan Aksi Lokal
Sebagai Co-Chair YAG, Seruni turut mengarahkan arah kelompok ke depan, dengan fokus khusus pada mendorong action-oriented outcomes—bukan sekadar konsultasi.
Salah satu inisiatif yang sedang berkembang adalah dukungan untuk aksi berbasis komunitas dan pemuda, seperti pilot solar komunitas dan ruang konsultasi regional yang menghubungkan realitas lokal dengan proses internasional.
Ekuitas Antar Generasi

Perspektif intergenerational equity juga menjadi inti pemikiran Seruni.
“Keputusan yang kita buat hari ini tidak hanya harus menurunkan emisi. Keputusan harus juga melindungi dignitas, kesempatan, dan keadilan bagi mereka yang akan hidup paling lama dengan konsekuensinya,” katanya.
“Mari kita ciptakan jalur nyata bagi pemuda untuk berkontribusi melalui pengembangan keterampilan, peluang pekerjaan pertama, penelitian, kewirausahaan, konsultasi lokal, dan delivery proyek. Dan mari kita bangun sistem energi dan industri yang tidak hanya lebih bersih, tetapi juga lebih adil, lebih kolaboratif, dan benar-benar dibagikan lintas generasi,” ujarnya.
Pesan untuk Pembuat Kebijakan dan Industri Indonesia
Indonesia menurutnya memiliki kesempatan emas untuk menjadi contoh bagaimana negara berpenghasilan menengah dapat menjalani transisi industri hijau yang adil dan inklusif.
“Tetapi ini hanya mungkin jika suara pemuda, komunitas lokal, dan buruh didengar dan benar-benar mempengaruhi keputusan. Bukan sekadar diundang ke meja, tetapi memiliki kekuatan nyata dalam mengubah arah,” tegasnya.
Seruni adalah Co-Founder & Chairperson Catalyst of Change ASEAN, organisasi yang telah berdampak pada 900+ pemuda dan 20+ buruh sampah perempuan. Project aksi secara langsung telah dilakukan di Indonesia, Brunei, Myanmar, dan Filipina.
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Selasa (12/5) dilaporkan, Seruni juga menjabat aktif dalam Global Youth Coalition Champion fokus pada Clean Energy Transition; YOUNGO Energy Working Group Member — representasi resmi pemuda di UNFCCC; UNIDO Energy and Climate Action Youth Advisory Group Co-Chair — yang baru diluncurkan di IVECF 2026 sampai 2028
Saat ini Seruni sedang menjalanji menjalani pendidikan Climate Change Management di University of Edinburgh dengan beasiswa penuh Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP), dan telah dipilih sebagai IPCC AR7 Youth Reviewer, peserta Global Youth Climate Training Program, dan delegasi resmi Indonesia di berbagai forum iklim internasional termasuk COP29 Baku dan COP30 Belém. (Web Warouw)

