Kamis, 2 Juli 2026

Sinergi Kiai Imjaz dan Gus Imin: Mengunci Calon Ketua Umum PBNU dari Kebuntuan Regulasi

Oleh: Abdullah Fanani, M.Si *

​PERTEMUAN malam hari pada tanggal 28 Juni kemarin antara KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz) dan Gus Muhaimin Iskandar (Gus Imin) di Cirebon memantik diskursus yang dinamis menjelang Muktamar PBNU ke 35. Pertemuan ini menjadi sorotan penting menjelang momentum suksesi kepemimpinan.

​Secara sosiologis, silaturahmi dua tokoh ini bukan sekadar agenda seremonial di acara wisuda santri Bina Insan Mulia dan ramah-tamah biasa. Pertemuan ini merupakan simfoni taktis yang sarat kalkulasi matang mengenai masa depan kepemimpinan tertinggi kaum sarungan.

​Dukungan dalam kontestasi calon Ketua Umum PBNU ini tidak berada dalam pola hubungan satu arah yang linear. Hubungan keduanya merupakan simbiosis mutualisme politik yang saling menguatkan posisi tawar di tengah lanskap aturan organisasi yang kian ketat.

​Bagi Gus Imin, adanya Kiai Imjaz mungkin membawa angin segar sekaligus menjadi jangkar pengaman strategis. Figur ini hadir di tengah bayang-bayang krisis kaderisasi tingkat atas PBNU yang terbentur regulasi internal organisasi.

​Sebab saat ini, figur yang diusung PKB seperti Gus Yusuf Chudlori dan Gus Salam berpotensi menghadapi ganjalan administratif dan organisatoris yang cukup berat untuk maju ke bursa kepemimpinan PBNU. Gus Yusuf Chudlori, bisa saja terganjal ketentuan Anggaran Rumah Tangga (ART) PBNU terkait batas waktu minimal setelah mundur dari jabatan politik atau struktural tertentu.

Sementara ​Gus Salam bisa saja mengalami resistensi struktural akibat rekam jejak perkara hukum organisasi terkait gugatan PCNU Jombang yang belum dipulihkan sepenuhnya oleh PBNU. ​Dalam kebuntuan inilah Kiai Imjaz hadir sebagai opsi alternatif. Beliau adalah pemersatu tokoh NU dan representasi kekuatan kultural murni yang tidak terbebani oleh konflik struktural masa lalu maupun jerat regulasi administratif internal.

​Dukungan Gus Imin kepada Kiai Imjaz untuk bersiap masuk dalam bursa kepemimpinan PBNU adalah langkah rasional. Langkah ini diambil untuk menjaga keberlangsungan organisasi di tangan sosok yang sudah selesai dengan urusan domestik dan ekonominya.

​Kiai Imjaz telah membuktikan kapasitas manajerialnya yang luar biasa lewat akselerasi pengembangan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia 1 hingga 4 yang melesat pesat dalam waktu 13 tahun. Ini menjadi indikator sahih kemampuan kepemimpinan modern dan kemandirian finansial.

​Sebaliknya, justru Kiai Imjaz yang mendukung Gus Imin untuk memimpin PBNU, dan hal tersebut menjadi validasi wakil kultural dan kelompok kritis yang sangat berarti. Rekam jejak Gus Imin yang sejak muda memimpin PB PMII, lalu PKB dan legitimasi genetisnya sebagai cicit salah satu soko guru pendiri NU, KH Bisri Syansuri, menjadi modal yang sulit ditandingi.

​Selain itu, pertemuan ini sekaligus mengirimkan sinyal kuat kepada faksi-faksi internal maupun eksternal yang mencoba menggoyang dua kekuatan antara soliditas Nahdliyin kultural dan PKB. Kolaborasi Gus Imin dan Kiai Imjaz membuka ruang kompromi yang pragmatis namun tetap elegan demi menghadapi tantangan akan konflik dan perpecahan

​Melalui poros ini, jika terpilih, maka NU di abad ke 2-nya menegaskan kemandiriannya agar tidak mudah disetir oleh intervensi politik luar. Dengan merangkul kekuatan kultural murni sekelas Kiai Imjaz, basis massa akar rumput dikunci lewat narasi kemandirian pesantren.

​Bagi Kiai Imjaz sendiri, momentum Muktamar ini adalah validasi atas konsep kemandirian pesantren yang selalu beliau suarakan. Mengelola organisasi sebesar PBNU membutuhkan logistik dan manajerial yang kokoh, sesuatu yang sudah dibuktikannya secara mandiri.

​Bertemunya dua figur yang sinergis antara trah pendiri dan kekuatan kultural modern ini berpotensi mengubah wajah PBNU ke depan. Organisasi ini tidak lagi hanya bergantung pada romantisme sejarah, melainkan bertransformasi menjadi organisasi yang adaptif. ​Kesepakatan tak tertulis malam itu adalah pesan tegas bagi seluruh warga Nahdliyin: PBNU siap menghadapi Muktamar dan suksesi tanpa harus mengorbankan stabilitas organisasi. Wallahu’alam bishawab.

————-

*Penulis Abdullah Fanani, M.Si, Program Doktoral Sospol UGM

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles