Kamis, 11 Juni 2026

MAKIN PANAS NIH..! Trump: Angkatan Laut AS Segera Kawal Kapal Minyak Lintasi Selat Hormuz

JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS bakal segera mengawal kapal-kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz.

“Itu akan segera terjadi,” kata Trump ketika ditanya soal rencana pengawalan kapal minyak di Selat Hormuz, Jumat (13/3), melansir CNN.

AS Bom Markas Militer di Dekat Selat Hormuz, Trump Ancam Iran

Trump sesumbar pihaknya bisa mengatasi ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut. Ia juga mengatakan bahwa pihaknya sudah melancarkan serangan dahsyat ke wilayah Iran.

Trump mengaku tidak memiliki tenggat waktu atau sampai kapan perang dengan Iran berlangsung. Menurutnya perang tersebut bakal berlangsung “selama yang diperlukan”.

“Saya tidak bisa memberitahukannya kepada Anda. Maksud saya, saya memang punya pendapat sendiri, tapi apa gunanya? Ini akan berlangsung selama diperlukan,” kata Trump.

“Mereka [Iran] telah hancur lebur. Negara mereka dalam keadaan yang memprihatinkan. Semuanya sedang runtuh,” lanjut dia.

AS sebelumnya juga melancarkan serangan udara besar-besaran ke markas militer Iran di Pulau Kharg, dekat Selat Hormuz. Menurut Trump serangan itu merupakan salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah.

Dalam serangan tersebut AS memilih menghindari mengebom fasilitas minyak Iran di pulau itu. Namun, dia mengancam akan mempertimbangkan menghancurkan infrastruktur minyak apabila Iran dan sekutunya mengganggu kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

“Namun, jika Iran, atau pihak mana pun, melakukan tindakan apa pun yang mengganggu kebebasan dan keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini,” tambah Trump dalam sebuah postingan di Truth Social.

Pulau Kharg selama ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran. Sebagian besar minyak mentah Iran dimuat dari pulau itu sebelum dikirim ke negara pembeli.

Dengan menghantam instalasi militer di sana, AS diyakini ingin membatasi kemampuan Iran melancarkan serangan rudal terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

AS meyakini Iran menggunakan Pulau Kharg untuk melancarkan serangan rudal terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dengan menyerang fasilitas militer di pulau tersebut, AS memberi sinyal bahwa mereka dapat membatasi kemampuan Iran untuk menargetkan kapal-kapal di selat tersebut.

Ancaman terhadap infrastruktur minyak di Kharg juga dinilai signifikan. Jika fasilitas itu diserang, dampaknya bisa langsung mengguncang pasar energi global, mengingat Hormuz menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia

AS Kirim 5.000 Marinir ke Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump. (Ist)

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (14/3) dilaporkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengerahkan sekitar 5.000 Marinir AS ke Selat Hormuz, salah satu jalur minyak paling vital di dunia, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat berubah menjadi perang darat berskala besar.

Langkah militer besar ini dilakukan setelah 13 tentara Amerika tewas dalam rangkaian serangan selama perang yang terus memanas dengan Iran.

Menurut laporan Wall Street Journal, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyetujui permintaan dari United States Central Command untuk mengirim unit ekspedisi Marinir, yang biasanya terdiri dari beberapa kapal perang dan sekitar 5.000 pasukan tempur.

Salah satu kekuatan utama yang dikerahkan adalah kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7) yang berbasis di Jepang.

Kapal ini kini berlayar menuju Timur Tengah bersama pasukan Marinir untuk memperkuat pasukan AS yang sudah berada di kawasan konflik.

Situasi perang semakin memanas pada Jumat ketika jumlah korban tewas dari pihak AS meningkat menjadi 13 personel militer, sementara harga bensin domestik di Amerika melonjak hingga 3,60 dolar per galon.

Di Teheran, ketegangan bahkan diwarnai ejekan terbuka terhadap Trump. Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, secara terbuka mengejek Presiden AS di jalanan ibu kota Iran.

AS Pertimbangkan Rebut Pulau Minyak Iran

Di tengah eskalasi konflik, pemerintahan Trump juga mempertimbangkan opsi militer merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.

Pulau tersebut menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran, sehingga jika dikuasai, dapat menjadi pukulan telak bagi ekonomi Republik Islam.

Namun Trump menegaskan rencana itu belum menjadi prioritas utama.

“Itu bukan prioritas utama, tetapi salah satu dari banyak pilihan. Saya bisa berubah pikiran dalam hitungan detik,” kata Trump kepada Fox News Radio.

Di sisi lain, tragedi militer juga terjadi ketika pesawat pengisian bahan bakar udara Boeing KC‑135 Stratotanker jatuh di Irak barat setelah bertabrakan di udara pada Kamis.

Awalnya empat awak dilaporkan tewas, namun pada Jumat United States Central Command mengonfirmasi dua awak lainnya juga meninggal setelah upaya penyelamatan gagal.

Pesawat kedua yang terlibat tabrakan berhasil mendarat dengan selamat meski mengalami kerusakan pada bagian ekor.

Insiden tersebut membuat total korban militer AS dalam perang melawan Iran meningkat menjadi 13 orang, termasuk tujuh tentara yang sebelumnya tewas akibat serangan drone di pangkalan AS di Kuwait pada hari kedua konflik.

Pentagon Klaim AS Unggul          

Dalam konferensi pers di Pentagon, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengecam media yang menurutnya menyebarkan “judul berita palsu” tentang perang tersebut.

Ia menegaskan militer AS tetap memiliki superioritas udara dan laut atas Iran dan siap menggunakan kekuatan militer yang jauh lebih besar jika diperlukan.

Namun ketika ditanya mengenai kemampuan AS melindungi Selat Hormuz jalur penting bagi hampir seperlima pasokan minyak dunia Hegseth tidak memberikan jawaban langsung. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles