JAKARTA- Dampak COVID-19 diperkirakan lebih besar dibandingkan virus SARS tahun 2002-2003 disebabkan semakin besarnya peranan Tiongkok dalam perekonomian global. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam FGD Partai Golkar di Komisi 7, DPR, Rabu (26/2).
“Transmisi dampak akan lebih dalam lagi, mengingat Tiongkok merupakan Patner Utama dalam perdagangan, investasi, dan pariwisata di Indonesia,” jelasnya.
Mengutip laporan dari Konsensus Forecast, Barclays, CNBC, dan The Economist, Airlangga menyampaikan dampak corona virus terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok diperkirakan antara 1% – 2%.
“Setiap perlambatan ekonomi Tiongkok sebesar 1%, akan mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia antara 0,11-0,3%. Demikian dilaporkan oleh konsensus forecast dan World Bank.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, menurut Airlangga, sebelum wabah, Porsi PDB Tiongkok terhadap dunia meningkat dari 4,3 persen (2003) menjadi 15,8 persen (2018-nomor dua setelah AS). Kontribusi ekspor Tiongkok ke dunia meningkat dari 5,9% (2003) menjadi 12,9% (2018-nomor satu di dunia).
Rupiah Melemah
Sementara itu dilaporkan, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar-bank di Jakarta pada Kamis pagi melemah mendekati Rp14.000 per dolar AS dipicu kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus COVID-19.
Pada pukul 10.18 WIB, rupiah bergerak melemah 28 poin atau 0,2 persen menjadi Rp13.968 per dolar AS dari sebelumnya Rp13.940 per dolar AS.
“Kelihatannya sentimen masih belum berubah, masih kekhawatiran meluasnya infeksi virus Corona ke negara di luar China,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Kamis (27/2).
Kekhawatiran tersebut, lanjutnya, juga ditunjukkan dengan pelemahan tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level terendah sepanjang masa di kisaran 1,29 persen.
“Ini artinya banyak pelaku pasar membeli obligasi tersebut,” ujar Ariston.
Ariston memprediksi rupiah pada Kamis masih berpotensi tertekan di kisaran Rp13.900 per dolar AS hingga Rp14.000 per dolar AS.
“Ada potensi menembus Rp14.000,” katanya.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.018 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp13.966 per dolar AS. (Web Warouw)

