Selasa, 23 April 2024

2014, Kemenkes Patenkan 8 Jamu

JAKARTA- Tim Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Tawangmangu Kementerian Kesehatan, pada tahun 2014 ini sedang ajukan 8 paten dari komposisi formula jamu. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP (K) , MARS, DTM&H, DTCE kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (22/12).

 

Delapan komposisi formula itu menurutnya adalah jamu untuk obesitas, jamu untuk meningkatakan daya tahan tubuh, jamu untuk hepatoprotektor, jamu untuk anemia, jamu untuk batu pada saluran kemih, jamu untuk hemoroid derajat I-III, jamu untuk osteoarthritis sendi lutut dan jamu untuk pelancara ASI (Air Susu Ibu).

Guna perlindungan, saat ini sudah ada beberapa paten jamu yang terdaftar di Dirjen HAKI yaitu Buah Krangean (Litsea cubeba) Untuk Afrodisiaka dengan nomor pendaftaran P00201000438 didaftarkan tahun 2010.

“Komposisi Herbal Penurun Tekanan Darah Untuk Hipertensi Ringan, tim peneliti Balitbangkes Tawangmangu dan tim Saintifikasi Jamu telah mendaftarkan dengan nomor pendaftaran P00201300409  didaftarkan tahun 2013,” jelasnya.

Komposisi Herbal Untuk Hiperurisemia, tim peneliti Balitbangkes Tawanagmangu dan tim Saintifikasi Jamu telah mendaftarkan dengan nomor pendaftaran P00201300409 didaftarkan tahun 2013.

“Paten tentunya sangat bermanfaat dan melindungi peneliti kita dalam hal hak atas kekayaan intelektual,” jelasnya.

Menurutnya, sebagaimana definisi Paten adalah hak ekslusif yang diberikan oleh negara kepada inventor yang menemukan ide dan inovasi dibidang teknologi.

“Peneliti pemegang paten memiliki hak eksklusif untuk melaksanakan Paten yang dimilikinya, dan melarang orang lain tanpa persetujuannya dalam hal Paten,” ujarnya.

Belakangan memang dikabarkan Malaysia sudah mulai menggunakan kata ‘jamu’ dalam menyebut obat tradisional di Malaysia. Padahal Malaysia sebelumnya sudah mempunyai nama khas sendiri untuk obat tradisionalnya yang disebut dengan ‘obat kampung’. Malaysia sering menggunakan kata ‘jamu’ di akhiri dengan nama negaranya, sehingga menjadi ‘Jamu Malaysia’.

“Sementara itu, jamu sendiri adalah kata dari Jawa, yang terbentuk dari kata ‘Jampi Usodo’ dan mempunyai arti ramuan kesehatan disertai dengan doa. Istilah Jamu sudah dikenal nenek moyang kita sejak dahulu kala,” katanya.

Sejarah tentang jamu menurut Tjandra Yoga Aditama dapat ditelusuri dari beberapa bukti sejarah yang ada, antara lain dokumentasi tertua tentang jamu yang terdapat pada relief Candi Borobudur (tahun 772 SM), dimana terdapat lukisan tentang ramuan obat tradisional atau jamu. Relief-relief pada Candi Prambanan, Candi Penataran (Blitar), dan Candi Tegalwangi (Kediri) yang menerangkan tentang penggunaan jamu pada zaman dahulu. Kitab yang berisi tentang tata cara pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional

Pada tahun 991-1016 M, perumusan obat dan ekstraksi dari tanaman ditulis pada daun kelapa atau lontar, misalnya seperti Lontar Usada di Bali, dan Lontar Pabbura di Sulawesi Selatan. Beberapa dokumen tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

Pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia, pengetahuan mengenai formulasi obat dari bahan alami juga telah dibukukan, misalnya Bab kawruh jampi Jawi oleh keraton Surakarta yang dipublikasikan pada tahun 1858 dan terdiri dari 1734 formulasi herbal. (Tiara Hidup)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru