Selasa, 26 Mei 2026

43 PESAWAT MASIH GROUNDED NIH..! Bos Danantara Soroti Kerugian Garuda Masih Membengkak Walau Sudah Diinfus Dana Segar 

JAKARTA – Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria angkat bicara terkait kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang masih dibayangi tekanan berat, meski telah mendapatkan injeksi dana dari Danantara.

Dony menjelaskan bahwa kerugian yang dicatat tersebut sebenarnya merupakan laporan kinerja keuangan sepanjang tahun 2025, di mana saat intervensi Danantara belum sepenuhnya berjalan.

“Sebagai petunjuk -nya, itu kan masalah yang dibukukan hari ini itu kan pendapatan 2025. Intervensi yang kita lakukan itu kan baru [dilakukan] di akhir [2025]. Nanti akan terlihat performa di awal 2026. Nanti kan kita akan keluarkan di kuartal 1 dan kuartal 2,” kata Dony ketika ditemui di Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2026).

Terlebih lagi, katanya, kondisi pada tahun 2025 diperparah oleh kurangnya kemampuan perawatan pesawat atau MRO, sehingga proses perbaikan atau pemulihan operasional emiten penerbangan tersebut berjalan lambat dan terhambat.

Sebab, menurut Dony, salah satu faktor utama membengkaknya kerugian karena banyaknya pesawat Garuda yang tidak beroperasi (grounded), namun tetap menimbulkan beban biaya, terutama sewa (leasing).

“Sebelum dilakukan intervensi dan lain-lain, berapa ground -nya. Nah, sekarang berapa yang sudah terbang. Tetapi itu pun belum bisa 100%. Ini juga harus dipahami oleh teman-teman sekalian. Ternyata untuk mencari MRO untuk perbaikan itu tidak mengulanginya juga,” jelasnya.

Meski demikian, Dony memastikan dampak intervensi mulai terlihat pada tahun 2026. Ia menyebut kinerja anak usaha, Citilink, sudah mencatatkan hasil positif pada kuartal I-2026.

Ke depan, ia menekankan bahwa Danantara akan meluncurkan keberhasilan intervensi yang dilakukan melalui komputasi sejumlah pesawat yang sebelumnya dibumikan dengan kembali beroperasi, serta peningkatan kinerja pendapatan secara tahunan.

“Kita masih banyak PR-nya yang terus kita lakukan. Karena kan tidak cukup hanya dengan memberikan uang. Tapi juga transformasinya, nanti kita akan bikin konferensi pers , akan update mengenai transformasi apa yang sudah kita lakukan,” tegasnya.

Defisit GIAA Bengkak

Sebagai catatan, hingga tahun 2025 maskapai pelat merah tersebut mencatat defisit dengan akumulasi kerugian mencapai US$3,83 miliar atau sekitar Rp64,3 triliun (kurs Rp16.780).

Pendanaan dari Danantara diakuisisi pada 5 Desember 2025 dalam bentuk suntikan modal senilai Rp23,67 triliun atau setara US$1,42 miliar.

Dana itu terdiri atas konversi pinjaman pemegang saham senilai Rp6,65 triliun serta penyertaan modal tunai sebesar Rp17 triliun.

Meski mendapat tambahan modal jumbo, posisi defisit GIAA justru masih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$3,50 miliar atau sekitar Rp58,7 triliun.

Sepanjang tahun 2025, perseroan juga membukukan laba bersih sebesar US$319,39 juta atau sekitar Rp5,36 triliun, meningkat dari laba tahun sebelumnya sebesar US$69,78 juta.

Tekanan kinerja tersebut sejalan dengan penurunan pendapatan, di mana segmen penerbangan berjadwal turun 8,30% per tahun menjadi US$2,51 miliar.

Direktur Utama GIAA Glenny Kairupan menerangkan tekanan kinerja itu disebabkan karena terbatasnya kapasitas produksi pada semester I-2025.

“Di mana jumlah pesawat unserviceable masih menunggu jadwal pemeliharaan ,” kata Glenny siaran lewat pers, Kamis (19/3/2026).

Selain itu, Glenny menambahkan bahwa posisi rugi bersih sepanjang tahun lalu turut dipengaruhi oleh fluktuasi kurs dan peningkatan biaya fixed cost seiring program pemulihan serviceability armada.

“Garuda Indonesia Group terus memaksimalkan jumlah serviceable pesawat di akhir tahun 2025 menjadi sedikitnya 99 armada dari sebelumnya sekitar 84 armada per Juni 2025,” kata dia.

Adapun total unserviceable armada pada akhir tahun 2025 sebanyak 43 pesawat yang saat ini tengah dalam tahapan penyelesaian perawatan armada.

Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta sepanjang tahun 2025, terkoreksi 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Tekanan kinerja Garuda Indonesia pada tahun buku 2025 juga turut dipengaruhi oleh penurunan hasil penumpang , pelemahan nilai tukar rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses perawatan.

Sedangkan pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal hanya naik tipis 2,13% menjadi US$340,88 juta, belum cukup mengimbangi pelemahan di segmen utama.

Di sisi lain, beban usaha GIAA tercatat relatif stagnan dengan beban operasional penerbangan sebesar US$1,54 miliar, beban pemeliharaan dan perbaikan US$661,36 juta, beban kebandaraan US$249,14 juta dan beban pelayanan penumpang sebesar US$216,36 juta.

Dari sisi neraca, total aset GIAA tercatat sebesar US$7,43 miliar atau sekitar Rp125 triliun pada tahun 2025. Di sisi lain, total liabilitas mencapai US$7,33 miliar, sementara ekuitas perseroan hanya sebesar US$91,91 juta atau sekitar Rp3,24 triliun.

Dukungan Penguatan Modal

Melalui dukungan pendanaan dari Danantara, GIAA mencatatkan perbaikan pada ekuitas yang berbalik positif US$91,9 juta per posisi 31 Desember 2025, dari posisi negatif tahun sebelumnya sebesar US$1,35 miliar.

Sekitar Rp15 triliun atau 64% injeksi dana dari Danantara dialokasikan untuk penyelesaikan kewajiban Citilink, sedangkan GIAA memperoleh alokasi Rp8,7 triliun untuk kebutuhan perawatan armada.

Di sisi lain, GIAA mencatat kas dan setara kas sebesar US$943,4 juta pada akhir 2025, meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$219,1 juta.

“Peningkatan ini juga mencerminkan perbaikan likuiditas perusahaan yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas operasional,” kata Glenny.

Garuda Indonesia menargetkan akan mengoperasikan sebanyak 68 pesawat yang dapat diservis pada akhir tahun ini, sedangkan Citilink menargetkan pesawat yang dapat diservis sebanyak 50 pesawat.

“Langkah optimalisasi serviceable pesawat yang ada pada tahun 2026 akan diperkuat melalui proyeksi percepatan beberapa inisiatif strategi proses perawatan armada,” kata dia.

Inisiatif ini mencakup pemeriksaan badan pesawat perawatan berat pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, serta Airbus A330.

Selain itu, perseroan juga melakukan overhaul dan shop visit untuk komponen utama seperti engine, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear guna memastikan performa armada tetap optimal. (Calvin G. Eben-Haezer)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles