Minggu, 26 April 2026

75 Tahun Menyerahnya Jerman di Eropa dan Kini

Peringatan di United Kingdom, 75 tahun kekalahan fascism Jerman, 8 Mei 1945 pada Perang Dunia II. (Ist)

75 tahun lalu, seluruh bangsa pernah bekerjasama menghancurkan dan mengalahkan fascism yang melanda dunia. Hari ini, dunia kembali ditantang untuk bersatu bekerjasama kembali untuk mengalahkan pandemic Corona. Maria Pakpahan dari Edinburgh menyoroti perayaan 75 tahun kemenangan dunia atas Fascisme Jerman dan dimuat di Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh:  Maria Pakpahan

HARI ini terasa biasa karena realitas lockdown yang harus dijalani, walaupun ada yang patut dikenang da diperingati. Selain dentuman meriam dari Edinburgh castle dan pesawat-pesawat melintas menandai VE (Victory in Europe), 8 May 1945, 75 tahun lalu Jerman menyerah tanpa syarat. Berakhirnya Perang Dunia II (PD II) di kawasan Eropa.

Pihak sekutu Amerika-Inggris memilih tanggal 8 May 1945 sebagai hari bersejarah ini karena memang direncanakan ratifikasi,– penanda tanganan. Tanda tentara Jerman menyerah diagendakan pukul 11.01 malam tanggal 8 May setelah sehari sebelumnya tanggal 7 May pasukan Jerman mulai angkat tangan di wilayah Rheim Perancis.

Hanya saja belajar dari bagaimana Jerman pernah ‘bersiasat’ mengaku kalah, genjatan senjata saat Perang Dunia I yang dilakukan oleh politisi Jerman dan Jenderal yang kurang beken yang kemudian dicoba dianulir oleh pimpinan perang Jerman saat itu.

Peringatan di United Kingdom, 75 tahun kekalahan fascism Jerman, 8 Mei 1945 pada Perang Dunia II. (Ist)

Russia memastikan kali ini dalam PD II, kalahnya Jerman tanpa bersyarat ini dilakukan dengan cara yang tepat dan jelas. Bagi Russia menyerahnya Jerman tanpa didukung keberadaan figur otoritatif seperti pimpinan perang tertinggi Jerman tanggal 7 May 1945, tidak cukup. Kemudian diatur urusan ini tanggal 8 May 1945.

Hanya saja realitas di lapangan berbeda. Rencana tanggal 8 May pukul 11 malam bergeser sekitar 75  menit kemudian karena persoalan teknis seperti dijelaskan disini,

But, in reality, the German delegation led by Field Marshal Keitel hadn’t even entered the hall in Karlshorst at 23.01 p.m. on May 8. “The ratification was actually postponed by 75 minutes,” said Jahn — which means it took place on May 9. “There were technical reasons for the delay,” Jahn added.   

Jadi bisa dipahami jika kemudian Russia  (Federasi Rusia) memperingati Victory Day pada tanggal 9 May berbeda dengan Inggris dan sekutu lainnya. Memang perlu dicatat,– interpretasi berbeda apakah tanggal 8 atau tanggal 9 May ini kemudian semakin menyolok saat kelompok sekutu Barat melihatnya sebagai politisasi pihak Stalin.

Saya yang hanya melihat dari kekinian, 75 tahun kemudian, mencoba membuka beberapa arsip, dokumentasi, menyimak pidato Perdana Menteri Inggris Winston Churchill saat itu, Raja Inggris George VI dan pidato Ratu Elizabeth II hari ini hingga melihat, dan ‘memonitor’ suasana di berbagai kota di Britannia dan Russia lewat TV, Internet dan media sosial serta beberapa testimony pelaku sejarah dan keluarganya.

Peringatan Victory Day di Fedarasi Russia 9 Mey 2019 lalu. Peringatan 75 tahun pada 2020 tidak dirayakan dengan parade lagi karena, Presiden Russia Vladimir Putin membatalkan perayaan demi keselamatan rakyat dari Corona. (Ist)

Virus Corona membuat berbagai peringatan massal hari bersejarah ini dibatalkan. Baik di  Inggris maupun di Russia. Di Inggris, tidak ada parade, walaupun awalnya sebelum covid-19 melanda, rencananya Ratu Elizabeth II akan ke Gereja Westminster dan akan ada parade veteran, tentara di London.

Juga Angkatan Udara UK lewat tim legendaris “Red Arrow” akan melintas memberi, menandai penghormatan dengan menebar warna-warna yang ada di bendera Britannia. Dan memang hanya Red Arrow melintas ini yang terjadi hari ini, tanpa parade veteran dan militer. Plus, Pangeran Charles meletakkan karangan bunga di monumen korban PD II di Balmoral, Scotlandia tempat dirinya tinggal saat musim covid-19 ini. Buckingham Palace, tiada kegiatan.

Russiapun membatalkan parade Victory Day 9 May 2020 ini, untuk peringatan 75 tahun,– karena wabah corona. Bukan keputusan mudah karena Russia sesungguhnya negara yang mengorbankan anak bangsanya terbanyak menjadi korban di Perang Dunia II. Korban manusia Uni Soviet baik sipil dan militer akibat PD II diperkirakan menelan 24 juta orang!

Adapun pihak Jerman diperkirakan 8,8 juta korban manusia, UK 450.700 korban jiwa, America 418.500 jiwa, Polandia 5,6 juta korban jiwa, China 20 juta korban dan banyak lagi negara lainnya seperti Yunani, Philippines dan rakyat di kawasan Nusantara yang kemudian dikenal sebagai Indonesia tentunya. Perang Dunia ke II 1939-1945 memang brutal, menelan korban sekitar 70 juta manusia, 3% penduduk dunia saat itu.   

Bagi Russia ‘National Memory of War’ tak terperikan karena memakan korban yang begitu banyak. Bagi Inggris kenangan ‘The Finest Hours’ dan berada di pihak yang menang bisa membutakan akan peran negara-negara lain memenangkan PD II ini.

Sukacita masyarakat London menyambut kemenangan atas kekalahan fascism Jerman, 8 Mei 1945 pada Perang Dunia II. (Ist)

Adapun di kawasan Pacific, perang baru usai beberapa bulan kemudian-Agustus 1945 saat Jepang menyerah. Membuka pintu untuk kesempatan deklarasi Proklamasi Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Pendek kata, Indonesia tidak ada tiba-tiba, ujuk-ujuk. Lahir lewat proses dan akhirnya 1945 di tengah abad 20. Tiap abad membawa jamannya, tantangannya sendiri.

Kini kita di awal abad 21, dekade ke 2, Indonesia bersama bangsa-bangsa lain di dunia ini menghadapi pandemi Corona dan sesungguhnya justru diperlukan kerjasama antara bangsa mengalahkan covid-19! Bukan malah saling menyalahkan dan mencari kambing hitam. Justru 75 tahun lalu lewat aliansi antar bangsa, facisme Italia, Jerman dan Jepang bisa dikalahkan lewat kerjasama lintas bangsa,–saling share informasi, berbagi best lesson learnt, best practices dan semoga vaksinpun segera ada, covid-19 bisa diatasi!

Abad 21 ini mempunyai langgamnya sendiri dimana digitalisasi dan data menjadi salah satu penanda utama. Molecular biology berkembang pesat dimana bisa membawa banyak persoalan ethics memasuki “unchartered territory” dan membuka berbagai peluang yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kolaborasi antar bangsa lewat kasus covid-19 yang melanda dunia menjadi test case apakah kita sebagai manusia bisa lebih handal dan cerdik mengisi abad 21 ini. Memang tidak harus kita dibelenggu masa lalu hingga tidak fokus ke masa depan, dipenjara oleh kesalahan masa lalu misalnya. Justru masa lalu diingat untuk pembelajaran, seperti hari ini 75 tahun lalu janganlah dilupakan!

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles