TANGERANG – Hamparan jalan beton tampak membelah area persawahan yang membentang luas di jalan poros desa perbatasan Kecamatan Sindang Jaya dan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten.
Permukaan jalan terlihat mulus dengan marka garis yang membentang lurus. Di sisi kiri jalan, saluran irigasi mengalir sejajar, sementara di sisi kanan terbentang petak-petak sawah yang sebagian memasuki masa panen.
Kepada Bergelora.com di Tangerang, Jumat (26/6) dilaporkan, suasana pedesaan masih terasa kental. Beberapa rumah warga berdiri di kejauhan, dikelilingi pepohonan dan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Jalan beton itu kini tampak membentang di tengah kawasan agraris dan menjadi penghubung penting antara Desa Sindang Asih dan Desa Badak Anom di Kecamatan Sindang Jaya dengan Desa Daon di Kecamatan Rajeg.
Jalan dengan panjang sekitar 1,5 kilometer tersebut merupakan hasil pembangunan melalui Program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra) Pemerintah Provinsi Banten.
Keberadaannya kini menjadi urat nadi baru bagi mobilitas warga yang selama bertahun-tahun harus menghadapi kondisi jalan rusak dan sulit dilalui.
“Alhamdulillah jalan kemarin ada program Bang Andra, Bangun Jalan Sejahtera. Alhamdulillah di 2025 jalan ini sudah dibangun dan direalisasikan, dan ini bukti daripada program Bang Andra,” ujarnya.
Menurut Sanwani kondisi jalan yang sangat memprihatinkan sudah terjadi sejakpuluhan tahun lalu.
Tidak hanya menyulitkan aktivitas masyarakat, tetapi juga menghambat akses kendaraan yang melintas di kawasan tersebut.
“Waduh, sangat parah. Tidak bisa dilalui oleh akses kendaraan roda empat, termasuk kendaraan motor juga. Tapi sekarang sudah bisa, kendaraan apa pun sudah bisa,” katanya.
Sanwani menyebut mayoritas masyarakat di sekitar kawasan tersebut bekerja sebagai petani dan buruh.
Karena itu keberadaan jalan yang layak menjadi kebutuhan penting untuk menunjang aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Yang jelas ini sangat bermanfaat buat warga. Warga di sekitar ini, di luar sekitar ini juga sekarang akses mereka itu pada ambil jalan yang ini,” ujarnya.
Meski kondisi jalan masih terbilang baru, Pemerintah Desa Badak Anom berupaya menjaga agar infrastruktur tersebut tetap awet dan tidak cepat rusak. Salah satunya dengan membatasi kendaraan bertonase besar yang melintas.
“Kami berusaha sebisa mungkin untuk merawat dan menjaga jalan ini supaya awet. Jangan sampai baru kurang lebih enam bulan jalan akhirnya sudah hancur,” ungkap Sanwani.
“Kemarin sempat ada kendaraan besar lewat sini saya jaga, karena memang kita butuh untuk masyarakat, bukan untuk para pengusaha liar yang ada di luar wilayah sini,” tambahnya.
Sanwani juga berharap pembangunan infrastruktur pendukung dapat terus dilanjutkan, terutama penerangan jalan umum (PJU) dan normalisasi saluran air yang menunjang aktivitas pertanian warga.
“Kita butuh penerangan PJU. Kemarin sudah diterima kurang lebih 40 titik karena bertahap. Mudah-mudahan bisa ditambah lagi. Termasuk normalisasi saluran air karena penting untuk petani di sekitar sini,” ujarnya.
Manfaat pembangunan jalan tersebut juga dirasakan langsung warga Desa Badak Anom, salah satunya Eka Dede (38).
Dia mengaku kini aktivitas masyarakat menjadi jauh lebih mudah, terutama saat menuju Pasar Daon yang menjadi pusat perdagangan terdekat bagi warga.
“Jalan lebih enak, motor mobil pada lewat. Ke Pasar Daon juga dekat. Sekarang mah rame, siang malam juga,” katanya.
Eka mengenang kondisi jalan sebelum dibangun. Menurutnya, jalan tersebut dahulu hanya berupa jalur tanah berlumpur yang hampir tidak bisa dilalui kendaraan.
“Oh hancur banget. Enggak bisa pakai motor, mobil. Bisanya yang lewat paling kerbau, kambing, sapi sama bebek,” ujarnya.
Saat musim hujan, kondisi jalan semakin parah karena dipenuhi lumpur dan genangan air. Akibatnya, warga yang hendak menuju Pasar Daon harus mengambil jalur alternatif yang lebih jauh.
“Kalau waktu rusak muter jalannya ke Kampung Gembong, ke Kalampean,” ungkap Eka.
Kini setelah jalan dibangun, waktu tempuh menuju Pasar Daon dapat dipangkas hampir separuhnya.
“Yang dulunya 30 menit, sekarang mah 15 menit pakai motor. Udah enak lah sekarang,” kata Eka.
Tak hanya Eka, seorang petani di Desa Badak Anom, Mustofa (52) juga turut merasakan manfaat dari pembangunan tersebut.
Dia menilai pembangunan jalan sangat memudahkannya membawa hasil panen, seperti palawija hingga padi.
Sebelum dibangun, Mustofa mengaku kerap memanggul hasil panen dengan jarak ratusan meter karena jalan tersebut tak bisa diakses kendaraan.
“Dulu kalau panen biasanya 7 kuintal, itu dipanggul karena motor enggak bisa masuk, sekarang alhamdulillah hasil panen bisa diangkut pakai motor,” paparnya. (Argo Bani Putra)

