JAKARTA- – Laporan beberapa media Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa AS dan Israel sedang mempersiapkan kampanye pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran. Serangan besar ini dapat dimulai paling cepat akhir pekan ini.
Operasi yang diusulkan akan menargetkan pembangkit listrik, kilang minyak, dan fasilitas terkait energi lainnya dalam apa yang digambarkan CBS News sebagai salah satu kampanye pengeboman terkeras terhadap Iran hingga saat ini.
Pasukan Amerika dan Israel dilaporkan sedang mengoordinasikan persiapan mereka, meskipun cakupan dan durasi operasi yang tepat belum diselesaikan. CBS News dan Axios melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump serius mempertimbangkan serangan tersebut tetapi belum mengeluarkan otorisasi akhir. Sedangkan The Wall Street Journal, mengutip pejabat AS yang berbeda, mengeklaim bahwa Trump telah memerintahkan serangan baru yang dapat dimulai pada akhir pekan dan berlangsung selama beberapa hari.
Para pejabat AS dilaporkan telah membahas penyelesaian serangan sebelum pasar keuangan dibuka pada hari Senin (3/8/2026) karena kekhawatiran bahwa serangan terhadap fasilitas energi Iran dapat mengganggu harga minyak dan merusak ekonomi AS dan global.
Kepda Bergelora.com di Jakarta, Minggu (2/8) dilaporkan, rencana serangan tersebut dilaporkan telah dibahas selama pertemuan kabinet Trump di Camp David pada hari Jumat. Beberapa ajudan Gedung Putih yang fokus pada politik domestik sangat menentang eskalasi tersebut, menurut laporan CBS News, meskipun presiden secara terbuka mengindikasikan bahwa serangan yang lebih berat akan segera terjadi.
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump kepada wartawan.
“Pada suatu titik, mereka akan berkata, ‘Kami tidak tahan lagi’,” paparnya.
Para pejabat militer Amerika dilaporkan membahas pemutusan aliran listrik di seluruh Teheran, sementara pembangkit listrik dan kilang minyak diidentifikasi sebagai target yang mungkin.
Namun, Pentagon menolak untuk membahas target potensial sebelum Trump membuat keputusan akhir.
“Departemen Perang siap siaga, siap untuk melaksanakan arahan presiden kapan saja,” kata juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell.
Sumber-sumber AS mengatakan Israel telah diberitahu dan berkoordinasi dengan Washington, tetapi seorang pejabat Israel membantah bahwa negara tersebut telah diminta untuk berpartisipasi atau diberitahu tentang keputusan apa pun untuk melanjutkan operasi skala penuh.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menyampaikan tiga opsi militer kepada Trump selama pertemuan mereka awal pekan ini, termasuk serangan terhadap jalur darat Iran yang digunakan untuk memasok kembali pasukan militer. Netanyahu juga bertemu dengan Menteri Perang AS Pete Hegseth.
Begini Respons Iran
Sementara itu, Mohammad Mokhber, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojataba Khamenei, telah mengeluarkan peringatan keras terhadap penargetan infrastruktur energi Iran, dengan mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut akan meruntuhkan struktur hegemoni AS.
Dalam komentar yang diterbitkan Mehr News Agency pada hari Sabtu (1/8/2026), Mokhber menanggapi ancaman Trump yang akan menargetkan infrastruktur dan sektor energi Iran, dengan mengatakan: “Anda menghitung dengan persamaan militer, tetapi kami menanggapi dengan logika sejarah.”
Dia memperingatkan bahwa setiap penargetan aset vital Iran akan membawa konsekuensi yang jauh melampaui medan pertempuran langsung, menggoyahkan tatanan global yang dibangun oleh kekuatan Barat selama berabad-abad.
“Setiap agresi terhadap infrastruktur Iran secara langsung membangkitkan garis patahan yang menjadi dasar arsitektur hegemoni Anda selama 250 tahun,” kata Mokhber.
“Ketika pilar-pilar sistem ini runtuh, tidak akan ada pusat komando yang tersisa untuk memimpin, dan tidak akan ada pasar yang tersisa untuk dijarah,” imbuh dia.
Iran Kirim Ultimatum ke AS, Arab Saudi & UEA
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak melakukan tindakan militer baru terhadap wilayahnya. Teheran menegaskan akan memberikan respons tegas jika Washington merealisasikan ancaman Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap target-target Iran.
Peringatan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam serangkaian pembicaraan telepon dengan pejabat senior dari Turki, Pakistan, dan Arab Saudi pada Sabtu (1/8/2026). Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah militer Kuwait mengumumkan berhasil menghancurkan drone-drone yang disebut diluncurkan Iran dan mengarah ke sejumlah fasilitas vital di negara tersebut.
Menurut laporan yang dikutip dari berbagai pernyataan resmi Iran, Araqchi menegaskan bahwa negaranya siap merespons setiap tindakan militer yang dilakukan terhadap Republik Islam tersebut,
Dalam percakapan dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Araqchi menegaskan Iran akan memberikan respons tegas terhadap setiap serangan.
Menurut akun Telegram resmi Araqchi, pembicaraan tersebut membahas konsekuensi dari tindakan yang dianggap dapat mengganggu stabilitas kawasan.
Araqchi menyatakan Iran akan merespons secara tegas setiap agresi dan tindakan-tindakan yang mengganggu stabilitas. Araqchi kemudian berbicara dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.
Dalam percakapan tersebut, Iran memperingatkan bahwa serangan apapun yang dilakukan oleh AS dan Israel, atau keterlibatan negara-negara kawasan dalam aksi tersebut, akan dibalas secara setimpal.
Araqchi menegaskan tindakan seperti itu akan mendapatkan “respons yang sepadan”.
Ketegangan meningkat lebih jauh setelah Nournews, media yang berafiliasi dengan badan keamanan tertinggi Iran, menerbitkan ancaman keras terhadap negara-negara penghasil energi di kawasan.
Media tersebut menyatakan bahwa apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran, maka Teheran akan membalas dengan menyerang ladang minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), serta ladang gas di Qatar dan Israel.
Nournews menulis “semuanya akan dibakar hingga menjadi abu”.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan masih percaya bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Dalam rapat kabinet di Camp David pada Jumat, Trump mengatakan para negosiator AS masih memiliki peluang untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.
Ia menyebut beberapa tokoh yang terlibat dalam upaya diplomasi, termasuk menantunya Jared Kushner, utusan khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Namun Trump mengakui kepercayaannya terhadap Iran mulai berkurang.
Menurut Trump “Iran terlalu sering mengingkari janji.” Adapun, tuduhan tersebut merupakan klaim yang selama ini juga kerap dilontarkan Iran terhadap Amerika Serikat.(Web Warouw)

