JAKARTA – Badan Keamanan Nasional AS (NSA) sedang memulai restrukturisasi internal terbesar dalam setidaknya satu dekade terakhir untuk berfokus pada AI, China, dan tantangan mendesak lainnya. Demikian dilaporkan Washington Post dengan mengutip pejabat saat ini dan mantan pejabat.
Direktur NSA, Jenderal Joshua M. Rudd, menginginkan pembentukan lima organisasi tambahan di dalam badan tersebut paling lambat pertengahan Oktober, dengan target mencapai kapasitas operasional penuh pada awal 2027, lapor surat kabar itu pada hari Senin.
Selain kecerdasan buatan (AI) dan upaya menangkal Beijing, unit-unit ini akan menangani keamanan siber, dukungan tempur atau operasi perang, serta intelijen global.
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu (16/9) NSA diyakini sebagai badan intelijen terbesar AS, yang dilaporkan mempekerjakan sekitar 30.000 orang—baik militer maupun sipil—dan memiliki spesialisasi dalam spionase digital di luar negeri maupun di dalam negeri.
Badan ini sempat menuai kontroversi besar pada tahun 2013 setelah whistleblower Edward Snowden membocorkan sejumlah besar dokumen ke media yang merinci praktik pengawasan ilegal badan tersebut terhadap warga negara Amerika.
Sejak menjabat sebagai kepala NSA pada bulan Maret, Rudd aktif mengintegrasikan AI ke dalam operasi badan tersebut.
Laporan awal tahun ini menyebutkan bahwa NSA telah menggunakan model Mythos yang canggih buatan Anthropic, meskipun ada larangan federal dan Pentagon telah menetapkan perusahaan tersebut sebagai “risiko rantai pasokan.”
Rudd, yang juga memimpin Komando Siber AS di bawah Pentagon, meyakini bahwa perombakan “agresif” ini diperlukan agar NSA dapat lebih menyesuaikan diri dengan prioritas saat ini dan masa depan, kata para pejabat.
Namun, pengumuman direktur bahwa kepala lima departemen baru tersebut bisa saja dipilih dari luar badan itu telah “membuat cemas kalangan internal NSA,” catat mereka.
Menurut sumber-sumber tersebut, belum jelas apakah sudah ada penunjukan yang dilakukan sejauh ini.
The Washington Post mencatat bahwa restrukturisasi besar sebelumnya di badan intelijen tersebut—yang dikenal sebagai “NSA 21” dan dimulai pada tahun 2016 di bawah kepemimpinan Direktur saat itu, Mike Rogers—belum juga rampung, padahal awalnya direncanakan selesai dalam waktu dua tahun. Salah satu sumber menyebutkan bahwa tidak ada pula rencana yang matang untuk reorganisasi saat ini.
Rudd “mengakui bahwa mereka belum tahu bagaimana akan melaksanakannya, sehingga mereka akan terburu-buru mengambil keputusan yang sifatnya dapat dibatalkan kembali, untuk berjaga-jaga jika ternyata langkah itu keliru,” tegas pejabat tersebut.
Perombakan ini dilakukan di tengah sikap Washington yang semakin memandang persaingan dengan Tiongkok di bidang kecerdasan buatan (AI) sebagai masalah keamanan nasional.
Pekan lalu, NSA, FBI, dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) menuduh enam perusahaan AI asal Tiongkok—termasuk DeepSeek dan Alibaba—melakukan upaya berskala industri untuk menyerap kemampuan dari model-model AI terkemuka buatan AS.
Berbagai badan AS tersebut mengakui bahwa teknik yang disebut ‘distilasi’ itu memang umum digunakan dalam pengembangan AI, namun mereka menuding perusahaan-perusahaan Tiongkok memanfaatkannya untuk memangkas kesenjangan teknologi dengan pesaing mereka di AS, sekaligus menghindari biaya riset dan komputasi yang mencapai miliaran dolar.
Beijing menepis tuduhan tersebut sebagai hal yang tidak berdasar dan menuding Washington berupaya menciptakan “monopoli industri AI,” seraya memperingatkan akan adanya “tindakan balasan yang tegas” jika perusahaan-perusahaan Tiongkok menjadi sasaran. (Web Warouw)

