Sejak tahun 2018, BlackRock telah berada di garis depan dalam menciptakan infrastruktur investasi baru yang memilih “pemenang” atau “pecundang” untuk investasi berdasarkan seberapa serius perusahaan tersebut terhadap ESG, —Environment, Social values and Governance (Lingkungan, nilai-nilai sosial, dan tata kelola)

Oleh: F. William Engdahl *
SEBUAH perusahaan investasi yang praktis tidak diatur saat ini memiliki pengaruh politik dan keuangan yang lebih besar daripada Federal Reserve dan sebagian besar pemerintah di planet ini.
Perusahaan BlackRock Inc., manajer aset terbesar di dunia, menginvestasikan dana klien sebesar $9 triliun di seluruh dunia, jumlah yang lebih dari dua kali lipat PDB tahunan Republik Federal Jerman.
Perusahaan raksasa ini berada di puncak piramida kepemilikan korporasi dunia, termasuk di Tiongkok baru-baru ini. Sejak 1988, perusahaan ini telah menempatkan dirinya pada posisi untuk secara de facto mengendalikan Federal Reserve, sebagian besar bank-bank besar Wall Street, termasuk Goldman Sachs, Davos World Economic Forum yang dikenal sebagai “Great Reset”, pemerintahan Biden, dan, jika dibiarkan tanpa pengawasan, masa depan ekonomi dunia kita.
BlackRock adalah perwujudan dari apa yang disebut Mussolini sebagai Korporatisme, di mana elit korporasi yang tidak dipilih secara demokratis mendiktekan kekuasaan dari atas ke bawah kepada setiap penduduk dunia.
Bagaimana “shadow bank”,-– bank bayangan terbesar di dunia ini menggunakan kekuasaan yang sangat besar atas dunia seharusnya menjadi perhatian kita. Sejak didirikan oleh Larry Fink pada tahun 1988, BlackRock telah berhasil mengumpulkan perangkat lunak dan aset keuangan unik yang tidak dimiliki oleh entitas lain. Sistem manajemen risiko Aladdin milik BlackRock, sebuah perangkat lunak yang dapat melacak dan menganalisis perdagangan, memantau lebih dari $18 triliun aset untuk 200 perusahaan keuangan termasuk Federal Reserve dan bank-bank sentral di Erepa. Kita dapat membayangkan, siapa yang “memantau” juga tahu.
BlackRock telah disebut sebagai “pisau Swiss serbaguna” di bidang keuangan — investor institusional, manajer uang, perusahaan ekuitas swasta, dan mitra pemerintah global yang tergabung dalam satu perusahaan . Namun, media arus utama memperlakukan perusahaan ini hanya sebagai perusahaan keuangan Wall Street biasa.
Terdapat interface yang mulus yang menghubungkan Agenda PBB 2030 dengan Great Reset Forum Ekonomi Dunia Davos dan kebijakan ekonomi yang baru muncul dari Pemerintahan Biden. Antarmuka itu adalah BlackRock.
Tim Biden dan BlackRock
Seharusnya sekarang sudah jelas bagi siapa pun yang mau memperhatikan, bahwa orang yang mengaku sebagai Presiden AS, Joe Biden yang berusia 78 tahun, tidak membuat keputusan apa pun. Ia bahkan kesulitan membaca teleprompter atau menjawab pertanyaan yang telah disiapkan dari media yang bersahabat tanpa mencampuradukkan Suriah dan Libya atau bahkan apakah ia benar-benar Presiden. Ia dikendalikan secara mikro oleh sekelompok penasihat untuk mempertahankan “citra” Presiden yang telah direncanakan, sementara kebijakan dibuat di balik layar oleh orang lain. Hal ini mengingatkan kita pada karakter Chauncey Gardiner dalam film Peter Sellers tahun 1979, Being There .
Yang kurang diketahui publik adalah tokoh-tokoh kunci yang menjalankan kebijakan ekonomi untuk Biden Inc. Mereka hanya disebut-sebut sebagai, BlackRock.
Sama seperti Goldman Sachs yang menjalankan kebijakan ekonomi di bawah Obama dan juga Trump, saat ini BlackRock mengisi peran kunci tersebut. Kesepakatan itu tampaknya disegel pada Januari 2019 ketika Joe Biden, yang saat itu masih menjadi kandidat dan memiliki peluang kecil untuk mengalahkan Trump, bertemu dengan Larry Fink di New York, yang dilaporkan mengatakan kepada “Joe dari kelas pekerja,” bahwa, “Saya di sini untuk membantu“
Sebagai Presiden, dalam salah satu penunjukan pertamanya, Biden menunjuk Brian Deese sebagai Direktur Dewan Ekonomi Nasional, penasihat utama Presiden untuk kebijakan ekonomi. Salah satu Perintah Eksekutif Presiden awal berkaitan dengan ekonomi dan kebijakan iklim. Hal itu tidak mengejutkan, karena Deese berasal dari BlackRock milik Fink, tempat ia menjabat sebagai Global Head of Sustainable Investing
Sebelum bergabung dengan BlackRock, Deese memegang jabatan ekonomi senior di bawah pemerintahan Obama, termasuk menggantikan John Podesta sebagai Penasihat Senior Presiden di mana ia bekerja bersama Valerie Jarrett. Di bawah pemerintahan Obama, Deese memainkan peran kunci dalam negosiasi the Global Warming Paris Accords.,– Perjanjian Paris tentang Pemanasan Global.
Dalam posisi kebijakan kunci sebagai Wakil Menteri Keuangan di bawah Menteri Janet Yellen, kita menemukan Adewale “Wally” Adeyemo yang lahir di Nigeria. Adeyemo juga berasal dari BlackRock, tempat ia bekerja dari tahun 2017 hingga 2019 sebagai penasihat senior dan Kepala Staf untuk CEO BlackRock, Larry Fink, setelah meninggalkan pemerintahan Obama. Hubungan pribadinya dengan Obama sangat kuat, karena Obama menunjuknya sebagai Presiden pertama Obama Foundation pada tahun 2019.
Dan orang senior ketiga dari BlackRock yang menjalankan kebijakan ekonomi di pemerintahan saat ini juga tidak biasa dalam beberapa hal. Michael Pyle adalah Penasihat Ekonomi Senior untuk Wakil Presiden Kamala Harris. Ia datang ke Washington dari posisi sebagai the Global Chief Investment Strategist di BlackRock di mana ia mengawasi strategi untuk menginvestasikan sekitar $9 triliun dana.
Sebelum bergabung dengan BlackRock di tingkat tertinggi, ia juga pernah berada di pemerintahan Obama sebagai penasihat senior untuk Wakil Menteri Keuangan untuk Urusan Internasional, dan pada tahun 2015 menjadi penasihat untuk pencalonan presiden Hillary Clinton.
Fakta bahwa tiga dari pejabat ekonomi paling berpengaruh di pemerintahan Biden berasal dari BlackRock, dan sebelumnya semuanya dari pemerintahan Obama, patut diperhatikan. Ada pola yang jelas dan menunjukkan bahwa peran BlackRock di Washington jauh lebih besar daripada yang selama ini kita ketahui.
Apa itu BlackRock?
Belum pernah sebelumnya sebuah perusahaan keuangan dengan pengaruh sebesar itu terhadap pasar dunia begitu tersembunyi dari pengawasan publik. Itu bukan kebetulan. Karena secara teknis bukan bank yang memberikan pinjaman bank atau menerima simpanan, perusahaan ini menghindari pengawasan regulasi dari Federal Reserve meskipun melakukan apa yang dilakukan sebagian besar bank besar seperti HSBC atau JP MorganChase—membeli dan menjual sekuritas untuk mendapatkan keuntungan.
Ketika ada dorongan dari Kongres untuk memasukkan manajer aset seperti BlackRock dan Vanguard Funds di bawah undang-undang Dodd-Frank pasca-2008 sebagai “systemically important financial institutions” (SIFI),– lembaga keuangan yang penting secara sistemik,– upaya lobi besar-besaran dari BlackRock mengakhiri ancaman tersebut.
BlackRock pada dasarnya adalah hukum bagi dirinya sendiri. Dan memang, perusahaan ini “penting secara sistemik” tidak seperti yang lain, dengan kemungkinan pengecualian Vanguard, yang juga dikatakan sebagai pemegang saham utama di BlackRock.
Pendiri dan CEO BlackRock, Larry Fink, jelas tertarik untuk membeli pengaruh secara global. Ia menunjuk mantan anggota parlemen CDU Jerman, Friederich Merz, sebagai kepala BlackRock Jerman ketika tampaknya ia akan menggantikan Kanselir Merkel, dan mantan Menteri Keuangan Inggris, George Osborne, sebagai “konsultan politik.” Fink menunjuk mantan Kepala Staf Hillary Clinton, Cheryl Mills, ke dewan direksi BlackRock ketika tampaknya pasti Hillary akan segera berada di Gedung Putih.
Ia telah menunjuk mantan bankir sentral ke dewan direksinya dan kemudian berhasil mengamankan kontrak-kontrak menguntungkan dengan lembaga tempat mereka bekerja sebelumnya. Stanley Fisher, mantan kepala Bank Israel dan kemudian juga Wakil Ketua Federal Reserve, kini menjabat sebagai Penasihat Senior di BlackRock. Philipp Hildebrand, mantan presiden Bank Nasional Swiss, adalah wakil ketua di BlackRock, di mana ia mengawasi BlackRock Investment Institute. Jean Boivin, mantan wakil gubernur Bank Kanada, adalah kepala riset global di institut investasi BlackRock.
BlackRock dan The Fed
Tim mantan pegawai bank sentral di BlackRock inilah yang mengembangkan rencana penyelamatan “darurat” untuk ketua The Fed Powell pada Maret 2019 ketika pasar keuangan tampak berada di ambang kehancuran seperti krisis Lehman Brothers tahun 2008.
Sebagai ucapan “terima kasih,” ketua The Fed Jerome Powell menunjuk BlackRock tanpa melalui proses tender untuk mengelola semua program pembelian obligasi korporasi The Fed, termasuk obligasi tempat BlackRock sendiri berinvestasi.
Konflik kepentingan? Sekitar 30 LSM menulis surat kepada Ketua The Fed Powell, “Dengan memberikan kendali penuh kepada BlackRock atas program pembelian utang ini, The Fed… menjadikan BlackRock semakin penting secara sistemik bagi sistem keuangan. Namun BlackRock tidak tunduk pada pengawasan regulasi yang bahkan berlaku untuk lembaga keuangan penting sistemik yang lebih kecil .”
Dalam sebuah laporan terperinci pada tahun 2019, sebuah kelompok riset nirlaba di Washington, Campaign for Accountability, mencatat bahwa, “BlackRock, manajer aset terbesar di dunia, menerapkan strategi lobi, sumbangan kampanye, dan perekrutan pegawai dengan sistem ‘pintu putar’ untuk melawan regulasi pemerintah dan memposisikan dirinya sebagai salah satu perusahaan keuangan paling berpengaruh di dunia.”
Pada Maret 2019, Federal Reserve New York (The Fed) mempekerjakan BlackRock untuk mengelola program sekuritas berbasis hipotek komersial dan pembelian obligasi korporasi serta ETF senilai $750 miliar baik primer maupun sekunder dalam kontrak tanpa penawaran.
Jurnalis keuangan AS, Pam dan Russ Martens, dalam mengkritik penyelamatan Wall Street oleh The Fed pada tahun 2019 yang penuh kontroversi tersebut, berkomentar, “untuk pertama kalinya dalam sejarah, The Fed telah mempekerjakan BlackRock untuk ‘bertransaksi langsung’ dan membeli obligasi korporasi serta ETF obligasi (Exchange Traded Funds) senilai $750 miliar baik primer maupun sekunder, sebuah produk yang mana BlackRock merupakan salah satu penyedia terbesar di dunia.”
Mereka melanjutkan, “Yang lebih mengejutkan lagi, program yang dijalankan BlackRock akan mendapatkan $75 miliar dari $454 miliar uang pembayar pajak untuk menutupi kerugian dari pembelian obligasi korporasinya, yang akan mencakup ETF miliknya sendiri, yang diizinkan The Fed untuk dibeli…”
Rupanya, kepala The Fed Jerome Powell dan Larry Fink saling mengenal dengan baik. Bahkan setelah Powell memberikan kesepakatan “langsung” tanpa tender yang sangat menguntungkan kepada BlackRock, Powell tetap mempercayakan BlackRock untuk mengelola sekitar $25 juta investasi sekuritas pribadinya.
Catatan publik menunjukkan bahwa selama periode ini Powell melakukan panggilan telepon rahasia langsung dengan CEO BlackRock, Fink. Menurut pengungkapan keuangan yang diwajibkan, BlackRock berhasil menggandakan nilai investasi Powell dari tahun sebelumnya! Tidak ada konflik kepentingan, bukan?
Sebuah BlackRock Sejati di Meksiko
Sejarah kelam BlackRock di Meksiko menunjukkan bahwa konflik kepentingan dan upaya membangun pengaruh dengan lembaga pemerintah terkemuka tidak hanya terbatas di AS. Kandidat presiden PRI, Peña Nieto, pergi ke Wall Street selama kampanyenya pada November 2011. Di sana ia bertemu Larry Fink. Setelah kemenangan Nieto pada tahun 2012, terjalin hubungan erat antara Fink dan Nieto yang diwarnai konflik kepentingan, kronisme, dan korupsi.
Kemungkinan besar untuk memastikan BlackRock berada di pihak yang menang dalam rezim Nieto yang korup, Fink menunjuk Marcos Antonio Slim Domit yang berusia 52 tahun, putra miliarder dari orang terkaya dan bisa dibilang paling korup di Meksiko, Carlos Slim, ke Dewan Direksi BlackRock. Marcos Antonio, bersama dengan saudaranya Carlos Slim Domit, menjalankan kerajaan bisnis besar ayahnya saat ini.
Carlos Slim Domit, putra sulung, adalah Ketua Bersama Forum Ekonomi Dunia Amerika Latin pada tahun 2015, dan saat ini menjabat sebagai ketua dewan direksi America Movil di mana BlackRock adalah investor utama. Dunia yang kecil dan nyaman.
Sang ayah, Carlos Slim, yang saat itu dinobatkan oleh Forbes sebagai Orang Terkaya di Dunia, membangun kerajaan bisnis berdasarkan akuisisi Telemex (kemudian America Movil) yang dilakukannya dengan mudah. Presiden saat itu, Carlos Salinas de Gortari, secara efektif menghadiahkan kerajaan telekomunikasi tersebut kepada Slim pada tahun 1989. Salinas kemudian melarikan diri dari Meksiko dengan tuduhan mencuri lebih dari 10 miliar dolar AS dari kas negara.
Seperti banyak hal di Meksiko sejak tahun 1980-an, uang hasil perdagangan narkoba tampaknya memainkan peran besar dalam kasus Carlos Slim senior, ayah dari direktur BlackRock, Marcos Slim.
Pada tahun 2015, WikiLeaks merilis email internal perusahaan dari perusahaan intelijen swasta, Stratfor. Stratfor menulis dalam email April 2011, saat BlackRock sedang membangun rencana mereka di Meksiko, bahwa seorang Agen Khusus DEA AS, William F. Dionne, mengkonfirmasi hubungan Carlos Slim dengan kartel narkoba Meksiko.
Stratfor bertanya kepada Dionne, “Billy, apakah miliarder MX (Meksiko) Carlos Slim terkait dengan para pengedar narkoba?”
Dionne menjawab, “Mengenai pertanyaan Anda , miliarder telekomunikasi MX itu memang terkait.”
Di negara di mana 44% penduduknya hidup dalam kemiskinan, Anda tidak akan menjadi orang terkaya di dunia hanya dalam dua dekade dengan menjual kue Girl Scout.
Fink dan PPP Meksiko
Dengan Marcos Slim di dewan direksi BlackRock dan presiden baru Enrique Peña Nieto, mitra Meksiko Larry Fink dalam aliansi Kemitraan Publik-Swasta,– PublicPrivatePartnership (PPP) alliance senilai $590 miliar milik Nieto Peña, BlackRock, siap menuai hasilnya.
Untuk menyempurnakan operasi barunya di Meksiko, Fink menunjuk mantan Wakil Menteri Keuangan Meksiko Gerardo Rodriguez Regordosa untuk memimpin BlackRock Emerging Market Strategy,– Strategi Pasar Berkembang BlackRock pada tahun 2013. Kemudian pada tahun 2016, Peña Nieto menunjuk Isaac Volin, yang saat itu menjabat sebagai kepala BlackRock Meksiko, untuk menjadi orang nomor 2 di PEMEX, di mana ia memimpin di tengah korupsi, skandal, dan kerugian terbesar dalam sejarah PEMEX, sebesar $38 miliar.
Peña Nieto telah membuka monopoli minyak negara yang besar, PEMEX, kepada investor swasta untuk pertama kalinya sejak nasionalisasi pada tahun 1930-an. Yang pertama kali mendapat manfaat adalah BlackRock milik Fink. Dalam waktu tujuh bulan, BlackRock telah mengamankan proyek-proyek energi PEMEX senilai $1 miliar, banyak di antaranya sebagai satu-satunya penawar.
Selama masa jabatan Peña Nieto, salah satu presiden yang paling kontroversial dan paling tidak populer, BlackRock berkembang pesat berkat hubungan yang erat tersebut. Perusahaan ini segera terlibat dalam proyek-proyek infrastruktur yang sangat menguntungkan (dan korup) di bawah pemerintahan Peña Nieto, termasuk tidak hanya pipa dan sumur minyak dan gas, tetapi juga jalan tol, rumah sakit, pipa gas, dan bahkan penjara.
Yang perlu diperhatikan, “teman” BlackRock asal Meksiko, Peña Nieto, juga “berteman” tidak hanya dengan Carlos Slim tetapi juga dengan kepala Kartel Sinaloa yang terkenal kejam, “El Chapo” Guzman.
Dalam kesaksian di pengadilan pada tahun 2019 di New York, Alex Cifuentes, seorang gembong narkoba Kolombia yang menyebut dirinya sebagai “orang kepercayaan” El Chapo, bersaksi bahwa tepat setelah terpilih pada tahun 2012, Peña Nieto meminta $250 juta dari Kartel Sinaloa sebelum akhirnya sepakat menerima $100 juta. Kita hanya bisa menebak untuk apa.
Larry Fink dan Great Reset WEF
Pada tahun 2019, Larry Fink bergabung dengan Dewan Forum Ekonomi Dunia Davos, organisasi yang berbasis di Swiss yang selama sekitar 40 tahun telah memajukan globalisasi ekonomi. Fink, yang dekat dengan kepala teknokrat WEF, Klaus Schwab, yang terkenal dengan Great Reset, kini berada di posisi untuk menggunakan pengaruh besar BlackRock untuk menciptakan apa yang berpotensi, jika tidak runtuh sebelum waktunya, menjadi skema Ponzi terbesar di dunia, yaitu investasi korporasi ESG. Fink, dengan dana sebesar $9 triliun untuk dimanfaatkan, mendorong pergeseran modal terbesar dalam sejarah ke dalam skema yang dikenal sebagai Investasi ESG.
Agenda “ekonomi berkelanjutan” PBB sedang diwujudkan secara diam-diam oleh bank-bank global yang sama yang telah menciptakan krisis keuangan pada tahun 2008. Kali ini mereka sedang mempersiapkan Great Reset WEF Klaus Schwab dengan mengarahkan ratusan miliar dan segera triliunan investasi ke perusahaan-perusahaan “woke” pilihan mereka, dan menjauhi perusahaan-perusahaan “not woke” seperti perusahaan minyak dan gas atau batubara.
Sejak tahun 2018, BlackRock telah berada di garis depan dalam menciptakan infrastruktur investasi baru yang memilih “pemenang” atau “pecundang” untuk investasi berdasarkan seberapa serius perusahaan tersebut terhadap ESG, —Environment, Social values and Governance (Lingkungan, nilai-nilai sosial, dan tata kelola)
Sebagai contoh, sebuah perusahaan mendapatkan peringkat positif atas keseriusannya dalam merekrut manajemen dan karyawan yang beragam gender, atau mengambil langkah-langkah untuk menghilangkan “jejak” karbon mereka dengan menjadikan sumber energi mereka ramah lingkungan atau berkelanjutan, menggunakan istilah PBB.
Bagaimana korporasi berkontribusi pada tata kelola berkelanjutan global adalah aspek ESG yang paling kabur, dan dapat mencakup apa saja, mulai dari donasi perusahaan untuk Black Lives Matter hingga mendukung badan-badan PBB seperti WHO.
Perusahaan minyak seperti ExxonMobil atau perusahaan batubara, betapapun jelasnya, akan hancur karena Fink dan teman-temannya sekarang mempromosikan “Great Reset” keuangan atau “Green New Deal” mereka. Inilah mengapa ia membuat kesepakatan dengan pemerintahan Biden pada tahun 2019.
Ikuti jejak uangnya. Dan kita bisa memperkirakan bahwa New York Times akan mendukung BlackRock saat perusahaan itu menghancurkan struktur keuangan dunia. Sejak 2017, BlackRock telah menjadi pemegang saham terbesar surat kabar tersebut. Carlos Slim adalah pemegang saham terbesar kedua. Bahkan Carl Icahn, seorang penjarah aset Wall Street yang kejam, pernah menyebut BlackRock sebagai, “perusahaan yang sangat berbahaya… Saya biasa mengatakan, Anda tahu, mafia memiliki kode etik yang lebih baik daripada kalian.”
———-
*Penulis F. William Engdahl adalah konsultan risiko strategis dan dosen, beliau memegang gelar di bidang politik dari Universitas Princeton dan merupakan penulis buku terlaris tentang minyak dan geopolitik, khusus untuk majalah daring “New Eastern Outlook” tempat artikel ini awalnya diterbitkan. Dia adalah Asisten Peneliti di Pusat Penelitian tentang Globalisasi.
Artikel ini diterjemahkan oleh bergelora.com dari artikel berjudul “Colossal Financial Pyramid: BlackRock and The WEF “Great Reset” yang dimuat di Global Research, yang pertama kali diterbitkan pada 20 Juni 2021

